Ansari: Usut Tuntas Kasus Kekerasan Seksual Anak di Madura
Pamekasan — Anggota Fraksi PDI Perjuangan DPR RI Hj. Ansari meminta proses hukum yang tegas dan berkelanjutan atas kasus kekerasan seksual anak yang terjadi di Kabupaten Sampang. Pernyataan itu disampaikan pada Jumat, 10 Juli 2026, menyusul penetapan 27 tersangka oleh Polres Sampang, di mana 12 orang telah diamankan dan 15 lainnya masih dalam pengejaran.
Status penyidikan dan pengejaran
Polres Sampang telah menetapkan 27 tersangka terkait rangkaian kasus yang mengguncang Madura. Sampai saat ini, polisi menangkap 12 orang pelaku, sementara 15 tersangka lain masih diburu. Menurut Ansari, intensifikasi pengejaran terus dilakukan agar semua pelaku dapat segera diproses hukum.
Desakan penegakan hukum tanpa kompromi
Ansari mengapresiasi langkah cepat aparat kepolisian, namun menegaskan bahwa pekerjaan belum selesai. Ia mendesak agar penanganan tidak terputus dan harus dikawal sampai putusan hukum berlaku.
"Langkah kepolisian adalah bukti kehadiran negara. Namun, penanganannya tidak boleh terputus. Harus dikawal sampai tuntas agar pelaku mendapatkan hukuman setimpal dan memberikan efek jera yang nyata,"
Anggota Komisi VIII itu juga menekankan bahwa dasar hukum, yakni UU Perlindungan Anak, harus menjadi instrumen utama aparat dalam menindak para pelaku tanpa kompromi.
Fokus pemulihan korban dan peran pemerintah daerah
Selain penegakan hukum, Ansari meminta perhatian penuh pada aspek pemulihan korban. Ia menegaskan negara dan pemerintah daerah berkewajiban memastikan hak-hak korban terpenuhi.
Ia merinci langkah-langkah pemulihan yang harus disediakan, antara lain:
- Pendampingan psikologis untuk pemulihan trauma.
- Rehabilitasi sosial untuk reintegrasi korban ke lingkungan.
- Jaminan keberlanjutan pendidikan agar masa depan anak terlindungi.
Ansari juga mendesak pendekatan yang lebih proaktif dari pemerintah daerah di Madura. Menurutnya, sistem perlindungan anak harus berbasis komunitas dan dimulai dari unit terkecil, yaitu keluarga.
"Peran keluarga, lingkungan, serta institusi pendidikan dan keagamaan harus diperkuat. Kita harus membangun mekanisme pelaporan yang mudah diakses dan responsif. Perlindungan anak adalah tanggung jawab kolektif; tidak boleh ada ruang bagi predator anak di Madura,”
Langkah ke depan
Polres Sampang terus mengintensifkan pengejaran terhadap 15 tersangka yang masih melarikan diri. Sementara itu, desakan untuk pengawalan proses hukum dan penyediaan layanan pemulihan bagi korban akan menjadi sorotan publik dan parlemen hingga perkara ini tuntas di pengadilan.
Jurnalis politik dengan fokus pada dinamika partai, kebijakan publik, dan agenda pemerintahan.
Berita Terkait
Surabaya Salurkan Bantuan Pendidikan untuk 7.380 Siswa
Pemkot Surabaya salurkan bantuan pendidikan dan seragam bagi 7.380 siswa desil 1–5, plus bantuan Rp350 ribu/...
Lumajang Perkuat Sinergi dengan FKUB untuk Moderasi Beragama
Pemkab Lumajang dan FKUB memperkuat kerja sama untuk jaga kerukunan, gelar Kemah Moderasi Beragama, dan cega...
PDI Perjuangan Blitar Gelar Dapur Umum Gotong Royong Setiap Tanggal 10
DPC PDI Perjuangan Kota Blitar rutin menggelar Dapur Umum Gotong Royong setiap tanggal 10 untuk memperkuat k...
DPRD Malang Desak Pembaruan Data Bansos dan Verifikasi Lapangan
Ketua Komisi D DPRD Malang minta pembaruan data bansos dan verifikasi lapangan usai reses di Polehan, agar b...
DPRD Madiun Pertanyakan SiLPA Rp154,79 Miliar di Tengah Efisiensi
Fraksi PDI Perjuangan DPRD Madiun minta penjelasan kenaikan SiLPA APBD 2025 Rp154,79 miliar di tengah kebija...
Megawati Terima Grande Colar, Tegaskan Simbol Persahabatan RI-Timor-Leste
Megawati menerima Grande Colar di Dili (9 Juli 2026) dan menyebut penghargaan itu simbol persahabatan yang h...