PU Percepat Jaringan Irigasi Air Tanah untuk Atasi Kekeringan di NTT
Kementerian Pekerjaan Umum memperkuat ketahanan pangan di Nusa Tenggara Timur melalui pembangunan Jaringan Irigasi Air Tanah (JIAT). Proyek diarahkan untuk mengatasi ancaman kekeringan akibat fenomena El Nino dengan menyediakan pasokan air irigasi berkelanjutan.
Detail pembangunan dan spesifikasi
Pembangunan sumur JIAT dilaksanakan sejak September hingga Desember 2025 sebagai bagian dari Program Instruksi Presiden di NTT. Salah satu lokasi yang sudah beroperasi berada di Kelurahan Batuplat, Kecamatan Alak, Kota Kupang.
| Komponen | Spesifikasi |
|---|---|
| Debit air | 8 liter per detik |
| Kedalaman sumur | 57 meter |
| Luas lahan terlayani | Sekitar 9 hektare |
| Panjang pipa | 1.000 meter |
| Reservoir | 50 meter kubik |
| Fasilitas tambahan | 13 box bagi dan panel surya sebagai cadangan listrik |
Tujuan penggunaan dan tata kelola air
Menteri Pekerjaan Umum Dody Hanggodo menyatakan pemanfaatan air tanah harus dilakukan secara berkelanjutan untuk menjaga produktivitas pertanian di daerah rawan kekeringan. Ia menekankan percepatan pembangunan jaringan irigasi tersier agar distribusi air lebih efisien dan menjangkau lebih banyak sawah.
"Air ini harus kita hemat dan kelola dengan baik. Saya minta agar jaringan tersier segera dibangun, sehingga air tidak terbuang dan bisa menjangkau lebih banyak sawah secara efisien,"
Kepala Satuan Kerja NVT Air Tanah dan Air Baku BBWS Nusa Tenggara II, Djoniur Doga, menjelaskan lokasi dipilih berdasarkan usulan pemerintah daerah dan dukungan masyarakat setempat. Ia juga menyebut JIAT dilengkapi fasilitas air bersih untuk kebutuhan petani saat beraktivitas di lahan.
"Puji Tuhan kami memperoleh debit air sekitar 8 liter per detik dari kedalaman sumur 57 meter. Dukungan masyarakat juga sangat besar, bahkan warga menghibahkan lahan untuk pemasangan panel surya dan rumah pompa sehingga pekerjaan berjalan,"
Efisiensi penggunaan dan pendampingan
Djoniur menilai efisiensi penggunaan air menjadi tantangan utama berikutnya. Ia menyarankan pendampingan teknis kepada petani supaya pemanfaatan air berlangsung hemat dan sesuai kebutuhan tanaman.
"Tanaman sebenarnya tidak membutuhkan air berlebihan, yang terpenting bagaimana air digunakan secara hemat dan tepat sesuai kebutuhan tanaman. Karena itu kami berharap ada pendampingan dari sektor pertanian agar pemanfaatan JIAT semakin optimal,"
Dampak bagi petani
Sebelum ada JIAT, petani di Kelurahan Batuplat hanya mengandalkan sumur gali dangkal. Pasokan air terbatas membuat mereka biasanya hanya panen sekali setahun.
"Dulu kami gali sumur sekitar delapan meter, airnya diambil pakai ember sedikit demi sedikit untuk menyiram tanaman. Kalau musim kemarau, air sangat terbatas sehingga kami hanya bisa panen satu kali dalam setahun,"
Dengan pasokan JIAT yang lebih stabil, petani kini bisa mengairi lahan sepanjang musim kemarau dan meningkatkan frekuensi tanam menjadi dua kali per tahun. Warga menyampaikan terima kasih kepada pemerintah pusat dan instansi terkait atas fasilitas tersebut.
"Sekarang kami sangat bersyukur karena sudah ada air dari JIAT. Walaupun musim kering, kami tetap bisa menanam dan panen dua kali dalam setahun,"
Jangkauan program dan rencana ke depan
Hingga kini BBWS Nusa Tenggara II mencatat lebih dari 300 titik JIAT dan sekitar 1.600 infrastruktur air tanah dan air baku di wilayah NTT. Untuk 2026, Kementerian PU menyiapkan pembangunan empat titik JIAT tambahan, dua di Kota Kupang dan dua di Kabupaten Malaka.
Langkah ini diharapkan memperkuat ketahanan pangan regional dan mengurangi kerentanan produksi pertanian terhadap musim kering akibat El Nino.
Reporter ekonomi yang mengulas pasar, investasi, UMKM, serta kebijakan fiskal dan moneter.
Berita Terkait
Ekspor Industri Pengolahan Jan–Agu 2026 Tembus USD159,55 Miliar
Ekspor industri pengolahan Januari–Agustus 2026 mencapai USD159,55 miliar (Rp2.855,48 triliun), tumbuh 7,87%...
OJK Minta Perbankan Perkuat IT, Kebijakan Dividen Disesuaikan
OJK minta bank perkuat keamanan IT; dividend payout akan disesuaikan agar bank punya ruang investasi teknolo...
OJK Luncurkan Roadmap Perbankan 2026-2030, Lima Prioritas Utama
OJK meluncurkan RP3I 2026–2030 di Bali untuk memperkuat perbankan dengan lima prioritas, empat enabler, dan...
APBN 2027: Target Pertumbuhan 6% Jadi Tantangan Utama
Target 6% pada APBN 2027 jadi tantangan; investasi harus tumbuh 10-12% untuk mendorong ekonomi, kata Kepala...
Ekspor Manufaktur Agustus 2026 Tumbuh 12,48%, Topang Surplus
Manufaktur naik 12,48% pada Agustus 2026, dorong ekspor USD26,61 miliar dan neraca perdagangan surplus USD3,...
Briket Kayu Indonesia Dilirik Buyer Spanyol untuk Restoran Profesional
Calon buyer Spanyol menunjukkan minat pada briket serbuk kayu heksagonal Indonesia untuk restoran profesiona...