IHSG Diperkirakan Terus Melemah Setelah Jatuh 4,5%
Perdagangan saham di Bursa Efek Indonesia (BEI) diperkirakan masih akan melemah hari ini karena belum ada katalis positif dari dalam maupun luar negeri. Pada Senin, Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) anjlok 4,5% ke level 5.342, disertai arus keluar modal asing dan pelemahan rupiah yang menekan sentimen pasar.
IHSG: tekanan teknikal dan arus modal
Semua sektor mencatat koreksi, dengan sektor industri tertekan paling dalam turun sekitar -6,39%. Pergerakan ini disertai aliran keluar modal asing sebesar Rp587 miliar dan pelemahan nilai tukar rupiah ke sekitar Rp18.188 per USD.
Dalam analisis teknikal, pelaku pasar masih membuka peluang penurunan lanjutan. Menurut Tim Analis Phintraco Sekuritas, IHSG berpeluang menguji level support berikutnya.
"Sehingga potensi penurunan IHSG lebih lanjut masih berpeluang terbuka secara teknikal. Selanjutnya IHSG berpotensi menguji level support di 5.100," kata Tim Analis Phintraco Sekuritas.
Cadangan devisa menyusut, kekhawatiran investor meningkat
Bank Indonesia melaporkan cadangan devisa Indonesia pada akhir Mei 2026 turun menjadi USD144,9 miliar dari USD146,2 miliar pada April. Level ini merupakan penurunan berkelanjutan dan tercatat sebagai titik terendah sejak Juni 2024.
"Ini merupakan level terendah sejak Juni 2024. Penurunan ini terutama disebabkan oleh pembayaran utang luar negeri pemerintah dan upaya Bank Indonesia untuk menstabilkan rupiah," ujar Tim Phintraco.
Meskipun masih di atas standar internasional sebesar 3 bulan impor, tim analis memperingatkan dampak jangka panjang bila penurunan cadangan terus berlanjut.
"Tapi penurunan cadangan devisa yang terus menerus dapat menurunkan kepercayaan investor dan lembaga rating," tambah Tim Phintraco.
Daya beli melemah, penjualan sepeda motor turun
Indikator konsumsi juga menunjukkan pelemahan. Data penjualan sepeda motor pada Mei 2026 turun 5,1% secara tahunan menjadi 479.388 unit, setelah April sempat naik 28,1%.
Tim Phintraco menilai kenaikan biaya hidup menjadi salah satu penyebab menurunnya permintaan, yang menunjukkan ada tekanan pada daya beli rumah tangga.
Sentimen global dan risiko geopolitik
Bursa global bergerak beragam pada perdagangan Senin. Wall Street mayoritas menguat, dibantu rebound saham semikonduktor, namun perhatian investor tetap tertuju pada eskalasi konflik di Timur Tengah.
"Meskipun pasar saham menguat, perhatian investor masih tertuju pada perkembangan konflik di Timur Tengah. Ketegangan kembali meningkat setelah Iran melancarkan serangan rudal balasan ke Israel pada Minggu," kata Head of Retail Research BNI Sekuritas, Fanny Suherman.
Di kawasan Asia-Pasifik, sentimen geopolitik memicu koreksi tajam; bursa Korea Selatan memimpin penurunan dengan indeks Kospi turun hingga 8,3%.
Impak dan langkah ke depan
Gabungan faktor domestik dan eksternal mendorong sentimen negatif. Tim analis menyarankan pemerintah memperkuat kepercayaan investor melalui dorongan ekspor, pengurangan impor, serta upaya menarik investasi asing langsung. Tanpa langkah antisipatif, tekanan pada IHSG dan kestabilan makro berpotensi berlanjut.
Redaktur Nasional yang fokus meliput isu pemerintahan, hukum, dan perkembangan sosial di Indonesia.
Berita Terkait
IHSG Diperkirakan Melemah, Pasar Cermati Laju Inflasi
IHSG diperkirakan melemah dan menguji level 6.000 di tengah aksi jual asing serta kenaikan inflasi September...
DJP Percepat Pemungutan PPh 22 melalui Empat Lokapasar
DJP mempercepat pemungutan PPh Pasal 22 melalui lokapasar mulai 1 Oktober 2026; empat platform ditunjuk dan...
Dua Wamenkeu Dilantik, Kemenkeu Perkuat Pelaksanaan APBN
Luky Alfirman dan Nurkholisoh Ibnu Aman dilantik sebagai Wamenkeu pada 1 Okt 2026 untuk memperkuat pelaksana...
Rupiah Turun ke Rp17.966 di Tengah Ketidakpastian AS–Iran
Rupiah melemah 0,40% ke Rp17.966 per dolar pada 1 Okt 2026, terdorong ketidakpastian AS–Iran dan pergeseran...
IHSG Melemah 0,83% ke 6.020 pada Sesi I (1 Okt 2026)
IHSG turun 0,83% ke 6.020,69 pada sesi I (1 Okt 2026), terdorong volatilitas global dan penyesuaian portofol...
Rupiah Kembali Melemah, Analis Waspadai Risiko Tembus Rp18.000
Rupiah melemah ke Rp17.919 per dolar AS pada pembukaan 1 Okt 2026; analis sebut rentan tembus Rp18.000 jika...