Dapur Selarasa Bawa Nasi Liwet Sunda Tanpa Santan ke Surabaya
Dapur Selarasa, usaha kuliner UMKM yang dipimpin Saniya Tanowidjaya, menghadirkan nasi liwet khas Sunda tanpa santan di Surabaya sejak Mei 2025. Berawal dari keinginan menikmati nasi liwet Sunda yang sulit ditemukan di Kota Pahlawan, Saniya mengembangkan usaha berkonsep masakan rumahan yang menjual secara daring.
Latar Belakang dan Konsep
Saniya mengatakan ia sebelumnya menjalankan usaha yang sama di Bekasi sebelum pindah ke Surabaya. Ketika mencari nasi liwet di kota baru, ia sering menemui versi Solo, bukan Sunda. Dari situ muncul ide membawa cita rasa Sunda yang otentik.
"Awalnya saya ingin memesan nasi liwet Sunda, tetapi yang banyak saya temukan di Surabaya justru nasi liwet Solo. Dari situ saya berpikir, kenapa tidak membuat dan menjual nasi liwet Sunda sendiri,"
Keunikan Dapur Selarasa terletak pada cara masak: tanpa santan. Hidangan disajikan dengan lauk tradisional seperti ikan asin teri, pete, ayam goreng, tahu, tempe, dan sambal. Penyajian juga mempertahankan nuansa budaya Sunda, sering disantap secara lesehan di atas daun pisang.
Menu, Harga, dan Sistem Penjualan
Dapur Selarasa melayani beragam format pesanan, dari porsi individual hingga pesanan acara. Pilihan praktis ini menjadi daya tarik bagi pelanggan di Surabaya yang mencari variasi kuliner Sunda.
- Jenis pesanan: tumpeng, nasi box, besek, hampers, hingga nasi liwet bakar.
- Harga: Rp20.000–Rp32.000 per porsi, tergantung lauk.
Sistem penjualan dijalankan secara daring melalui aplikasi pesan antar dan pemesanan WhatsApp. Saniya menegaskan belum berencana membuka gerai fisik karena keterbatasan modal dan fokus pada jangkauan online.
"Untuk saat ini kami masih fokus online karena lebih praktis dan jangkauannya lebih luas. Kami menerima pesanan nasi liwet untuk tumpeng, nasi box, besek, hampers, hingga nasi liwet bakar,"
Operasional dan Tantangan Bahan Baku
Produksi Dapur Selarasa dibantu dua orang. Pasokan bahan baku disuplai oleh pemasok tetap yang mengirim setiap hari untuk menjaga kesegaran. Namun, usaha berbahan segar menghadirkan tantangan tersendiri.
Saniya menyebut beberapa bahan musiman sering menyebabkan fluktuasi harga. Contohnya, ketersediaan pete tidak selalu stabil, sementara kecombrang juga sulit diperoleh sepanjang tahun.
"Kendala yang kami hadapi salah satunya bahan baku yang musiman, seperti pete. Ketika tidak musim, harganya bisa cukup mahal. Kecombrang juga terkadang sulit dicari,"
Makna Nama dan Pandangan ke Depan
Nama Dapur Selarasa dipilih karena melambangkan keselarasan rasa dan hubungan baik antara pelaku usaha, pemasok, serta pelanggan. Menurut Saniya, usaha kuliner lebih dari sekadar menjual makanan; ia ingin menghadirkan pengalaman makan yang hangat dan mempererat kebersamaan.
Ke depan, Dapur Selarasa akan mempertahankan fokus pada penjualan daring sambil mengelola ketersediaan bahan dan kualitas rasa. Upaya ini diharapkan mampu memperkenalkan nasi liwet Sunda lebih luas di Surabaya tanpa mengabaikan ciri khas aslinya.
Analis bisnis yang mengulas perkembangan industri, korporasi, dan peluang investasi.
Berita Terkait
Bazaar Perempuan Berdaya KPI Jember Dorong Ekonomi Perempuan
KPI Cabang Jember menggelar Bazaar Perempuan Berdaya untuk promosi produk lokal dan memperkuat ekonomi perem...
UMKM Hanarun Handmade Sulap Cangkang Laut Jadi Produk Bernilai
UMKM Hanarun Handmade di Maluku Tenggara mengubah cangkang laut jadi aksesori dan suvenir, didukung HAKI, NI...
Dari Teras Lorong ke Outlet: Kisah Roemah Bagadang
Iqbal mengubah kebiasaan begadang jadi usaha kuliner Roemah Bagadang; kini punya outlet permanen di Palu dan...
MAN 2 Malang Perkuat Kewirausahaan Siswa lewat PKWU dan Koperasi
MAN 2 Kota Malang memperkuat kewirausahaan siswa lewat PKWU, laboratorium praktik, koperasi, dan program Cam...
UMKM Gorontalo Meningkat, Street Coffee Ramai tapi Pendapatan Belum Optimal
UMKM Gorontalo makin berkembang dengan banyaknya kedai street coffee, namun tingginya pengunjung belum sepen...
Ratifikasi Perjanjian Dagang Dorong Daya Saing Indonesia
Anggota Komisi VI DPR Sarifah Suraidah Harum mendesak percepatan ratifikasi empat perjanjian dagang dan road...