Komisi VII: Tekanan Impor Mengancam Industri Padat Karya
Wakil Ketua Komisi VII DPR Evita Nursanty memperingatkan masa depan industri padat karya dan lapangan kerja di Indonesia akibat meningkatnya tekanan impor dan kenaikan biaya bahan baku. Peringatan itu disampaikan dalam Rapat Kerja dengan Menteri Perindustrian di Kompleks Parlemen Senayan, Jakarta, Senin, 8 Juni 2026. Evita menilai masalah ini krusial karena berkaitan langsung dengan jutaan pekerja yang bergantung pada sektor industri.
Kekhawatiran Komisi VII
Evita menyoroti dua tantangan utama: tekanan impor yang meningkat dan naiknya biaya bahan baku karena nilai tukar rupiah. Ia meminta pemerintah menjelaskan strategi untuk menjaga industri tanpa mengorbankan lapangan kerja.
"Seterusnya yang menjadi menurut saya serius juga adalah masa depan industri padat karya dan lapangan kerja. Bagi saya itu Pak Menteri isu yang penting karena ketika kita bicara industri padat karya kita sedang bicara mengenai jutaan pekerja Indonesia," ujar Evita.
"Sementara Pak Menteri industri nasional masih sangat tergantung pada bahan baku impor. Pasar global juga sepenuhnya belum pulih," kata Evita.
Tekanan impor dan biaya bahan baku
Menurut Evita, ketergantungan pada bahan baku impor membuat industri rentan terhadap gejolak pasar global dan fluktuasi nilai tukar. Kondisi ini berpotensi mendorong penurunan produksi dan pemangkasan tenaga kerja jika tidak ada langkah mitigasi yang cepat.
"Dengan keadaan situasi yang sekarang geopolitik dan lain-lain kementerian ini strategi besarnya ini apa ke depan? Jangan sampai kita berhasil Pak Menteri menjaga angka pertumbuhan industri tetapi banyak pekerja yang kehilangan pekerjaan," ucap Evita.
Respons Kementerian Perindustrian
Menteri Perindustrian Agus Gumiwang Kartasasmita menyatakan pemerintah telah menyiapkan langkah antisipatif untuk menjaga keberlangsungan industri nasional di tengah ketidakpastian global. Ia menekankan upaya itu ditujukan untuk menjaga aktivitas produksi dan daya saing industri.
"Pemerintah terus-menerus mengambil langkah-langkah antisipatif untuk menjaga keberlangsungan industri nasional di tengah meningkatnya ketidakpastian global. Upaya ini diarahkan untuk memastikan aktivitas produksi bisa tetap berjalan," ujar Agus.
Agus merinci tiga langkah strategis yang disiapkan Kemenperin bersama kementerian dan lembaga terkait:
- Penguatan insentif untuk mendorong produksi dan investasi industri;
- Pengendalian impor untuk menekan aliran barang yang merusak industri lokal;
- Penataan kembali pelabuhan masuk impor atau entry point untuk meningkatkan efektivitas pengawasan.
"Inisiasi penataan kembali pelabuhan masuk impor atau entry point bagi barang konsumsi tertentu, guna meningkatkan efektivitas pengawasan dan pengendalian impor. Sekaligus perbaikan tata kelola logistik nasional dan juga optimalisasi kapasitas pelabuhan-pelabuhan di luar Pulau Jawa," kata Agus.
Penataan pelabuhan dan target
Agus menyebut beberapa pelabuhan yang diusulkan menjadi entry point, antara lain Sorong, Bitung, dan Kupang. Menurutnya, utilisasi ketiga pelabuhan tersebut masih rendah dan dapat mendukung pertumbuhan ekonomi lokal apabila difungsikan sebagai pintu masuk impor yang dikendalikan.
Dampak dan prospek
Pergeseran kebijakan impor dan penguatan insentif diharapkan bisa mengurangi tekanan pada industri padat karya dan menjaga lapangan kerja. Namun, Komisi VII menegaskan perlunya pemantauan berkelanjutan agar kebijakan itu benar-benar melindungi pekerja.
Ke depan, perhatian terpusat akan tertuju pada implementasi kebijakan pengendalian impor dan efektivitas penataan pelabuhan sebagai upaya menjaga keseimbangan antara pertumbuhan industri dan ketersediaan lapangan kerja.
Berita Terkait
DPR Soroti Paradoks Serapan Anggaran Kemenperin
Komisi VII soroti serapan anggaran Kemenperin 42,57% atau Rp898 miliar hingga awal Juni 2026, namun realisas...
Realisasi Anggaran Kemenperin Lampaui Target, Terserap Rp898 Miliar
Kemenperin realisasikan Rp898 miliar atau 42,57% dari pagu Rp2,11 triliun hingga 5 Juni 2026; DPR minta eval...
Perkuat Rupiah, Masyarakat Diajak Utamakan Produk Lokal
Masyarakat diajak utamakan produk lokal dan pariwisata domestik untuk memperkuat rupiah dan mengurangi keter...
Kenaikan Dolar dan Energi Tekan Industri Galangan Kapal
Lonjakan kurs dolar dan harga energi tekan industri galangan kapal; Solar B40 naik 89,19% dan plat baja naik...
Cadangan Devisa Indonesia Mei 2026 Turun Jadi USD144,9 Miliar
Cadangan devisa Indonesia turun ke USD144,9 miliar pada akhir Mei 2026, menandai penurunan bulan kelima bert...
IHSG Melemah di Jeda Siang, Turun ke Level 5.434,30
IHSG melemah di jeda siang 8 Juni 2026, turun 2,87% ke 5.434,30 akibat tekanan asing dan sentimen pasar dome...