Pengamat: Komitmen dan Kebijakan Kunci Kemandirian Energi
Pengamat Energi dari Universitas Indonesia, Iwa Garniwa, menilai komitmen dan konsistensi kebijakan menjadi penentu utama tercapainya kemandirian energi nasional. Pernyataan disampaikan pada 18 Juni 2026 saat wawancara dengan PRO3 RRI, dengan pesan utama bahwa sumber daya alam Indonesia yang melimpah membuka peluang besar jika didukung kebijakan yang tegas dan berkelanjutan.
Alasan pengurangan impor penting
Iwa menekankan bahwa tingginya impor bahan bakar meningkatkan biaya pengadaan dan memberi tekanan pada nilai tukar rupiah. Pengurangan impor dianggap langkah strategis untuk memperkuat ketahanan energi dan stabilitas ekonomi nasional.
"Kita punya sumber daya alam yang mumpuni dan cukup untuk mendukung kemandirian energi nasional,"
— Iwa Garniwa, Pengamat Energi UI
Percepatan B50 dan E20 sebagai prioritas
Menurut Iwa, pemerintah perlu mempercepat implementasi program B50 dan E20 melalui regulasi yang jelas dan berkelanjutan. Regulasi yang konsisten dianggap penting agar program berjalan efektif dan menarik partisipasi pelaku usaha.
"Segera lakukan dan percepat regulasi untuk B50 maupun E20 agar program ini berjalan efektif,"
— Iwa Garniwa
Peran aktor lintas sektor
Iwa menyarankan keterlibatan berbagai pihak untuk membangun ekosistem energi yang kuat. Kolaborasi diperlukan agar kebijakan dapat diimplementasikan hingga hilir.
- Masyarakat
- Petani
- Industri
- Perguruan tinggi
- Pemerintah
Pemanfaatan sawit dan tebu tanpa ganggu pangan
Pengamat itu juga meyakini sebagian produksi sawit dan tebu dapat dialokasikan untuk bahan bakar nabati tanpa mengurangi ketersediaan minyak goreng dan gula. Menurutnya, pengaturan pemanfaatan komoditas tersebut harus dirancang agar kebutuhan pangan tetap terpenuhi.
Edukasi publik dan prospek ke depan
Iwa menggarisbawahi pentingnya edukasi masyarakat tentang potensi krisis energi di tengah ketidakpastian global. Ia mendorong penguatan kolaborasi antara pemerintah, akademisi, industri, dan publik untuk mendukung transisi menuju kemandirian energi.
Dengan dukungan kebijakan yang konsisten, percepatan program campuran bahan bakar, serta keterlibatan lintas sektor, Iwa optimistis peluang mencapai kemandirian energi nasional dapat diwujudkan tanpa mengorbankan stabilitas pangan.
Redaktur Nasional yang fokus meliput isu pemerintahan, hukum, dan perkembangan sosial di Indonesia.
Berita Terkait
Pemerintah Rencanakan Pemangkasan Kuota BBM Subsidi 2027
Pemerintah berencana memangkas kuota BBM subsidi menjadi 20,09 juta kl pada 2027, sambil menaikkan alokasi a...
Mendagri Koordinasi Percepatan Penanganan Dampak Gempa NTT
Mendagri Tito Karnavian terus koordinasi percepatan penanganan gempa NTT, fokus evakuasi, listrik, dan distr...
Mendagri Waspadai Gempa Susulan di NTT, Penanganan Dimulai di Pelabuhan
Mendagri Tito Karnavian mengingatkan potensi gempa susulan di NTT; Kementerian PU akan asesmen kerusakan di...
Seskab: 253 Ton Bantuan Logistik Telah Dikirim ke NTT
Seskab Teddy menyatakan pemerintah telah mengirimkan 253 ton bantuan logistik ke NTT; lima pesawat berangkat...
BMKG: 2.768 Gempa Susulan Guncang Flores Setelah M7,7
BMKG mencatat 2.768 gempa susulan setelah gempa M7,7 di Flores hingga 19 Agustus 2026; terbesar M6,2, 81 kej...
KPK: Korupsi Tak Selalu Berbentuk Uang, Bisa Lewat Kebijakan
KPK mengingatkan korupsi tak selalu berbentuk uang; kebijakan yang dimanipulasi bisa merugikan publik dan li...