Kesehatan

IDAI Gaungkan ASI Eksklusif hingga Usia Dua Tahun

Bagikan:

Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) menggaungkan gerakan pemberian ASI eksklusif selama enam bulan dan melanjutkannya hingga anak berusia dua tahun. Ajakan disampaikan oleh Ketua IDAI, Piprim Basarah Yanuarso, dalam acara di Rumah Sakit Universitas Indonesia (RSUI), Depok, Jawa Barat, Sabtu, 8 Agustus 2026. IDAI menekankan aksi nyata untuk meningkatkan cakupan pemberian ASI, bukan sekadar seremonial.

Ajakan dan tujuan gerakan

IDAI meminta dukungan semua pihak untuk meningkatkan persentase ibu yang memberikan ASI penuh hingga dua tahun. Organisasi kedokteran anak ini melihat pentingnya langkah konkret di tingkat keluarga dan fasilitas layanan kesehatan.

"Alhamdulillah pada pagi hari ini kita mengadakan satu acara yang saya kira sangat penting. Mudah-mudahan tidak hanya sekadar seremonial, tapi dilanjutkan dengan tindakan nyata yang intinya bisa berusaha meningkatkan persentase ibu-ibu yang memberikan ASI penuh selama dua tahun,"

Peran Inisiasi Menyusu Dini (IMD)

Piprim menyoroti Inisiasi Menyusu Dini (IMD) sebagai langkah awal keberhasilan pemberian ASI. Ia menyebut cakupan IMD di Indonesia masih rendah, padahal IMD berpengaruh signifikan terhadap keberlanjutan ASI eksklusif.

"Untuk keberhasilan ASI itu bisa dimulai dengan Inisiasi Menyusui sejak Dini (IMD). Di Indonesia ini masih rendah, padahal itu juga salah satu hal yang berpengaruh terhadap pemberian ASI eksklusif,"

Dukungan keluarga dan lingkungan kerja

IDAI menekankan peran keluarga dekat, termasuk ayah, kakek, dan nenek, dalam mendukung ibu memberikan ASI. Dukungan ini dinilai krusial agar ibu mampu mempertahankan ASI eksklusif minimal enam bulan dan melanjutkannya hingga dua tahun jika memungkinkan.

"Dukungan dari keluarga sekitar ini juga sangat penting, terutama kakek neneknya. Ini ada istilah baru, kakek ASI, selain ayah ASI,"

Selain keluarga, Piprim mengajak lingkungan kerja menyediakan ruang dan kebijakan yang mendukung ibu menyusui. Menurutnya, tanpa dukungan tempat kerja, banyak ibu sulit melanjutkan pemberian ASI secara optimal.

Tantangan informasi dan kampanye

Piprim turut menyoroti pengaruh media dan platform digital yang memengaruhi pilihan asupan anak. Untuk itu, IDAI mengajak memperkuat edukasi publik agar ASI eksklusif tetap menjadi pilihan utama keluarga.

"Gempuran -di media, di media sosial maupun platform lain ini saya kira cukup gencar. Ini tentu saja perlu dukungan kita semua,"

Kolaborasi luas dan langkah ke depan

IDAI menginginkan keterlibatan berbagai pihak, termasuk influencer dan pegiat kampanye ASI, untuk mendorong perubahan perilaku. Organisasi ini berharap gerakan itu diikuti tindakan nyata di komunitas, fasilitas kesehatan, dan tempat kerja.

Dengan fokus pada IMD, dukungan keluarga, serta kebijakan ramah menyusui di tempat kerja, IDAI berharap angka pemberian ASI eksklusif meningkat dan lebih banyak anak Indonesia mendapatkan manfaat ASI hingga usia dua tahun.

Putri Anindya
Penulis
Putri Anindya

Editor gaya hidup yang menulis tentang tren, kesehatan, perjalanan, dan inspirasi kehidupan modern.

Berita Terkait