Tarmizi Minta Pemerintah Aceh Prioritaskan Perbaikan Irigasi
BANDA ACEH – Tarmizi Age, inisiator Aceh Goet sekaligus mantan GAM Denmark, meminta Pemerintah Aceh fokus membangun dan memperbaiki jaringan irigasi pascatragedi banjir dan longsor yang melanda sejumlah wilayah pada November 2025. Pernyataan itu disampaikan Rabu (7/10) untuk menekan risiko gagal panen dan menjaga ketahanan pangan provinsi.
Prioritas rehabilitasi irigasi pascabencana
Tarmizi menekankan bahwa irigasi harus menjadi prioritas karena berkaitan langsung dengan kebutuhan petani dan kesinambungan produksi pangan. Ia mengajak Gubernur Muzakir Manaf (Mualem) dan Wakil Gubernur Fadhlullah (Dek Fadh) memberi perhatian serius pada sektor pengairan di daerah pertanian.
“Anggaran pengairan yang tersedia hendaknya benar-benar diarahkan untuk membangun dan memperbaiki irigasi rakyat. Ini merupakan kebutuhan utama petani,”
Ia menilai pemerintah perlu melakukan pemetaan dan pendataan menyeluruh terhadap jaringan irigasi yang rusak atau butuh pembangunan baru. Menurut Tarmizi, Dinas Pengairan harus bersikap proaktif dan tidak hanya menunggu keluhan petani.
Apa saja yang dimaksud jaringan irigasi
Tarmizi menjabarkan bahwa jaringan irigasi tidak hanya saluran utama dari bendungan, tetapi juga mencakup saluran sekunder, tersier, bangunan pengatur, dan infrastruktur pendukung lainnya. Seluruh komponen itu memastikan air sampai ke petak sawah petani.
Sistem pengairan yang direkomendasikan
Selain memperbaiki irigasi konvensional, Tarmizi menyarankan pengembangan beberapa sistem sesuai kondisi geografis masing-masing wilayah. Pilihan sistem harus berdasar kajian teknis dan ketersediaan sumber air.
- Surface irrigation (irigasi permukaan) dengan memanfaatkan gravitasi.
- Sprinkler irrigation (irigasi curah) yang menyemprotkan air menyerupai hujan.
- Drip irrigation (irigasi tetes) untuk efisiensi penggunaan air di sekitar akar tanaman.
- Pompanisasi untuk wilayah tanpa aliran gravitasi dan pembangunan sumur bor sebagai alternatif sumber air.
Dampak sosial dan ekonomi
Tarmizi mengingatkan bahwa gagal panen berdampak luas, tidak hanya pada pendapatan petani. Penurunan produksi pangan dapat mengganggu perekonomian lokal dan meningkatkan angka kemiskinan.
“Petani adalah orang yang memastikan makanan pokok kita tersedia. Kalau petani gagal panen, rakyat juga yang akan merasakan dampaknya,”
Ia menutup dengan mendesak Dinas Pengairan menyusun program rehabilitasi dan pembangunan jaringan irigasi terukur. Tarmizi berharap anggaran pengairan digunakan untuk manfaat nyata bagi petani dan ketahanan pangan Aceh.
Redaktur Nasional yang fokus meliput isu pemerintahan, hukum, dan perkembangan sosial di Indonesia.
Berita Terkait
DPRD Batubara Sampaikan Perubahan Propemperda 2026
DPRD Batubara menyampaikan perubahan Propemperda 2026 pada 9 Oktober, mencakup penambahan satu Ranperda dan...
T. Haris Fadhillah Daftar Calon Ketua PWI Aceh 2026–2031
T. Haris Fadhillah mendaftar sebagai calon Ketua PWI Aceh 2026–2031, mengusung penguatan SDM, transformasi k...
PUPR Banda Aceh Survei 6 Manhole Rusak di Jalan Tgk. Daud Beureueh
Dinas PUPR Banda Aceh temukan enam manhole rusak di Jalan Tgk. Daud Beureueh; dua sudah diperbaiki, sisanya...
Enam Siswa Dirawat, Kondisi Korban Keracunan MBG di Medan Membaik
RSU IPI Medan: enam siswa korban keracunan MBG dirawat, dua sudah pulang setelah kondisi membaik; empat masi...
Sumut Dapat 15.011 Unit Bedah Rumah 2026, Ribuan Belum Diverifikasi
Sumut mendapat 15.011 unit bedah rumah 2026, namun 5.943 unit belum didata; Pemprov diminta percepat koordin...
Bobby Tawarkan Kerja Sama Investasi Jepang di Sumut, Fokus SDM dan Lobster
Gubernur Sumut tawarkan kerja sama investasi Jepang pada 9 Oktober, fokus SDM, kelautan, dan lobster Kepulau...