Kelangkaan LPG 3 kg di Labuhanbatu Utara, Harga Melonjak
Kelangkaan parah gas LPG 3 kg melanda wilayah Aek Kanopan dan Kecamatan Kualuh Selatan, Kabupaten Labuhanbatu Utara sejak beberapa hari terakhir, Selasa (2/6). Kondisi ini memaksa banyak ibu rumah tangga kembali menggunakan kayu bakar karena stok subsidi di pangkalan resmi kosong.
Dampak langsung ke rumah tangga
Warga melaporkan persediaan tabung subsidi kosong di pangkalan. Akibatnya, pengecer menjual kembali tabung dengan harga jauh di atas ketentuan. Peralihan ke kayu bakar menjadi solusi darurat bagi keluarga yang tidak menemukan LPG.
Diduga praktik penyelewengan distribusi
Berdasarkan informasi di lapangan, agen penyalur melepas tabung subsidi ke pedagang eceran dengan harga mencapai Rp20.000 per tabung. Harga itu melampaui Harga Eceran Tertinggi (HET) resmi pangkalan di Sumatera Utara, yaitu Rp17.000.
Karena modal pangkalan sudah dibebankan lebih tinggi, pengecer pun otomatis menjual lebih mahal kepada konsumen akhir. Warga menduga praktik distribusi di tingkat bawah memperparah kelangkaan dan kenaikan harga.
Kinerja DPRD dipertanyakan
Masyarakat menilai fungsi pengawasan Dewan Perwakilan Rakyat Daerah Kabupaten Labuhanbatu Utara belum optimal. Elemen warga menilai wakil rakyat cenderung pasif dan kurang responsif terhadap keresahan konstituen.
Warga mendesak DPRD segera memanggil Dinas Perdagangan dan agen penyalur untuk menggelar Rapat Dengar Pendapat (RDP) serta menekan pemerintah daerah melakukan pengawasan ketat di lapangan.
Tuntutan warga dan langkah yang diharapkan
Masyarakat menuntut tindakan cepat dari lembaga terkait. Permintaan utama meliputi pengawasan distribusi, pemanggilan agen, dan operasi pasar untuk menstabilkan pasokan dan harga.
- Memanggil Dinas Perdagangan dan agen penyalur untuk klarifikasi
- Melakukan operasi pasar murah untuk menambah pasokan
- Menegakkan HET dan menindak penyelewengan distribusi
Respons pejabat
Ketua DPRD Kabupaten Labuhanbatu Utara, Rimba Bertuah Sitorus, dikonfirmasi terkait keluhan warga, namun belum memberikan jawaban. Pesan yang dikirim melalui aplikasi pesan menunjukkan centang satu, sehingga diduga nomor yang dihubungi tidak aktif.
Kelangkaan ini menempatkan masyarakat pada pilihan sulit antara membayar harga tinggi atau kembali ke metode memasak tradisional. Warga berharap tindakan cepat dari pemerintah daerah untuk mengatasi gangguan pasokan dan mengembalikan harga sesuai ketentuan.
Redaktur Nasional yang fokus meliput isu pemerintahan, hukum, dan perkembangan sosial di Indonesia.
Berita Terkait
Warga Aceh Tenggara Mendesak Perbaikan Jembatan Mbarung dan Natam
Puluhan ribu warga Aceh Tenggara mendesak prioritas perbaikan jembatan Mbarung dan Natam agar akses utama em...
Kecelakaan Beruntun di Perbaungan, Sopir Angkot Tewas
Kecelakaan beruntun di Perbaungan menewaskan sopir angkot KUPM dan melukai sembilan orang; polisi amankan ba...
Kabut Asap: Kualitas Udara Medan Masuk Kategori Tidak Sehat
BMKG: kualitas udara Medan masuk kategori tidak sehat; Dinkes Sumut imbau warga kurangi aktivitas luar dan l...
Kabut Asap Selimuti Rantauprapat, BMKG: PM2.5 Masuk Kategori Sedang
BMKG Sumut: kabut asap meluas di Rantauprapat; visibilitas turun 1–4 km dan PM2.5 berkategori sedang–tidak s...
Polda Sumut Periksa Penyidik Usai Praperadilan Dhody Thahir
Polda Sumut akan periksa penyidik Dit Reskrimum setelah PN Medan menyatakan penetapan tersangka Dhody Thahir...
PN Medan vonis 4 terdakwa sabu 1 kg, Pikram dipidana 20 tahun
PN Medan vonis empat terdakwa kasus sabu 1 kg; Pikram dihukum 20 tahun, tiga lainnya 15 tahun dengan denda R...