Kemenhut-BMKG Intensifkan OMC untuk Atasi Karhutla di Kalbar, Kalteng, Jatim
Kementerian Kehutanan (Kemenhut) bekerja sama dengan Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) mengintensifkan operasi modifikasi cuaca (OMC) untuk menangani kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Kalimantan Barat, Kalimantan Tengah, dan Jawa Timur pada awal September 2026. Langkah ini bertujuan memanfaatkan potensi hujan untuk membantu pemadaman dan mencegah munculnya titik api baru.
Jadwal, wilayah, dan alat yang digunakan
OMC di Jawa Timur dilaksanakan pada 3-9 September 2026 menggunakan pesawat CASA A2104. Di Kalimantan Barat operasi berlangsung 5-14 September 2026, sedangkan di Kalimantan Tengah pada 6-14 September 2026, keduanya memanfaatkan pesawat CASA 212 dengan dukungan logistik dari BNPB.
| Wilayah | Tanggal | Pesawat / Dukungan |
|---|---|---|
| Jawa Timur | 3-9 September 2026 | CASA A2104 |
| Kalimantan Barat | 5-14 September 2026 | CASA 212 + dukungan BNPB |
| Kalimantan Tengah | 6-14 September 2026 | CASA 212 + dukungan BNPB |
Dasar teknis dan sasaran prioritas
Pelaksanaan OMC berlandaskan analisis meteorologi BMKG, termasuk potensi pertumbuhan awan dan pemantauan tinggi muka air tanah. Wilayah sasaran dipilih dengan mempertimbangkan peluang pembentukan hujan sekaligus tingkat kerawanan kebakaran.
Di Jawa Timur, operasi difokuskan membantu pemadaman di area taman nasional dan pegunungan, antara lain Taman Nasional Bromo Tengger Semeru dan Gunung Arjuno. Tujuannya bukan hanya memadamkan api yang ada, tetapi juga mengurangi risiko munculnya titik api baru.
Koordinasi lintas lembaga
Kegiatan OMC didanai melalui anggaran Direktorat Jenderal Penegakan Hukum Kehutanan. Kemenhut menyatakan dukungan lintas lembaga berjalan intensif, melibatkan BMKG, BNPB, TNI Angkatan Udara, dan BPBD.
"Kami berterima kasih atas dukungan BMKG, BNPB, TNI Angkatan Udara, BPBD. Dan seluruh pihak dalam pelaksanaan OMC tersebut,"
"Yang kita lindungi bukan hanya ekosistem di kawasan hutan, tetapi juga masyarakat yang tinggal dan bergantung pada lingkungan sekitarnya. Karena itu, setiap langkah pengendalian diarahkan untuk mengurangi dampak terhadap kesehatan, aktivitas sosial, pendidikan, dan perekonomian masyarakat,"
Menhut dan Kepala BNPB juga memastikan kesiapan pesawat tetap disiagakan hingga 13 September 2026 untuk memaksimalkan pemanfaatan potensi hujan yang terbentuk.
Implikasi dan langkah ke depan
Dengan dukungan antarinstansi, pemerintah berharap OMC dapat memperkuat upaya penanganan karhutla di wilayah rawan dan menekan dampak terhadap masyarakat. Meski demikian, OMC hanya salah satu komponen; pengendalian di lapangan, patroli, serta pencegahan tetap diperlukan untuk mengurangi kejadian berulang.
Ke depan, efektivitas OMC akan bergantung pada akurasi analisis cuaca, koordinasi operasional, dan kesiapan sumber daya di lapangan untuk memanfaatkan setiap peluang hujan yang terbentuk.
Redaktur Nasional yang fokus meliput isu pemerintahan, hukum, dan perkembangan sosial di Indonesia.
Berita Terkait
Kemenko Pangan Uji Model Kedelai di Cariu, Target 100 Ha 2027
Kemenko Pangan uji pilot kedelai di Cariu, Bogor (25 ha) dengan target 100 ha pada 2027 untuk kurangi keterg...
Alumni Connect PPI Dunia Perkuat Jejaring Lewat Sarasehan
Alumni Connect PPI Dunia gelar sarasehan di Jakarta (5 Sep 2026) untuk memperkuat jejaring alumni luar neger...
Bapanas Pastikan Bantuan Pangan Beras Tepat Sasaran
Bapanas pastikan bantuan pangan beras tepat sasaran menggunakan DTSEN, koordinasi dengan Kemensos, dan penya...
Alumni Connect PPI Dunia Jadi Ruang Berbagi dan Kolaborasi
Alumni Connect PPI Dunia di Jakarta mendorong alumni berbagi pengalaman dan berkolaborasi untuk memperluas d...
Wamendikdasmen Dukung PAUD Berbasis Lingkungan di Pangandaran
Wamendikdasmen meresmikan Susi Environmental School di Pangandaran dan mendorong penguatan PAUD berbasis lin...
Kemensos Bekali 600 Mahasiswa UINSA Tingkatkan Mutu Layanan Sosial
Kemensos membekali 600 mahasiswa UINSA pada 4 September 2026 untuk meningkatkan mutu layanan di 81 LKS melal...