IHSG Merosot 3,48% ke 5.734 pada Jeda Perdagangan
Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) merosot 206 poin atau 3,48% ke level 5.734,25 pada jeda perdagangan Kamis, 4 Juni 2026 di Bursa Efek Indonesia. Penurunan terjadi sejak pembukaan akibat tekanan jual pada saham-saham berkapitalisasi besar dan pelemahan nilai tukar rupiah.
Pergerakan pasar dan level intraday
IHSG dibuka pada level 5.919 dan sempat menyentuh titik tertinggi di 5.924. Tekanan jual membuat indeks terus turun hingga menyentuh posisi terendah di 5.644 sebelum menutup sesi pertama pada level 5.734,25.
Data perdagangan
Aktivitas perdagangan tercatat cukup tinggi pada sesi pagi. Berikut ringkasan data pasar hingga jeda siang:
| Parameter | Angka |
|---|---|
| Penurunan IHSG | -206 poin (-3,48%) |
| Level penutupan sesi pertama | 5.734,25 |
| Volume transaksi | 22,845 miliar saham |
| Nilai transaksi | Rp12,738 triliun |
| Saham melemah / menguat / tidak berubah | 683 / 63 / 62 |
Sentimen yang menekan
Tekanan terutama datang dari pelemahan saham-saham berkapitalisasi besar. Saham perbankan seperti BBCA, BBRI, dan sektor telekomunikasi seperti TLKM mengalami penurunan signifikan. Pelemahan saham-saham ini turut menyeret pergerakan IHSG ke zona merah yang lebih dalam.
Kondisi eksternal juga memperburuk sentimen. Rupiah tercatat menembus level Rp18.000 per dolar AS, yang memicu kekhawatiran akan pelebaran defisit neraca perdagangan dan menambah tekanan pada pasar domestik.
Pandangan analis
Tim analis dari Mirae Asset menyoroti konsentrasi tekanan pada saham-saham berdampak besar dan dengan kepemilikan asing tinggi. Mereka menilai kondisi teknikal pasar sudah jenuh jual.
"IHSG sejatinya sudah dalam kondisi extremely oversold berdasarkan indikator RSI,"
Sementara itu, Tim Analis Phintraco Sekuritas menunjuk level 5.900 sebagai area penting yang harus diwaspadai pelaku pasar. Mereka memperingatkan potensi pengujian support berikutnya apabila penutupan di bawah level tersebut terjadi.
"Secara teknikal, jika IHSG ditutup di bawah level 5.900, maka akan berpotensi menguji level support berikutnya, yakni di rentang 5.750 hingga 5.840,"
Phintraco juga mencatat kenaikan harga minyak dunia yang meningkatkan kekhawatiran inflasi dan memperbesar kemungkinan Bank Indonesia menaikkan suku bunga acuan tahun ini.
Prospek ke depan
Dalam jangka pendek, kombinasi tekanan jual saham blue-chip, pelemahan rupiah, dan gejolak harga komoditas diperkirakan akan tetap membayangi pergerakan IHSG. Jika rupiah terus melemah, peluang kenaikan suku bunga menjadi faktor risiko tambahan yang bisa menekan pasar lebih lanjut.
Investor disarankan memantau level teknikal kunci dan data makro terkait nilai tukar serta kebijakan suku bunga untuk menilai arah pergerakan indeks pada sesi berikutnya.
Redaktur Nasional yang fokus meliput isu pemerintahan, hukum, dan perkembangan sosial di Indonesia.
Berita Terkait
Metode Ikejime Tingkatkan Mutu dan Nilai Tuna
Metode ikejime, teknik Jepang, menjaga kualitas tuna sejak tangkap hingga konsumsi melalui penusukan otak, p...
Bazaar Perempuan Berdaya KPI Jember Dorong Ekonomi Perempuan
KPI Cabang Jember menggelar Bazaar Perempuan Berdaya untuk promosi produk lokal dan memperkuat ekonomi perem...
UMKM Hanarun Handmade Sulap Cangkang Laut Jadi Produk Bernilai
UMKM Hanarun Handmade di Maluku Tenggara mengubah cangkang laut jadi aksesori dan suvenir, didukung HAKI, NI...
Dari Teras Lorong ke Outlet: Kisah Roemah Bagadang
Iqbal mengubah kebiasaan begadang jadi usaha kuliner Roemah Bagadang; kini punya outlet permanen di Palu dan...
MAN 2 Malang Perkuat Kewirausahaan Siswa lewat PKWU dan Koperasi
MAN 2 Kota Malang memperkuat kewirausahaan siswa lewat PKWU, laboratorium praktik, koperasi, dan program Cam...
UMKM Gorontalo Meningkat, Street Coffee Ramai tapi Pendapatan Belum Optimal
UMKM Gorontalo makin berkembang dengan banyaknya kedai street coffee, namun tingginya pengunjung belum sepen...