Kelangkaan BBM di Sumut, LAPK: Evaluasi Tata Kelola Segera
Medan — Sekretaris Lembaga Advokasi Konsumen (LAPK), Muhammad Zein Azhary Wajdi Lubis SH M.Kn, menilai kelangkaan bahan bakar minyak (BBM) yang kembali terjadi di berbagai wilayah Sumatera Utara tidak bisa lagi dipandang sebagai gangguan sementara. Antrean panjang di sejumlah SPBU, yang sampai meluber ke badan jalan, terjadi dalam waktu singkat dan menimbulkan gangguan lalu lintas serta risiko keselamatan.
Antrean panjang dan dampak langsung
Antrean panjang di SPBU menyebabkan kemacetan, meningkatnya risiko kecelakaan, serta menurunnya produktivitas masyarakat. Gangguan distribusi ini juga berdampak pada angkutan umum, logistik, pelaku UMKM, nelayan, dan petani.
Menurut Zein, akibatnya biaya operasional meningkat dan roda perekonomian daerah melambat. Kelangkaan BBM kini bukan sekadar persoalan energi, melainkan persoalan pelayanan publik yang menyentuh kehidupan sehari-hari.
Respons publik dan kebutuhan informasi cepat
Kelangkaan ini menjadi perbincangan luas di media sosial. Foto dan video antrean di berbagai SPBU ramai beredar, namun respons dari pihak terkait dinilai belum cepat dan transparan.
Ironisnya, kondisi ini bukan pertama kali terjadi. Sebulan lalu masyarakat masih menghadapi kelangkaan solar, kini persoalan serupa kembali muncul pada jenis BBM lainnya,
Zein menekankan bahwa lambatnya komunikasi publik memberi ruang bagi spekulasi dan informasi tak terverifikasi, sehingga keresahan publik semakin luas.
Permintaan evaluasi menyeluruh
LAPK mendesak Pertamina Patra Niaga Regional Sumbagut bersama pemerintah melakukan evaluasi menyeluruh terhadap tata kelola distribusi BBM di Sumatera Utara. Evaluasi wajib mencakup pasokan, pengawasan, koordinasi antarlembaga, mitigasi risiko, dan pola komunikasi saat gangguan terjadi.
Rangkaian peristiwa yang berulang menunjukkan solusi saat ini belum menyentuh akar masalah, sehingga pembenahan harus dilakukan secara sistemik, bukan reaktif.
Akuntabilitas pejabat dan konsekuensi
Zein juga menyoroti pentingnya akuntabilitas pejabat yang bertanggung jawab. Jika dalam waktu wajar tidak ada perbaikan nyata, pejabat yang gagal menjalankan tugas harus dievaluasi.
Apabila dalam waktu yang wajar tidak terdapat perbaikan yang nyata dan kelangkaan BBM masih terus berulang, maka pejabat yang bertanggung jawab patut dievaluasi secara menyeluruh,
Menurutnya, mengundurkan diri dapat menjadi bentuk tanggung jawab moral jika terbukti tidak mampu mengatasi persoalan tersebut.
Penanganan kelangkaan BBM menjadi ujian bagi keberlanjutan pelayanan publik. Negara dan pelaksana distribusi dituntut memastikan kebutuhan strategis tersedia secara layak, merata, dan berkelanjutan agar gangguan serupa tidak terus mengganggu mobilitas dan stabilitas ekonomi daerah.
Reporter ekonomi yang mengulas pasar, investasi, UMKM, serta kebijakan fiskal dan moneter.
Berita Terkait
Bupati Asahan Lepas Tim Sepakbola Guru ke Piala Gubsu
Bupati Asahan melepas tim sepakbola beranggotakan guru sebanyak 21 pemain untuk berlaga di Piala Gubernur Su...
Sergai FC Menang 4-3 atas Senayan FC di Laga Persahabatan
Sergai FC, diperkuat Wabup Adlin Tambunan, menekuk Senayan FC 4-3 dalam laga persahabatan Jumat sore di lapa...
Duta GenRe Sumut 2026 Dipilih, 34 Finalis Siap Beraksi
Grand Final Duta GenRe Sumut 2026 memilih 34 finalis dari 250 pendaftar untuk bersaing menjadi 12 duta yang...
Duta GenRe Sumut 2026 Terpilih, Siap Perkuat Peran Remaja
Grand Final Duta GenRe Sumut 2026 pilih 12 pemenang dari 34 finalis; targetnya memperkuat peran remaja dalam...
Peserta Sarasehan di Medan Tekankan Peran MPR RI dalam Menjaga Konstitusi
Peserta sarasehan di Medan mendesak penguatan pemahaman peran MPR RI untuk meningkatkan kesadaran konstitusi...
Rico Waas Resmi Sandang Merga Ginting Suka, Janji Pelihara Budaya Karo
Wali Kota Medan Rico Waas disahkan sebagai Merga Ginting Suka pada 7 November; ia berjanji merawat budaya Ka...