Kementerian Ekonomi Kreatif Jajaki Kolaborasi dengan ION Perluas Pasar Digital
Kementerian Ekonomi Kreatif menggelar pembicaraan dengan Indonesia Open Network (ION) di Jakarta pada 20 Agustus 2026 untuk memperluas akses pasar digital bagi pelaku ekonomi kreatif. Kolaborasi diarahkan mempercepat transformasi digital, memanfaatkan AI, serta memperkuat pemasaran dan perdagangan lintas batas.
Ruang lingkup kerja sama
Pertemuan itu membahas integrasi teknologi ION ke dalam ekosistem ekonomi kreatif. Pembahasan mencakup strategi pemasaran digital, mekanisme perdagangan lintas negara, pembiayaan, dan upaya perlindungan kekayaan intelektual bagi kreator.
Fokus teknologi dan dukungan kapasitas
Wakil Menteri Ekonomi Kreatif, Irene Umar, menyatakan bahwa integrasi teknologi menjadi titik penting. Dia menekankan perlunya membangun infrastruktur digital bisnis agar pelaku kreatif dapat bersaing di pasar global.
“Kemitraan ION menjadi momentum penting membuka akses pasar digital lebih luas dan inklusif bagi seluruh kreator Tanah Air. Kerja sama ini diharapkan memperkuat peluang pelaku ekonomi kreatif menjangkau pasar digital secara berkelanjutan,” ujar Irene Umar.
Selain pemanfaatan AI untuk pengembangan produk dan pemasaran, pembahasan meliputi sinergi program strategis yang menyasar pertumbuhan berkelanjutan sektor kreatif. Irene menyoroti pentingnya pelatihan dan peningkatan kapasitas agar pelaku usaha dapat mengadopsi teknologi secara optimal.
“Namun, tantangan terbesarnya adalah membangun kapasitas pelaku usaha agar mampu beradaptasi secara optimal. Sehingga kolaborasi yang adil dan berkelanjutan ini dapat segera diimplementasikan,” tambah Irene.
Data ekonomi kreatif
Berdasarkan data Badan Pusat Statistik yang diolah Kementerian, beberapa indikator kunci sektor ekonomi kreatif pada 2025 sebagai berikut:
| Indikator | Angka |
|---|---|
| Investasi | Rp183,01 triliun |
| Ekspor | 31,94 miliar USD |
| Penyerapan tenaga kerja | 27,40 juta orang (21 subsektor) |
Data menunjukkan sektor ini menyerap tenaga kerja yang mayoritas merupakan generasi muda, sehingga potensi digitalisasi dan peningkatan keterampilan memiliki dampak besar bagi penyerapan kerja dan nilai ekspor.
Tantangan dan langkah ke depan
Meski peluang besar, tantangan utama adalah kesenjangan kapasitas dan akses teknologi di kalangan pelaku usaha. Kemenparekraf mendorong rencana aksi bersama ION yang fokus pada pelatihan, pembiayaan, dan perlindungan kekayaan intelektual.
Langkah konkret yang diusulkan meliputi program pendampingan digital, integrasi solusi AI untuk pemasaran, serta mekanisme pembiayaan yang inklusif. Implementasi kerja sama ini diharapkan meningkatkan daya saing karya kreatif Indonesia di pasar global.
Redaktur Nasional yang fokus meliput isu pemerintahan, hukum, dan perkembangan sosial di Indonesia.
Berita Terkait
Menekraf Apresiasi Pameran SBY Art Community di TIM
Menekraf Teuku Riefky Harsya apresiasi pameran SBY Art Community di TIM (18–30 Agustus 2026) sebagai ruang k...
Perlinsos Digital: Bakom Sebut Pendaftaran Bansos dari 200 Hari Jadi 5 Menit
Bakom: uji coba Perlinsos Digital mempercepat pendaftaran bansos dari 200 hari menjadi sekitar lima menit, d...
Wamentrans Viva Yoga Ajak Bantu Korban Gempa NTT saat HUT RI ke-81
Wamentrans Viva Yoga mengajak semua pihak bantu korban gempa NTT saat perayaan HUT RI ke-81 dan menekankan s...
Kemenko PMK Prioritaskan Pemulihan Pendidikan Pascagempa NTT
Kemenko PMK memprioritaskan pemulihan layanan pendidikan pascagempa NTT, memaksimalkan gudang di Labuan Bajo...
512 Sekolah Terdampak Gempa Flores, Pembelajaran Beralih Daring
Sebanyak 512 sekolah di Flores terdampak gempa 7,7 pada 19 Agustus 2026; pembelajaran beralih daring dan ten...
FEB UIN Jakarta Kejar Akreditasi AACSB Menuju Sekolah Bisnis Global
FEB UIN Jakarta mempercepat persiapan akreditasi AACSB dengan inovasi S3 Perbankan Syariah dan target pening...