Lokal

MA Tolak Kasasi, Peredaran Sabu 89,6 kg dari Aceh Inkrah

Bagikan:
Ilustrasi barang bukti narkotika dan proses persidangan kasus peredaran sabu 89,6 kg

Medan — Mahkamah Agung (MA) pada Rabu (2/9) menolak permohonan kasasi dua terdakwa kasus peredaran narkotika jenis sabu seberat 89,6 kilogram asal Aceh. MA juga menolak kasasi yang diajukan Jaksa Penuntut Umum dari Kejaksaan Negeri Medan, sehingga putusan menjadi berkekuatan hukum tetap.

Putusan MA dan hukuman

Dengan ditolaknya kasasi, salah satu terdakwa, Yafizham alias Tengku Hafiz, tetap menjalani hukuman penjara seumur hidup. Terdakwa lain, Zulfikar, dipastikan menjalani hukuman 20 tahun penjara dan denda Rp1,2 miliar subsider tiga bulan penjara.

“Mengadili, menolak permohonan kasasi dari pemohon kasasi I/JPU pada Kejari Medan tersebut dan pemohon kasasi II/para terdakwa,”

ucap Ketua Majelis Hakim Kasasi, Yohanes Priyana, dalam amar putusan.

Peran terdakwa dan dasar putusan

Pengadilan menyatakan kedua terdakwa terbukti melakukan tindak pidana narkotika sesuai dakwaan primer, yaitu Pasal 114 ayat (2) juncto Pasal 132 ayat (1) Undang-Undang Nomor 35 Tahun 2009 tentang Narkotika. Putusan MA menguatkan keputusan Pengadilan Tinggi Medan dan Majelis Hakim Pengadilan Negeri Medan sebelumnya.

Kronologi penangkapan

Kasus bermula saat Badan Narkotika Nasional (BNN) menerima informasi tentang sebuah mobil BMW yang diduga membawa sabu dari Aceh menuju Pelabuhan Belawan pada Selasa (18/2/2025) sekitar pukul 12.30 WIB. Petugas melakukan penyelidikan dan membuntuti kendaraan sampai wilayah Kota Medan.

  • Sekitar pukul 18.00 WIB, petugas melihat BMW dikemudikan Yafizham berhenti di Jalan Asrama, Medan Helvetia; petugas menangkap pengemudi dan menggeledah kendaraan.
  • Dari bagasi BMW ditemukan 30 bungkus sabu dengan berat 29,8 kilogram.
  • Berdasarkan pengakuan awal, ditemukan mobil Mercedes-Benz yang membawa 60 bungkus sabu seberat 59,8 kilogram setelah pengembangan.

Total barang bukti yang disita dari dua kendaraan tersebut mencapai 89,6 kilogram sabu.

Pengakuan dan jaringan

Dalam pemeriksaan, Yafizham mengaku menjadi kurir sejak 2023. Ia menyebut memperoleh barang dari seseorang bernama Munzir Sulaiman, yang kini masuk daftar pencarian orang (DPO). Yafizham juga mengakui menerima upah hingga sekitar Rp1 miliar dari kegiatan itu.

Putusan MA menutup upaya hukum tingkat kasasi dan memastikan kedua terdakwa menjalani hukuman sesuai amar hakim, sekaligus menegaskan konsekuensi hukum bagi pelaku peredaran narkotika dalam skala besar.

Andika Nugraha
Penulis
Andika Nugraha

Redaktur Nasional yang fokus meliput isu pemerintahan, hukum, dan perkembangan sosial di Indonesia.

Berita Terkait