IHSG Berpotensi Menguat Terbatas di Akhir Pekan
Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) di Bursa Efek Indonesia berpeluang menguat pada perdagangan Jumat, 26 Juni 2026. Kenaikan ini didorong sentimen positif dari koreksi harga minyak dan prospek fiskal, meski tekanan datang dari aksi jual bersih investor asing dan data ekonomi Amerika Serikat yang mempengaruhi ekspektasi suku bunga.
Sentimen pasar dan aliran modal asing
IHSG melanjutkan penguatan penutupan sebelumnya, naik 1,96 persen ke level 5.999. Namun kenaikan masih diikuti net sell asing sebesar Rp299 miliar, yang menahan laju penguatan indeks.
Beberapa saham yang paling banyak dijual investor asing antara lain:
- BMRI
- BBRI
- KLBF
- AMMN
- JSMR
Proyeksi pergerakan teknikal IHSG
Analisis teknikal memperkirakan IHSG akan melanjutkan kenaikan namun terbatas. Level support dan resistansi disorot sebagai acuan untuk keputusan trading.
Support: 5.960–5.920. Resistansi: 6.060–6.120.
"Hari ini IHSG berpotensi melanjutkan kenaikan tapi terbatas," kata Retail Research Analyst BNI Sekuritas, Muhammad Lutfi Permana.
Pengaruh data ekonomi AS
Beberapa rilis ekonomi Amerika Serikat memberi sinyal beragam kepada pasar global. Inflasi inti yang meningkat menjadi perhatian utama karena berpotensi mengubah kebijakan moneter The Fed.
Inflasi AS pada Mei 2026 tercatat naik menjadi 4 persen, terutama karena kenaikan harga energi. Lutfi memperingatkan bahwa laju inflasi yang meningkat "berpotensi mendorong The Fed untuk menaikkan suku bunga."
Sementara itu, data GDP kuartal I menunjukkan pertumbuhan 2,1 persen, di atas perkiraan 1,6 persen. Klaim pengangguran awal juga turun ke 215.000, lebih rendah dari estimasi 227.000 klaim.
Koreksi harga minyak dan implikasi fiskal
Di dalam negeri, pasar merespons positif koreksi harga minyak mentah. Harga Brent telah turun ke sekitar USD70 per barel, yang mereduksi tekanan biaya subsidi dan impor energi.
"Berlanjutnya koreksi harga minyak mentah akan mengurangi tekanan fiskal dan menyempitkan defisit APBN 2026," ujar Tim Analis Phintraco Sekuritas.
Selain itu, kabar rencana pemerintah memangkas anggaran tambahan program MBG sebesar Rp50 triliun turut memperkuat sentimen pasar.
"Rencana pemangkasan tambahan ini juga mendorong sentimen positif pasar," tambah tim analis tersebut.
Outlook
Secara keseluruhan, IHSG berpeluang menguat namun dalam rentang terbatas, dengan faktor penentu termasuk aliran modal asing, perkembangan inflasi AS, keputusan The Fed, serta pergerakan harga minyak dan kebijakan fiskal domestik. Pelaku pasar disarankan memantau data makro dan arus investasi asing sebelum mengambil posisi.
Koresponden internasional yang mengikuti perkembangan geopolitik dan isu global terkini.
Berita Terkait
BI Pertahankan Suku Bunga, Rupiah Menguat hingga Rp17.840
BI pertahankan suku bunga 5,75%; rupiah menguat 0,12% ke Rp17.840 per USD pada penutupan perdagangan Rabu, 1...
Secure Parking Kelola 1.700 Titik, Hampir 2 Juta Kendaraan Sehari
Secure Parking mengelola 1.700 titik parkir di Indonesia dan melayani hampir 2 juta kendaraan setiap hari, d...
BI Tahan Suku Bunga, IHSG Melemah 0,86% ke 6.394
IHSG turun 0,86% ke 6.394 pada 19 Agustus 2026 setelah BI mempertahankan suku bunga 5,75%; nilai transaksi R...
Pasokan Energi Jadi Prioritas Pertamina Pascagempa NTT
FKBI meminta pasokan BBM dan LPG jadi prioritas penanganan pascagempa NTT agar distribusi logistik dan aktiv...
IHSG Anjlok Jeda Siang, Investor Tunggu Keputusan Suku Bunga BI
IHSG melemah 0,60% pada jeda siang 19 Agustus 2026; investor menanti keputusan suku bunga BI dan terpengaruh...
IHSG Dibuka Melemah, Pasar Menanti Keputusan BI Rate
IHSG dibuka melemah 0,65% pada 19 Agustus 2026 saat pelaku pasar menunggu keputusan BI Rate dari Bank Indone...