BI: Fasilitas Pinjaman Rp2.490 T Belum Digunakan, Dorong Penyaluran Kredit
Bank Indonesia menyatakan fasilitas pinjaman yang belum digunakan mencapai Rp2.490 triliun atau sekitar 21,52% dari plafon kredit. Pernyataan ini disampaikan Deputi Gubernur Senior Destry Damayanti pada akhir pekan lalu di Jakarta untuk mendorong perbankan meningkatkan penyaluran kredit.
Angka dan perkembangan kredit
Berdasarkan data BI, pertumbuhan kredit pada Juni 2026 tercatat 12,67% secara tahunan, naik dari 11,51% pada bulan sebelumnya. Pertumbuhan ini terutama ditopang oleh kredit investasi yang melonjak hingga 24,90% secara tahunan.
Meski pertumbuhan kredit kuat, BI melihat masih ada ruang penyaluran karena besarnya fasilitas kredit yang belum digunakan. Kondisi ini mendorong prakiraan BI bahwa pertumbuhan kredit sepanjang 2026 akan tetap berada di kisaran 8-12%.
Upaya BI mendorong penyaluran berkualitas
Destry menekankan bahwa penyaluran kredit harus tidak hanya mengejar kuantitas, tetapi juga kualitas. Menurutnya, pembiayaan perlu diarahkan agar memberi manfaat lebih luas bagi perekonomian.
"Pembiayaan harus dipastikan memberikan manfaat yang lebih besar bagi perekonomian. Untuk itu diperlukan transformasi dari sekadar mengejar pertumbuhan kredit menuju pembiayaan yang berkualitas,"
Dia menambahkan bahwa pembiayaan bernilai tambah sebaiknya berbasis ekosistem, tidak hanya bersifat individual, dan bisa diarahkan ke program-program nasional.
Kebijakan dan digitalisasi pembayaran
Untuk mendorong pembiayaan sektor prioritas, BI memperkuat bauran kebijakan. Langkah yang disebutkan antara lain:
- Kebijakan Insentif Likuiditas Makroprudensial (KLM);
- Rasio Pembiayaan Inklusif Makroprudensial (RPIM);
- Penguatan sistem pembayaran digital melalui QRIS, BI-FAST, dan SNAP.
Digitalisasi dianggap penting karena mampu memperluas integrasi pelaku usaha ke dalam ekosistem keuangan digital, sehingga mendukung akses pembiayaan yang lebih inklusif.
"Bauran kebijakan tersebut saling melengkapi. Selain itu, mendukung pembiayaan yang lebih inklusif, produktif, dan berdampak bagi perekonomian,"
Dampak dan prospek
Besarnya fasilitas pinjaman yang belum digunakan menunjukkan potensi permintaan kredit ke depan jika perbankan dan peminjam dapat memanfaatkan sumber daya ini secara produktif. BI memandang kombinasi kebijakan likuiditas, insentif, dan digitalisasi sebagai kunci untuk mengubah sisa fasilitas kredit menjadi pembiayaan yang memberikan nilai tambah nyata bagi ekonomi.
Pemantauan terhadap implementasi kebijakan dan perkembangan permintaan kredit akan menentukan kecepatan penyaluran fasilitas yang saat ini belum termanfaatkan.
Reporter ekonomi yang mengulas pasar, investasi, UMKM, serta kebijakan fiskal dan moneter.
Berita Terkait
Chery Avante Buka Diler di Magelang, Harga di Bawah Rp300 Juta
Chery Avante membuka diler di Magelang (24 Juli 2026); harga di bawah Rp300 juta dan layanan penjualan serta...
Anggota Oriflame: Lebih dari Sekadar Menjual Produk
Younita, anggota Oriflame sejak 2020, menyebut keanggotaan soal mencoba produk, harga member gratis, dan par...
Harga Emas Antam Naik Rp7.000 per Gram - 25 Juli 2026
Harga emas Antam naik Rp7.000 per gram jadi Rp2.612.000 (25 Juli 2026); buyback juga naik. Simak rincian har...
Komisi VI Apresiasi Kinerja Positif Pelindo Semester I 2026
Komisi VI DPR mengapresiasi capaian positif Pelindo Semester I 2026 setelah kunjungan kerja di Surabaya; Pel...
Blibli Tebar Diskon Apple hingga Rp5 Juta di Salebration ke-15
Blibli memberi diskon hingga Rp5 juta untuk produk Apple sampai 28 Juli 2026 dalam Salebration ke-15, termas...
Olahan Ikan Lele Mina Jawi Andiena Tingkatkan Nilai Jual
UMKM Mina Jawi Andiena di Ngawi mengolah lele panen jadi produk bernilai tambah seperti lele marinasi dan nu...