Politik

Jamasan Puluhan Pusaka Jelang HUT ke-832 Trenggalek

Bagikan:
Prosesi jamasan pusaka menjelang Hari Jadi Trenggalek di Pendapa Manggala Praja Nugraha

Jelang Hari Jadi ke-832 Kabupaten Trenggalek, puluhan pusaka dijamasi untuk memaknai nilai kepemimpinan dan pelestarian budaya.

TRENGGALEK — Puluhan pusaka dibersihkan dalam prosesi jamasan di Pendapa Manggala Praja Nugraha, kompleks rumah dinas bupati, Sabtu (29/8/2026). Kegiatan dua hari menjelang Hari Jadi ke-832 itu bukan sekadar ritual kebersihan, melainkan juga momen menghidupkan pesan-pesan kepemimpinan dan pelestarian budaya leluhur.

Prosesi jamasan dan suasana ritual

Prosesi jamasan berlangsung sakral dan dipimpin tokoh spiritual. Bupati Mochamad Nur Arifin dan Ketua DPRD Doding Rahmadi ikut membersihkan sejumlah pusaka yang diwariskan turun-temurun. Harum kemenyan dan bunga mengiringi prosesi di beberapa titik di kompleks pendapa.

“Ritual ini sudah menjadi tradisi. Harapannya, di usia yang ke-832 Trenggalek tetap ngayomi dan warganya semakin sejahtera,”

Daftar pusaka yang dijamasi

Pusaka yang dibersihkan berasal dari koleksi pribadi hingga pemberian tokoh penting. Beberapa pusaka memiliki kaitan historis dan simbolik bagi kabupaten.

  • Songsong Ayomsih (pemberian Sri Sultan HB X)
  • Tombak Kyai Wignyomurti (pemberian Sri Sultan HB X)
  • Tombak Biring Sakembaran
  • Dua Tombak Korowelang Sakembaran
  • Songsong Tunggul Nogo
  • Songsong Tunggul Praja
  • Parasamya Purna Karya Nugraha
  • Pataka Jwalita Karana
  • Gong dan Prasasti Kamulan

Filosofi Tombak Korowelang: pesan kepemimpinan

Ketua DPRD Doding Rahmadi menekankan bahwa setiap pusaka membawa pesan moral. Ia menyoroti khususnya filosofi Tombak Korowelang, yang menurutnya memuat dua pesan utama bagi pemimpin.

Pesan pertama adalah soal perkara rakyat. Pemimpin harus hadir untuk menyelesaikan persoalan warga dan tidak boleh berjarak dari kebutuhan masyarakat. Pesan kedua adalah makna welang yang dimaknai sebagai piwulang, yaitu teladan, pembelajaran, dan pendidikan.

“Perkara rakyat itu tugasnya pemimpin harus menyelesaikan perkara di rakyat. Kemudian Welang itu Piwulang. Artinya seorang pemimpin harus juga memberikan contoh, pembelajaran, pendidikan kesehatan kepada masyarakat yang baik,”

Makna pelestarian dan agenda ke depan

Jamasan pusaka menjadi bagian dari upaya nguri-uri atau melestarikan budaya Trenggalek yang berakar pada tradisi Jawa Mataraman. Kegiatan ini dipandang bukan hanya menjaga benda, tetapi juga merawat nilai dan pesan leluhur agar relevan dengan kehidupan masa kini.

Prosesi jamasan masuk dalam rangkaian menyambut Hari Jadi ke-832 Kabupaten Trenggalek sekaligus menjadi momentum refleksi sejarah, kebudayaan, dan nilai-nilai kepemimpinan yang diwariskan para pendiri.

Bima Prakoso
Penulis
Bima Prakoso

Jurnalis politik dengan fokus pada dinamika partai, kebijakan publik, dan agenda pemerintahan.

Berita Terkait