IHSG Diprediksi Terkoreksi Hari Ini Usai Naik 1,14%
Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) diperkirakan mengalami koreksi pada perdagangan Rabu, 2 September 2026, setelah menguat 1,14% pada penutupan Selasa ke level 6.599,94. Kenaikan kemarin didorong arus beli asing sebesar Rp1,76 triliun, namun sentimen global dan data domestik menimbulkan tekanan jangka pendek.
Prediksi pergerakan & level teknis
BNI Sekuritas memperkirakan IHSG akan bergerak korektif hari ini. Level support diperkirakan berada di rentang 6.540-6.570, sedangkan level resistansi berada di kisaran 6.620-6.700. Pergerakan ini cenderung merupakan koreksi wajar setelah reli tajam sebelumnya.
"IHSG berpotensi koreksi wajar hari ini. Level support akan bergerak di rentang 6.540-6.570 dan level resistansi di rentang 6.620-6.700,"
Aksi investor dan saham unggulan
BNI Sekuritas mencatat masuknya pembelian asing sebesar Rp1,76 triliun pada sesi sebelumnya. Saham-saham yang paling banyak dibeli asing meliputi:
- BBRI
- BBCA
- BMRI
- TPIA
- CPIN
Faktor global yang menekan
Sentimen global memberi tekanan pada pasar saham. Kenaikan harga minyak setelah pernyataan Komando Pusat AS soal serangan terhadap target Korps Garda Revolusi Islam (IRGC) di Iran mendorong lonjakan harga minyak mentah.
Harga WTI tercatat melonjak sekitar 5,2% sementara Brent naik 4,6% sejak awal pekan. Kenaikan minyak mendorong kenaikan imbal hasil obligasi AS dan meningkatkan kekhawatiran pasar terhadap arah kebijakan suku bunga The Fed.
Fanny Suherman, Head of Retail Research BNI Sekuritas, juga menyorot aksi jual di bursa AS yang ikut menekan sentimen. "Bursa saham di Amerika Serikat anjlok pada Selasa kemarin, Dow Jones Industrial Average ambles lebih dari 400 poin," ujarnya.
Dampak di Asia dan kondisi domestik
Kenaikan harga minyak turut menekan pasar Asia. Sebagian besar bursa Asia melemah pada Selasa, kecuali Taiex Taiwan dan KOSPI Korea Selatan yang menguat. Indeks Jepang Nikkei 225 turun 0,15% dan Hang Seng Hong Kong melemah 0,93%.
Di dalam negeri, BPS melaporkan inflasi Agustus 2026 sebesar 0,21% m/m dan inflasi tahunan 3,19%, naik dari 2,88% pada bulan sebelumnya. Angka inflasi ini menjadi salah satu perhatian pelaku pasar terkait prospek suku bunga dan sentimen konsumsi.
Impak dan prospek
Gabungan faktor kenaikan minyak, langkah The Fed yang masih dinantikan, serta data tenaga kerja AS (nonfarm payrolls/NFP) yang akan dirilis Jumat mendatang, berpotensi menjaga volatilitas pasar global. Di pasar domestik, IHSG kemungkinan mengalami koreksi terbatas sambil menunggu arah lanjutan arus modal asing dan perkembangan geopolitik.
Koresponden internasional yang mengikuti perkembangan geopolitik dan isu global terkini.
Berita Terkait
PMI Manufaktur Agustus Turun Jadi 49,8, Optimisme Menguat
PMI manufaktur Agustus 2026 turun ke 49,8, namun permintaan baru dan optimisme pelaku industri meningkat, ka...
Ekspor Kerajinan Naik 6,54% Jadi USD909,95 Juta
Ekspor kerajinan naik 6,54% pada Triw II 2026 menjadi USD909,95 juta; PKJI 2026 dorong akses pasar, sinergi,...
BPDP Pamerkan Inovasi Turunan Sawit dan Kakao di JIFHEX 2026
BPDP tampilkan booth edutainment di JIFHEX 2026 Yogyakarta untuk perkenalkan inovasi turunan sawit, kakao, d...
Harga BBM Naik di September 2026: Perbandingan Pertamina, Shell, BP, Vivo
Harga BBM berubah efektif 1 September 2026; kenaikan banyak terjadi pada produk nonsubsidi seperti Pertamax...
Juli 2026: Neraca Perdagangan Surplus Ditopang Ekspor Nonmigas
Juli 2026: neraca perdagangan Indonesia surplus didorong ekspor nonmigas, kumulatif Jan–Jul surplus USD3,70...
SIMODIS® Diluncurkan di Jember untuk Perlindungan Hama Cabai
Syngenta Indonesia meluncurkan SIMODIS®, insektisida berbasis PLINAZOLIN®, di Jember untuk mengendalikan thr...