Pengamat: Dinkes Sumut Harus Koordinasi Tangani Korban MBG
MEDAN — Pengamat anggaran dan kebijakan publik Elfenda Ananda mendesak seluruh jenjang pemerintahan, termasuk Dinas Kesehatan Provinsi Sumatera Utara, segera berkoordinasi menangani korban dugaan keracunan dalam Program Makan Bergizi Gratis (MBG). Pernyataan itu disampaikan pada Selasa, 9 September, setelah sejumlah siswa dilaporkan mengalami gangguan kesehatan serius.
Desakan koordinasi Dinkes Sumut
Elfenda menilai meski MBG berjalan sebagai program pusat, pemerintah daerah tidak boleh melepas tanggung jawab saat terjadi kejadian luar biasa yang menimbulkan korban. Ia memandang Dinkes Sumut harus aktif berkoordinasi dengan instansi pusat dan memberikan pendampingan medis serta psikososial kepada korban dan keluarga.
Menurutnya, penanganan berbasis koordinasi penting untuk memastikan langkah medis cepat dan akurat, serta untuk mengumpulkan data yang dapat menjadi dasar investigasi lanjutan.
Langkah darurat dan pertanggungjawaban
Elfenda menekankan pemerintah wajib menerapkan tindakan darurat, bukan semata mengikuti SOP saat kondisi normal. Ia mempertanyakan pula belum adanya pihak yang dimintai pertanggungjawaban hukum meski sudah muncul korban dan kemarahan orang tua murid.
"Negara harus hadir. Jangan sampai kebijakan pusat, tetapi ketika muncul korban justru daerah yang merasa bukan tanggung jawabnya. Dinkes Sumut sebagai sesama aparatur pemerintah tetap harus berkoordinasi dengan pemerintah pusat dan memberikan pendampingan kepada korban,"
"Sudah ada korban, orang tua murid marah, tetapi belum ada tersangka," tambahnya, seraya menegaskan bahwa tidak boleh membebankan kesalahan hanya kepada pelaksana di level bawah.
Ia menegaskan semua pihak sesuai kewenangannya, termasuk pembuat kebijakan, harus bertanggung jawab bila ditemukan kelalaian atau kebijakan berisiko.
Dampak terhadap kepercayaan publik
Elfenda mendesak tindakan yang cepat dan transparan agar hak-hak korban terpenuhi dan kepercayaan masyarakat terhadap program MBG tidak semakin menurun. Tanpa kepastian dan akuntabilitas, potensi kerusakan reputasi program serta kegamangan publik terhadap intervensi gizi sekolah bisa meningkat.
Ia juga meminta rencana komunikasi publik yang jelas dari pemerintah untuk menjelaskan langkah penanganan dan hasil investigasi kepada orang tua, sekolah, dan masyarakat luas.
Implikasi ke depan: Jika tidak ditangani secara terpadu dan transparan, kasus ini dapat memicu penarikan program atau penurunan partisipasi siswa, sehingga tujuan meningkatkan gizi anak melalui MBG terancam terganggu.
Reporter ekonomi yang mengulas pasar, investasi, UMKM, serta kebijakan fiskal dan moneter.
Berita Terkait
Pelaku Perampokan Dokter di Sidikalang Ditangkap Polisi
Pelaku perampokan terhadap dr Nico di Sidikalang ditangkap Polres Dairi; tersangka ditahan dan dijerat UU KU...
Keracunan MBG di Karo: Pengamat Minta Usut Hingga Unsur Kelalaian
Pengamat hukum minta penyelidikan tuntas soal dugaan keracunan massal siswa akibat makanan MBG di Karo; temu...
Medan Perkuat Opsen PKB dan Luncurkan E-Loket untuk Percepatan Digital
Bapenda Medan sosialisasi Opsen PKB dan gelar High Level Meeting TP2DD untuk tingkatkan kepatuhan PKB serta...
Bupati Minta Dana Besar untuk Rehabilitasi Infrastruktur Tapanuli Utara
Bupati Tapanuli Utara mendesak Kementerian PU menambah anggaran untuk mempercepat rehabilitasi jalan kabupat...
Bupati Batubara Serahkan Bantuan untuk 3 Keluarga Korban Kebakaran
Bupati Batubara menyerahkan bantuan bagi tiga keluarga korban kebakaran PT Evyap; setiap keluarga menerima R...
SMAN 1 Binjai Terapkan SPP Beragam, 278 Siswa Digratiskan
SMAN 1 Binjai menerapkan SPP beragam sesuai kemampuan orang tua; 278 siswa digratiskan dan pengutipan SPP di...