Pengguna KAI Logistik Meningkat, Volume Barang Capai 32,5 Juta Ton
KAI Logistik mencatat kenaikan pengguna jasa dan pengiriman barang mencapai 32.498.043 ton pada Semester I 2026. VP Corporate Communication KAI, Anne Purba, mengatakan layanan berbasis kereta api itu berkembang lewat model door to door yang memudahkan pelanggan.
Peningkatan pengguna dan layanan door-to-door
KAI Logistik dirancang untuk melayani distribusi barang menggunakan jaringan kereta api. Layanannya dikemas secara door to door, sehingga pelanggan tinggal menunggu kurir mengambil dan mengantar paket sampai ke alamat tujuan.
Keunggulan layanan ini adalah tarif kompetitif dan pengantaran yang dikhususkan pada paket. Selain itu, KAI menekankan kecepatan dan keamanan pengiriman sebagai nilai jual utama.
Detail volume pengiriman Semester I 2026
Pada periode Januari–Juni 2026, total pengiriman barang tercatat mencapai 32.498.043 ton. Rinciannya sebagai berikut:
| Komoditas | Ton (Semester I 2026) |
|---|---|
| Batu bara | 26.534.095 |
| Komoditas nonbatu bara | 5.963.948 |
Pengelolaan sumber daya dan efisiensi energi
Anne Purba menilai pertumbuhan pelanggan dan volume barang menuntut pengelolaan sumber daya yang lebih baik. Untuk itu, KAI mengarahkan program efisiensi energi agar operasional tetap andal dan kapasitas layanan terjaga.
“Pertumbuhan pelanggan dan besarnya volume barang perlu diimbangi dengan pengelolaan sumber daya yang semakin baik. KAI mengarahkan efisiensi energi agar perjalanan tetap andal, kapasitas layanan terjaga, dan dampak lingkungan dapat dikelola secara bertahap,” ujar Anne, Sabtu 25 Juli 2026.
Implementasi efisiensi dilengkapi dengan pelatihan manajemen energi untuk meningkatkan pemahaman pekerja tentang penghematan. Pelatihan ini bertujuan membangun kebiasaan kerja yang lebih sadar energi pada operasi dan fasilitas pendukung.
Perbaikan metode pengukuran energi
KAI juga memperbarui metode perhitungan dan validasi data konsumsi energi pada 2025. Penyempurnaan metode dilakukan agar pengukuran menjadi lebih relevan, akurat, dan dapat dipertanggungjawabkan.
“Efisiensi energi akan terus menjadi bagian dari evaluasi operasional KAI. Dengan skala pelayanan yang semakin besar, pengelolaan energi perlu dijalankan secara disiplin, berbasis data, dan terhubung dengan agenda keberlanjutan perusahaan,” tutup Anne.
Dengan lonjakan pengguna dan volume pengiriman, fokus KAI kini bergeser ke penguatan efisiensi dan kualitas layanan. Ke depan, perusahaan diharapkan menyeimbangkan ekspansi layanan dengan pengelolaan energi yang lebih terukur.
Reporter ekonomi yang mengulas pasar, investasi, UMKM, serta kebijakan fiskal dan moneter.
Berita Terkait
Bunga Utang Capai Rp394,1 T, APBN Agustus 2026 Defisit
Pembayaran bunga utang mencapai Rp394,1 triliun hingga Agustus 2026, membuat APBN tercatat defisit Rp240,1 t...
Pembiayaan Utang Capai Rp506 T hingga Agustus 2026
Realisasi pembiayaan utang neto Rp506 triliun hingga 31 Agustus 2026, setara 60,8% dari target APBN 2026; SB...
IHSG Melemah 0,33% ke 6.441,15 pada Penutupan Jumat
IHSG turun 0,33% ke 6.441,15 pada penutupan Jumat; volume 32,6 miliar saham dan nilai transaksi Rp19,2 trili...
Penerbitan SBN 2026 Tetap Sesuai Rencana, Defisit APBN 2,85%
Kemenkeu: penerbitan SBN hingga akhir 2026 on track untuk penuhi pembiayaan dan jaga outlook defisit APBN 2,...
Sharp Indonesia Raih Dua Penghargaan PR Pilihan Jurnalis 2026
Sharp Indonesia dan Andry Adi Utomo meraih dua penghargaan Journalists’ Choice di Indonesia PR of the Year 2...
AXA dirikan AXA Sharia Life untuk perluas proteksi syariah
AXA mendirikan AXA Sharia Life Insurance dan mendapat izin OJK untuk memperkuat layanan asuransi syariah di...