IHSG Dibuka Menguat ke 6.538, Masih Dibayangi Nett Sell Asing
Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) dibuka menguat pada Selasa, 1 September 2026. IHSG naik sekitar 13,1 poin ke level 6.538,12, namun pergerakan pasar masih dibayangi aksi nett sell investor asing yang menekan sentimen.
Pembukaan dan data perdagangan
Pada awal perdagangan IHSG sempat menguat hingga level 6.560,15 dan mencatat terendah di 6.535,79. Aktivitas tercatat dengan volume sekitar 2,66 miliar saham dan nilai transaksi sekitar Rp1,06 triliun.
Dari jumlah saham yang diperdagangkan, sebanyak 336 saham menguat, 147 saham melemah, dan 224 saham tidak mengalami perubahan harga pada pembukaan.
Tekanan asing dan saham yang banyak dijual
Walau dibuka menguat, tekanan nett sell asing masih terasa. Investor asing tercatat melakukan net sell sekitar Rp710,56 miliar sepanjang akhir Agustus, yang berpotensi membatasi kenaikan lanjutan IHSG.
Beberapa saham yang tercatat paling banyak dijual oleh investor asing antara lain:
- CPIN
- EMAS
- BUKA
- UNVR
- ASII
Untuk hari ini, secara teknikal IHSG diprakirakan akan berkonsolidasi pada kisaran level 6.450-6.570
Faktor makro yang jadi perhatian
Pelaku pasar juga mencermati rilis data inflasi dari Badan Pusat Statistik (BPS) untuk Agustus 2026. Phintraco Sekuritas memperkirakan inflasi bulanan sebesar 0,2 persen pada Agustus setelah pada Juli tercatat deflasi 0,14 persen.
Sehingga estimasinya, inflasi tahunan di bulan Agustus 2026 naik menjadi 3,13 persen, dari 2,88 persen di bulan Juli
Selain inflasi, pasar akan melihat neraca perdagangan. Phintraco memperkirakan neraca perdagangan Juli 2026 mencatat defisit sekitar 300 juta dolar AS, lebih kecil dibandingkan bulan sebelumnya.
Dari sisi global, perkembangan geopolitik dan harga komoditas, terutama minyak, menjadi perhatian. Kenaikan harga minyak yang berkelanjutan berpotensi mendorong inflasi lebih lanjut dan memengaruhi ekspektasi kebijakan moneter global.
Jika harga minyak bertahan di level tinggi dalam waktu lama, berpotensi akan kembali mendorong kenaikan laju inflasi. Hal ini semakin meningkatkan ekspektasi The Fed akan meningkatkan suku bunga pada bulan September
Dampak dan prospek
Secara teknikal, analis memprakirakan IHSG masih berada dalam fase konsolidasi pada rentang yang relatif sempit. Secara kinerja, IHSG mencatat kenaikan 4,64 persen secara bulanan pada Agustus 2026, namun masih terkoreksi 24,53 persen secara year to date (JanuariāAgustus 2026).
Pergerakan indeks ke depan akan sangat bergantung pada data inflasi, perkembangan neraca perdagangan, aliran modal asing, dan dinamika harga minyak dunia. Investor disarankan mengamati rilis data makro dan sentimen global sebelum mengambil posisi.
Redaktur Nasional yang fokus meliput isu pemerintahan, hukum, dan perkembangan sosial di Indonesia.
Berita Terkait
Pemerintah Siapkan Pusat Rehabilitasi untuk Warga Binaan Narkotika
Pemerintah siapkan pusat rehabilitasi dan reedukasi bagi warga binaan pengguna narkotika untuk atasi overkap...
BMKG Waspadai Hujan Lebat, Petir, Angin Kencang 5-8 Okt
BMKG keluarkan peringatan dini hujan lebat, petir, dan angin kencang pada 5-8 Oktober 2026; waspadai empat w...
Prabowo Pimpin Parade HUT ke-81 TNI di Mabes Cilangkap
Presiden Prabowo memimpin Parade HUT ke-81 TNI di Mabes Cilangkap, 5 Oktober 2026; melibatkan 3.378 personel...
HUT TNI ke-81: DPR Dorong Modernisasi Hadapi Perang Modern
DPR mendesak modernisasi alutsista dan peningkatan pelatihan TNI menjelang HUT ke-81, seiring anggaran 2027...
Dua Induk Badak Sumatera Bunting di Way Kambas, Harapan Konservasi
Dua induk badak sumatera, Ratu dan Delilah, dinyatakan bunting di Suaka Rhino Sumatra Way Kambas; pemantauan...
Prabowo Minta Bakom Gunakan Bahasa Sederhana dan Dengarkan Rakyat
Presiden Prabowo minta Bakom gunakan bahasa sederhana, jelaskan alasan kebijakan, dan dengarkan masukan masy...