Industri Pengolahan Tumbuh Positif dan Menopang Ekonomi 2026
Menteri Perindustrian Agus Gumiwang Kartasasmita menyatakan sektor industri pengolahan Indonesia tetap menunjukkan kinerja positif dan konsisten meski ada ketidakpastian global. Pernyataan itu disampaikan saat Rapat Kerja dengan Komisi VII DPR RI di Kompleks Parlemen Senayan, Jakarta, Senin, 8 Juni 2026. Menurut Agus, industri ini menjadi penopang utama pertumbuhan ekonomi, penyerapan tenaga kerja, dan ekspor nasional.
Kinerja industri pengolahan
Agus menegaskan sektor pengolahan terus berkontribusi pada perbaikan ekonomi nasional. Dia menyebut capaian ekonomi Indonesia pada kuartal terakhir mencapai 5,61 persen. Dari angka tersebut, industri pengolahan tumbuh 5,04 persen, menunjukkan peran strategis sektor ini dalam struktur perekonomian.
"Sektor industri pengolahan di Indonesia hingga saat ini terus menunjukkan kinerja yang positif. Positifnya konsisten di tengah-tengah dinamika yang begitu uncertainty yang ada," ujar Agus.
Angka dan dampak terhadap ekonomi
Pertumbuhan industri pengolahan 5,04 persen lebih tinggi dibandingkan periode sama tahun sebelumnya yang sebesar 4,55 persen. Agus menambahkan bahwa sektor ini menjadi sumber pertumbuhan tertinggi bagi perekonomian nasional, dengan kontribusi sebesar 1,03 persen.
Perbaikan kinerja industri berimplikasi pada peningkatan nilai tambah dan peluang kerja. Selain itu, dorongan ekspor dari sektor pengolahan ikut membantu stabilitas neraca perdagangan.
Tanggapan DPR dan tantangan geopolitik
Ketua Komisi VII DPR RI Saleh Partaonan Daulay menyoroti kebutuhan inovasi kebijakan menghadapi situasi geopolitik global. Ia memperingatkan dampak pergerakan nilai tukar dolar yang dapat memengaruhi likuiditas dan investasi.
"Jangan sampai dengan situasi politik global seperti sekarang, menyebabkan orang yang punya uang malah justru ambil uangnya. Beli dolar yang menyebabkan dolarnya jadi langka," ujar Saleh.
Saleh meminta Kementerian Perindustrian menjelaskan potret dan arah pengembangan sektor industri ke depan. Penjelasan ini diperlukan agar DPR memahami langkah yang akan diambil pemerintah dan dapat mendukung kebijakan yang tepat.
Langkah ke depan
Pemerintah diharapkan terus memperkuat basis industri melalui inovasi, kebijakan fiskal dan insentif yang tepat. Penguatan rantai pasok, peningkatan kapasitas teknologi, dan kebijakan yang responsif terhadap fluktuasi mata uang menjadi poin penting yang perlu dijabarkan lebih rinci oleh Kemenperin.
Dengan mempertahankan tren positif ini, industri pengolahan berpeluang memperkuat posisi Indonesia dalam menghadapi tantangan global dan mendorong pertumbuhan ekonomi yang lebih inklusif.
Redaktur Nasional yang fokus meliput isu pemerintahan, hukum, dan perkembangan sosial di Indonesia.
Berita Terkait
IHSG Diperkirakan Melemah, Pasar Cermati Laju Inflasi
IHSG diperkirakan melemah dan menguji level 6.000 di tengah aksi jual asing serta kenaikan inflasi September...
DJP Percepat Pemungutan PPh 22 melalui Empat Lokapasar
DJP mempercepat pemungutan PPh Pasal 22 melalui lokapasar mulai 1 Oktober 2026; empat platform ditunjuk dan...
Dua Wamenkeu Dilantik, Kemenkeu Perkuat Pelaksanaan APBN
Luky Alfirman dan Nurkholisoh Ibnu Aman dilantik sebagai Wamenkeu pada 1 Okt 2026 untuk memperkuat pelaksana...
Rupiah Turun ke Rp17.966 di Tengah Ketidakpastian AS–Iran
Rupiah melemah 0,40% ke Rp17.966 per dolar pada 1 Okt 2026, terdorong ketidakpastian AS–Iran dan pergeseran...
IHSG Melemah 0,83% ke 6.020 pada Sesi I (1 Okt 2026)
IHSG turun 0,83% ke 6.020,69 pada sesi I (1 Okt 2026), terdorong volatilitas global dan penyesuaian portofol...
Rupiah Kembali Melemah, Analis Waspadai Risiko Tembus Rp18.000
Rupiah melemah ke Rp17.919 per dolar AS pada pembukaan 1 Okt 2026; analis sebut rentan tembus Rp18.000 jika...