Wamen Dorong Inovasi Jamu untuk Tembus Pasar Global
Wakil Menteri Ekonomi Kreatif (Wamen Ekraf) Irene Umar mendorong inovasi jamu agar produk tradisional ini bisa menembus pasar global. Pernyataan itu disampaikan saat ia menghadiri Festival Jamu Nusantara di Hutan Kota Gelora Bung Karno (GBK), Jakarta, Minggu, 7 Juni 2026. Menurut Irene, jamu bukan sekadar minuman tradisional, melainkan bagian dari identitas budaya yang harus dilestarikan dan dikembangkan dengan pendekatan modern.
Jamu sebagai identitas dan peluang kreatif
Irene mengatakan, dari akar budaya itulah kreativitas muncul dan memungkinkan lahirnya inovasi. Ia menekankan perlunya pendekatan yang dekat dengan kehidupan masyarakat, khususnya generasi muda, agar warisan budaya tetap relevan dan dicintai lintas generasi.
"Jamu adalah identitas Indonesia. Dari budaya dan identitas itulah kreativitas lahir sehingga menghasilkan berbagai inovasi yang membuat budaya kita lestari sekaligus relevan," ujar Irene.
Festival sebagai ruang inovasi
Penyelenggaraan Festival Jamu Nusantara jadi bukti bahwa tradisi dapat berkembang tanpa kehilangan akar budayanya. Pendiri Acaraki, Jony Yuwono, menyatakan kreativitas membuka peluang baru bagi generasi sekarang dan mendatang.
"Ketika tradisi bertemu kreativitas, kekayaan budaya juga mampu melahirkan peluang baru bagi generasi masa kini dan masa depan," kata Jony.
Potensi ekonomi dan sektor yang bisa dikembangkan
Kepala Badan Pengawas Obat dan Makanan, Taruna Ikrar, memaparkan estimasi potensi ekonomi jamu jika dikelola dengan baik. Ia menyebut angka yang signifikan sebagai alasan untuk menggarap komoditas ini lebih serius.
"Saya kira generasi milenial dan generasi alfa ini menjadi sebuah kekayaan. Jangan lupa, saya selalu katakan ada potensinya Rp350 triliun setiap tahun kalau ini dikelola dengan baik," ujar Taruna.
Taruna melihat peluang jamu berkembang tidak hanya di pasar domestik, tetapi juga di sektor internasional seperti:
- Industri kesehatan
- Industri kecantikan
- Industri kuliner
Peran generasi muda dan langkah ke depan
Pembicara acara sama-sama menyoroti peran generasi muda sebagai garda depan pelestarian dan komersialisasi jamu. Pendekatan modern dan format produk yang ramah konsumen dinilai penting agar jamu mudah diterima pasar global.
Untuk mewujudkan potensi tersebut, dibutuhkan pengelolaan yang baik, standar mutu, dan inovasi produk yang menjaga nilai budaya sambil memenuhi persyaratan pasar internasional.
Pengelolaan yang baik dan inovasi berkelanjutan menjadi kunci agar jamu benar-benar mendunia.
Redaktur Nasional yang fokus meliput isu pemerintahan, hukum, dan perkembangan sosial di Indonesia.
Berita Terkait
IHSG Diperkirakan Melemah, Pasar Cermati Laju Inflasi
IHSG diperkirakan melemah dan menguji level 6.000 di tengah aksi jual asing serta kenaikan inflasi September...
DJP Percepat Pemungutan PPh 22 melalui Empat Lokapasar
DJP mempercepat pemungutan PPh Pasal 22 melalui lokapasar mulai 1 Oktober 2026; empat platform ditunjuk dan...
Dua Wamenkeu Dilantik, Kemenkeu Perkuat Pelaksanaan APBN
Luky Alfirman dan Nurkholisoh Ibnu Aman dilantik sebagai Wamenkeu pada 1 Okt 2026 untuk memperkuat pelaksana...
Rupiah Turun ke Rp17.966 di Tengah Ketidakpastian AS–Iran
Rupiah melemah 0,40% ke Rp17.966 per dolar pada 1 Okt 2026, terdorong ketidakpastian AS–Iran dan pergeseran...
IHSG Melemah 0,83% ke 6.020 pada Sesi I (1 Okt 2026)
IHSG turun 0,83% ke 6.020,69 pada sesi I (1 Okt 2026), terdorong volatilitas global dan penyesuaian portofol...
Rupiah Kembali Melemah, Analis Waspadai Risiko Tembus Rp18.000
Rupiah melemah ke Rp17.919 per dolar AS pada pembukaan 1 Okt 2026; analis sebut rentan tembus Rp18.000 jika...