Enam Siswa Dirawat, Kondisi Korban Keracunan MBG di Medan Membaik
Medan — Rumah Sakit Umum Imelda Pekerja Indonesia (IPI) Medan menyatakan kondisi siswa SD 060879 yang menjadi korban keracunan Program Makan Bergizi Gratis (MBG) pada Jumat, 9 Oktober, membaik. Saat ini enam siswa masih dirawat, sedangkan dua pasien sudah dipulangkan setelah menunjukkan perbaikan.
Kondisi pasien saat ini
Dr. Mahrani Lubis, M.Ked(Ped), Sp.A, Subsp.A.I(K), menyampaikan perkembangan penanganan pasien pada Sabtu, 10 Oktober, di RSU IPI Medan. Menurutnya, dari 17 pasien yang ditangani sejak kejadian, beberapa sudah diperbolehkan pulang setelah kondisi stabil.
"Total pasien yang kita rawat saat ini ada enam siswa, namun dua pasien sudah diperbolehkan pulang karena menunjukkan perbaikan,"
Penjelasan dokter itu menambahkan bahwa dari 17 pasien awal, 12 dipulangkan pada hari kejadian, meninggalkan lima pasien yang dirawat. Pada pagi berikutnya, satu pasien kembali dirujuk sehingga jumlah yang dirawat menjadi enam.
Gejala dan hasil pemeriksaan
Dr. Mahrani merinci bahwa dua pasien yang dipulangkan sebelumnya sempat mengalami mual dan muntah serta gangguan irama jantung. Pemeriksaan laboratorium menunjukkan hasil normal pada pasien yang kini sudah pulang.
"Kedua pasien sudah normal, satu pasien memang kemarin dengan keluhan mual muntah, ini sudah tidak ada lagi muntahnya, hasil pemeriksaan laboratoriumnya pun normal,"
Untuk empat pasien lain yang masih menjalani rawat inap, keluhan utama adalah nyeri perut yang cukup hebat. Meski begitu, kondisi umum mereka dilaporkan berangsur membaik dan tidak lagi muntah.
Tindak lanjut dan pemantauan
Dokter spesialis anak dan pengajar Fakultas Kedokteran Universitas Sumatera Utara itu menegaskan bahwa keempat pasien yang belum dipulangkan masih akan menjalani observasi dan pemantauan medis sebelum diputuskan boleh pulang.
Rumah sakit terus memantau tanda vital dan hasil pemeriksaan laboratorium untuk memastikan tidak ada komplikasi lanjutan. Pihak rumah sakit juga tetap memberikan perawatan suportif sesuai kebutuhan tiap pasien.
Implikasi dan langkah ke depan
Kejadian keracunan ini menyoroti pentingnya pengawasan mutu makanan dalam program yang menyasar anak sekolah. Penanganan cepat di fasilitas kesehatan menjadi kunci menurunkan risiko komplikasi serius.
Pihak sekolah dan dinas terkait diharapkan mengevaluasi penyelenggaraan program makan bergizi untuk mencegah kejadian serupa di masa mendatang.
Redaktur Nasional yang fokus meliput isu pemerintahan, hukum, dan perkembangan sosial di Indonesia.
Berita Terkait
Polsek Aek Natas Bekuk Pengedar, Sita Sabu 1,95 Gram di Perkebunan
Unit Reskrim Polsek Aek Natas menangkap RS alias Gobang (33) di perkebunan sawit Labuhanbatu Utara dan menyi...
DPRD Batubara Sampaikan Perubahan Propemperda 2026
DPRD Batubara menyampaikan perubahan Propemperda 2026 pada 9 Oktober, mencakup penambahan satu Ranperda dan...
T. Haris Fadhillah Daftar Calon Ketua PWI Aceh 2026–2031
T. Haris Fadhillah mendaftar sebagai calon Ketua PWI Aceh 2026–2031, mengusung penguatan SDM, transformasi k...
PUPR Banda Aceh Survei 6 Manhole Rusak di Jalan Tgk. Daud Beureueh
Dinas PUPR Banda Aceh temukan enam manhole rusak di Jalan Tgk. Daud Beureueh; dua sudah diperbaiki, sisanya...
Sumut Dapat 15.011 Unit Bedah Rumah 2026, Ribuan Belum Diverifikasi
Sumut mendapat 15.011 unit bedah rumah 2026, namun 5.943 unit belum didata; Pemprov diminta percepat koordin...
Bobby Tawarkan Kerja Sama Investasi Jepang di Sumut, Fokus SDM dan Lobster
Gubernur Sumut tawarkan kerja sama investasi Jepang pada 9 Oktober, fokus SDM, kelautan, dan lobster Kepulau...