IHSG Berisiko Melemah Hari Ini Usai Rupiah Anjlok
Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) diperkirakan masih berisiko melemah pada Kamis, 4 Juni 2026, menyusul pelemahan tajam rupiah dan sentimen eksternal. Rabu lalu, IHSG ditutup turun 4,11% di level 5.941, meningkatkan peluang koreksi lanjutan.
Proyeksi teknikal IHSG
Tim Analis Phintraco Sekuritas memperingatkan bahwa jika IHSG menutup sesi di bawah 5.900, pasar berpotensi menguji support berikutnya di rentang 5.750-5.840. Hal ini menandakan tekanan jual yang masih kuat setelah koreksi besar pada sesi sebelumnya.
"Secara teknikal, jika IHSG ditutup di bawah level 5.900, maka akan berpotensi menguji level support berikutnya. Yakni di rentang 5.750-5.840," kata Tim Analis Phintraco Sekuritas.
Tekanan dari pelemahan rupiah dan kenaikan minyak
Tekanan utama dipicu oleh pelemahan rupiah yang tajam. Pada Rabu, kurs rupiah melemah 0,71% ke Rp17.966 per dolar AS. Kondisi ini menambah kekhawatiran pasar terhadap inflasi impor dan prospek suku bunga.
Phintraco juga mencatat kenaikan harga minyak global sebagai faktor yang meningkatkan ekspektasi inflasi. Kondisi itu memperbesar kemungkinan Bank Indonesia kembali menaikkan BI Rate dalam waktu dekat, terutama jika rupiah terus melemah.
Peringkat kredit dan implikasinya
Dalam laporan penilaian, lembaga pemeringkat memberikan beberapa sinyal penting terkait PT Danantara Investment Management (DIM). Phintraco menyebutkan bahwa Moody's menempatkan peringkat DIM pada Baa2 dengan prospek negatif.
"Peringkat ini setara dengan peringkat utang Pemerintah Indonesia saat ini," ujar Tim Phintraco.
Moody's menilai adanya keterkaitan kuat antara DIM dan pemerintah, sehingga DIM berpotensi mendapat dukungan jika diperlukan. Namun, lembaga itu juga memperingatkan kemungkinan penurunan peringkat jika kondisi kredit domestik memburuk.
Sementara itu, penilaian lain mencakup:
- S&P Global Ratings: peringkat jangka panjang BBB dan jangka pendek A-2, outlook stabil.
- Fitch Ratings: peringkat BBB untuk program Global MTN dan obligasi perdana DIM.
Dampak kebijakan ekspor dan sentimen komoditas
Selain faktor makro, keputusan pemerintah sentralisasi ekspor komoditas melalui Danantara Sumberdaya Indonesia (DSI) memicu penundaan pembelian batu bara oleh sejumlah importir Tiongkok. Importir mengkhawatirkan mekanisme kontrak, harga, dan proses perdagangan di bawah sistem baru.
Phintraco menilai ketidakpastian tersebut menjadi katalis negatif bagi saham terkait hingga muncul kejelasan implementasi kebijakan.
Outlook dan risiko ke depan
Secara keseluruhan, kombinasi pelemahan rupiah, kenaikan harga minyak, dan ketidakpastian kebijakan ekspor meningkatkan risiko koreksi lanjutan pada IHSG. Pelaku pasar disarankan memantau pergerakan kurs, keputusan suku bunga, serta perkembangan implementasi kebijakan ekspor untuk menilai momentum pemulihan.
Redaktur Nasional yang fokus meliput isu pemerintahan, hukum, dan perkembangan sosial di Indonesia.
Berita Terkait
Pedagang Bambu di Solo Kebanjiran Pembeli Jelang 17 Agustus
Pedagang bambu dan penjual bendera di Solo kebanjiran pesanan jelang 17 Agustus dengan harga bambu stabil di...
Metode Ikejime Tingkatkan Mutu dan Nilai Tuna
Metode ikejime, teknik Jepang, menjaga kualitas tuna sejak tangkap hingga konsumsi melalui penusukan otak, p...
Bazaar Perempuan Berdaya KPI Jember Dorong Ekonomi Perempuan
KPI Cabang Jember menggelar Bazaar Perempuan Berdaya untuk promosi produk lokal dan memperkuat ekonomi perem...
UMKM Hanarun Handmade Sulap Cangkang Laut Jadi Produk Bernilai
UMKM Hanarun Handmade di Maluku Tenggara mengubah cangkang laut jadi aksesori dan suvenir, didukung HAKI, NI...
Dari Teras Lorong ke Outlet: Kisah Roemah Bagadang
Iqbal mengubah kebiasaan begadang jadi usaha kuliner Roemah Bagadang; kini punya outlet permanen di Palu dan...
MAN 2 Malang Perkuat Kewirausahaan Siswa lewat PKWU dan Koperasi
MAN 2 Kota Malang memperkuat kewirausahaan siswa lewat PKWU, laboratorium praktik, koperasi, dan program Cam...