KAI Sumsel Layani 2,3 Juta Penumpang dan 11,66 Juta Ton Barang
Kereta Api Indonesia (KAI) di Sumatera Selatan melayani 2.315.580 penumpang dan mengangkut 11,66 juta ton barang pada periode Januari–Mei 2026. Pencapaian ini diumumkan perusahaan pada Senin, 15 Juni 2026, sebagai bagian dari upaya memperkuat konektivitas dan mendukung arahan strategis Presiden RI.
Capaian operasional Januari–Mei 2026
KAI mencatat jumlah pelanggan total mencapai 2.315.580 orang selama lima bulan pertama 2026. Rinciannya, kereta penumpang Divisi Regional (Divre) III Palembang mengangkut 500.563 orang, sedangkan Light Rail Transit (LRT) Sumsel melayani 1.815.017 penumpang.
Sisi kargo, perusahaan mengangkut 11,66 juta ton berbagai komoditas. Angkutan barang ini menjadi tulang punggung distribusi komoditas regional dan mendukung stabilitas pasokan.
Sejarah jalur dan peran strategis
Jaringan rel di selatan Sumatera dibangun sejak era kolonial. Pembangunan dimulai sekitar 1914 oleh Zuid-Sumatra Staatsspoorwegen. Pada 1 November 1915 dibuka jalur Kertapati–Prabumulih sepanjang 78 kilometer, yang kemudian berkembang menjadi pintu gerbang ekonomi regional.
Selanjutnya, jalur Prabumulih–Gunung Megang beroperasi pada 1916 dan kemudian berkembang hingga Muara Enim dan Tanjung Enim. Perluasan berlanjut hingga Lahat dan mencapai Lubuklinggau pada 1933, melewati Tebing Tinggi dan Muara Saling untuk mempermudah distribusi logistik.
Setelah kemerdekaan, pengelolaan aset beralih ke Djawatan Kereta Api (DKA). Sejak itu, infrastruktur rel terus berfungsi untuk memperlancar mobilitas antardaerah di Sumatera bagian selatan.
Rute penumpang dan layanan LRT
KAI melayani rute penumpang seperti KA Sindang Marga dan KA Bukit Serelo dengan relasi Kertapati–Lubuklinggau pulang-pergi. Selain itu, KA Rajabasa melayani rute Kertapati–Tanjungkarang secara rutin. LRT Sumsel juga berkontribusi signifikan terhadap mobilitas perkotaan, termasuk akses ke Bandara Sultan Mahmud Badaruddin II.
Komoditas angkutan dan dampak ekonomi
Komoditas utama yang diangkut antara lain batu bara, Bahan Bakar Minyak (BBM), dan bahan pulp. Pengangkutan massal komoditas ini membantu efisiensi logistik, menjaga pasokan, dan mengendalikan harga bagi konsumen dan pelaku usaha lokal.
Kata pimpinan dan prospek
"Rel di Sumatera Selatan memiliki sejarah panjang sebagai penghubung masyarakat dan ekonomi daerah. Dengan kapasitas besar dan jaringan yang terhubung ke simpul produksi, kereta api membantu logistik lebih efisien, menjaga pasokan, serta mendukung harga yang lebih terkendali,"
— Vice President Corporate Communication KAI Anne Purba.
"Dengan sejarah yang kuat dan kebutuhan mobilitas yang terus tumbuh, rel di Sumatera Selatan menjadi bagian penting dalam menghubungkan masyarakat, kawasan ekonomi, pusat layanan, dan simpul transportasi utama,"
— Executive Vice President Corporate Secretary KAI Wisnu Pramudya.
Data operasional ini menunjukkan peran krusial jaringan kereta dalam menjaga konektivitas dan mendukung pertumbuhan ekonomi regional. KAI menyatakan komitmen untuk terus memperkuat layanan penumpang dan angkutan barang di Sumatera Selatan.
Berita Terkait
Rupiah Menguat 151 Poin di Tengah Harapan Perdamaian AS-Iran
Rupiah menguat 151 poin menjadi Rp17.708 pada 15 Juni 2026, didorong harapan perdamaian AS-Iran dan ekspekta...
Komisi VII Minta BSN Perkuat Daya Saing UMKM
Komisi VII mendesak BSN alihkan anggaran ke program yang langsung memperkuat kualitas dan daya saing UMKM ag...
Jakarta Fair 2026 Perkuat Pasar dan Peluang UMKM
Jakarta Fair Kemayoran 2026 dibuka 11 Juni; jadi peluang utama memperluas pasar dan jaringan bagi UMKM denga...
Menteri UMKM Bidik Transaksi Rp8 Triliun di Jakarta Fair 2026
Menteri UMKM targetkan transaksi Rp8 triliun pada Jakarta Fair 2026 di JIExpo Kemayoran, fokus dorong penjua...
Singapura Tetap Jadi Sumber PMA Terbesar, Realisasi Investasi Q1 2026 Rp498,8T
Rosan Roeslani menyebut Singapura tetap sumber PMA terbesar; realisasi investasi Q1 2026 capai Rp498,8 trili...
Utang Luar Negeri Indonesia April 2026 Naik 1,9% ke USD439,8 miliar
ULN Indonesia April 2026 mencapai USD 439,8 miliar, tumbuh 1,9% akibat peningkatan ULN pemerintah meski ULN...