Teknologi

OPPO Libatkan Indonesia dalam R&D: Dari Kampus Dongguan ke Produk Global

Bagikan:

Dongguan, China. OPPO memperluas proses inovasinya dengan melibatkan pasar seperti Indonesia sejak tahap R&D. Pengumuman itu disampaikan oleh Wakil Presiden Liu Chang saat Asia-Pacific Media Forum di Dongguan, dengan tujuan agar kebutuhan lokal menjadi bagian dari desain produk sejak awal.

Kampus R&D sebagai pusat inovasi

Di pusat strategi ini terletak kampus R&D OPPO di Binhaiwan Park, yang diibaratkan sebagai playground for engineers. Perusahaan membangun ratusan laboratorium untuk mendorong eksperimen dan konversi ide ke teknologi yang dapat diproduksi massal.

Menurut Liu, sekitar 500 laboratorium lanjutan telah dibangun di kampus tersebut, dan investasi untuk satu gedung laboratorium besar bisa melebihi RMB 3 miliar (sekitar $447 juta).

“Across the campus, we have built around 500 advanced laboratories. Investment in a single major laboratory building can exceed RMB 3 billion ($447 million),”

Data bisnis dan jangkauan global

OPPO mengoperasikan sembilan pusat manufaktur di berbagai negara, termasuk Indonesia, Bangladesh, Turki, Pakistan, Brasil, dan Mesir. Perusahaan mempekerjakan sekitar 40.000 orang dan memiliki kapasitas produksi bulanan lebih dari 14 juta perangkat.

Perusahaan juga mencatat lebih dari 122.000 aplikasi paten secara global dan mengklaim sekitar 760 juta pengguna di lebih dari 90 negara, dengan 60% produk dikapalkan ke pasar luar negeri.

Indonesia masuk ke dalam persamaan R&D

OPPO mendorong agar tantangan lokal—seperti kondisi transportasi dan lingkungan bangunan di Indonesia—jadi bagian dari definisi produk sejak awal. Pendekatan ini memindahkan fokus R&D dari sekadar adaptasi pasca-desain menjadi co-creation bersama pasar lokal.

“We don't see ourselves simply as a product provider. We want to be a co-builder of the Asia-Pacific innovation ecosystem.”

Dari laboratorium ke produksi massal

Contoh konkret dari kampus Dongguan adalah pengembangan telephoto smartphone dengan 10x optical zoom terintegrasi. Tim OPPO menata ulang arsitektur optik dan mekanik untuk mengatasi masalah ruang, sensor besar, dan stabilisasi gambar, lalu mengulang desain bersama pemasok hingga siap diproduksi skala besar.

Liu menekankan bahwa perbedaan antara eksperimen laboratorium dan inovasi komersial adalah kemampuan untuk diproduksi.

Kolaborasi lebih awal dengan pemasok

OPPO kini bekerja sama dengan pemasok pada tahap awal untuk mengembangkan komponen seperti material emisi RGB dan desain panel layar. Pendekatan ini bertujuan mendefinisikan bagaimana layar memancarkan cahaya dan mereproduksi warna sebelum produk jadi dibuat.

Teknologi kolaboratif ini diperkenalkan pada seri Find X9, dengan klaim performa tampilan lebih ramah mata pada tingkat kecerahan serendah 1 nit.

Mengurangi lipatan pada perangkat lipat

Untuk smartphone lipat, OPPO bersama pemasok merancang ulang engsel dan mempelopori proses chip-level polymer 3D-printing. Hasilnya menghasilkan variasi permukaan layar sekitar 0,1 milimeter, sehingga lekukan hampir tak terlihat saat digunakan.

Langkah-langkah ini menunjukkan strategi OPPO: membawa kebutuhan pasar regional ke pusat keputusan teknis dan manufaktur, sehingga inovasi berasal dari gabungan laboratorium, pemasok, dan kondisi riil pengguna.

Naufal Hakim
Penulis
Naufal Hakim

Editor teknologi yang mengulas gadget, kecerdasan buatan, startup, dan inovasi digital.

Berita Terkait