Dari Teras Lorong ke Outlet: Kisah Roemah Bagadang
Moh. Iqbal, seorang pemuda asal Kota Palu, mengubah kebiasaan begadang jadi peluang usaha. Ia memulai berjualan di teras rumah mertuanya pada jam tengah malam dan melayani pesanan lewat GrabFood antara pukul 00.00 hingga 04.00 WITA. Kini usahanya, Roemah Bagadang, memiliki outlet permanen di Jalan Sungai Manonda dan mempekerjakan 10 orang.
Awal mula usaha dari teras lorong
Usaha Iqbal lahir dari kebutuhan pribadi dan kebiasaan bekerja malam. Saat masih bekerja di restoran, ia sering pulang larut. Ketika punya anak dengan tidur yang belum teratur, Iqbal menyadari waktunya sering longgar pada malam hari.
Berawal dari lorong sempit di rumah mertua, Iqbal menawarkan menu sederhana seperti nasi goreng, mi, dan nasi telur hangat. Tanpa outlet fisik awalnya, ia mengandalkan layanan pesan-antar daring untuk menjangkau pelanggan yang kelaparan di tengah malam.
"Awalnya saya membangun Rumah Begadang ini sebenarnya karena saya dulu pernah kerja di salah satu resto dan sering pulang tengah malam. Terus punya anak, tidurnya agak lambat. Jadi saya berpikir, daripada begadang tidak menghasilkan, lebih baik begadang menghasilkan."
Strategi operasional dan perluasan
Model bisnis Iqbal sederhana namun efektif. Ia fokus pada jam operasional khusus malam hari, menjaga kualitas makanan hangat, dan memanfaatkan platform antar daring untuk memperluas jangkauan tanpa biaya sewa awal.
Perkembangan permintaan mendorong Iqbal membuka outlet permanen. Saat ini Roemah Bagadang beroperasi di Jalan Sungai Manonda, Kota Palu, dan sudah mempekerjakan 10 karyawan untuk memenuhi kebutuhan produksi dan layanan pelanggan.
Pesan untuk calon pelaku usaha
Iqbal menekankan bahwa langkah pertama sering jadi tantangan terbesar. Keraguan dan ketakutan gagal kerap menghambat aksi. Ia mendorong orang untuk mulai bergerak daripada terus merencanakan tanpa eksekusi.
"Sebenarnya untuk memulai itu memang sangat susah, melangkah di awal itu susah sekali karena banyak keraguan. Tapi saran saya, jangan takut gagal, melangkah jalan saja dulu. Kalau hanya terus bermimpi-mimpi, kapan mau diwujudkan."
Kesuksesan Roemah Bagadang menunjukkan bahwa keterbatasan modal dan lokasi bukan penghalang mutlak. Dengan penawaran tepat pada waktu yang spesifik dan pemanfaatan platform digital, usaha kecil dapat berkembang menjadi usaha yang mempekerjakan orang banyak.
Analis bisnis yang mengulas perkembangan industri, korporasi, dan peluang investasi.
Berita Terkait
Ekspor Industri Pengolahan Jan–Agu 2026 Tembus USD159,55 Miliar
Ekspor industri pengolahan Januari–Agustus 2026 mencapai USD159,55 miliar (Rp2.855,48 triliun), tumbuh 7,87%...
OJK Minta Perbankan Perkuat IT, Kebijakan Dividen Disesuaikan
OJK minta bank perkuat keamanan IT; dividend payout akan disesuaikan agar bank punya ruang investasi teknolo...
OJK Luncurkan Roadmap Perbankan 2026-2030, Lima Prioritas Utama
OJK meluncurkan RP3I 2026–2030 di Bali untuk memperkuat perbankan dengan lima prioritas, empat enabler, dan...
APBN 2027: Target Pertumbuhan 6% Jadi Tantangan Utama
Target 6% pada APBN 2027 jadi tantangan; investasi harus tumbuh 10-12% untuk mendorong ekonomi, kata Kepala...
Ekspor Manufaktur Agustus 2026 Tumbuh 12,48%, Topang Surplus
Manufaktur naik 12,48% pada Agustus 2026, dorong ekspor USD26,61 miliar dan neraca perdagangan surplus USD3,...
Briket Kayu Indonesia Dilirik Buyer Spanyol untuk Restoran Profesional
Calon buyer Spanyol menunjukkan minat pada briket serbuk kayu heksagonal Indonesia untuk restoran profesiona...