Harga Bawang Merah Naik di Atas HAP, Stok Nasional Masih Surplus
Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat harga bawang merah nasional naik pada pekan ketiga Mei 2026 dan berada di atas Harga Acuan Penjualan (HAP). Kenaikan 1,24 persen dibanding April mendorong rata-rata harga menjadi Rp44.438/kg, sementara ketersediaan nasional menurut Kementerian Pertanian masih surplus menjelang Iduladha.
Data BPS: Harga dan Sebaran
BPS melaporkan rata-rata harga bawang merah pada pekan ketiga Mei mencapai Rp44.438 per kilogram, melebihi batas atas HAP sebesar Rp41.500/kg. Batas bawah HAP tercatat Rp36.500/kg.
"Harga bawang merah secara rata-rata berada di atas HAP di pekan ketiga Mei. Secara umum harga bawang merah sampai pekan ketiga Mei naik 1,24 persen dibanding April 2026,"
Lebih dari setengah wilayah Indonesia, tepatnya 52,22 persen, mengalami kenaikan harga bawang merah. Hingga pekan ketiga Mei, jumlah kabupaten dan kota dengan kenaikan terus bertambah menjadi 188 daerah.
Daerah dengan Kenaikan IPH
Menurut BPS, beberapa daerah mencatat lonjakan Indeks Perkembangan Harga (IPH) cukup tinggi. Kabupaten Jombang terpantau mengalami kenaikan IPH tertinggi, yaitu 24,25 persen. Kabupaten Landak mengikuti dengan kenaikan 24,13 persen, di mana harga mencapai sekitar Rp60.000/kg atau 44,58 persen di atas HAP.
Daerah lain yang juga mencatat kenaikan signifikan adalah Kabupaten Tegal (23,12 persen) dan Kota Tebing Tinggi (20,11 persen).
Sementara itu, harga tertinggi tercatat di Kabupaten Puncak, Papua Tengah, mencapai Rp100.000/kg. Harga terendah ditemukan di Kabupaten Nganjuk, Jawa Timur, sebesar Rp24.923/kg.
Kementan: Stok Surplus Menjelang Iduladha
Kementerian Pertanian memperkirakan produksi bawang merah pada Mei 2026 mencapai 115.777 ton. Kebutuhan nasional pada bulan itu diperkirakan 110.650 ton, sehingga neraca menunjukkan surplus sekitar 5.127 ton.
"Neraca bulanan kita dalam menghadapi Iduladha masih posisi surplus. 5.127 ton,"
Pemerintah memastikan pasokan tetap terjaga dari sentra seperti Enrekang, Solok, sebagian Brebes, Kendal, dan Bangli. Target pasokan tambahan ke Kalimantan sekitar 100 ton, sementara penguatan distribusi menuju daerah Sumatera meliputi Palembang, Jambi, Medan, dan Pesisir Selatan.
Risiko Produksi dan Langkah Pengendalian
Kementan mewaspadai penurunan produksi akibat cuaca ekstrem dan serangan organisme pengganggu tanaman. Beberapa sentra utama, termasuk Solok, Bima, Enrekang, dan Demak, dilaporkan mengalami penurunan produksi.
Pemerintah daerah diminta meningkatkan pemantauan sentra produksi, mengendalikan OPT, dan mengoptimalkan sarana irigasi. Upaya ini diharapkan menjaga kualitas dan kontinuitas pasokan menjelang permintaan puncak Iduladha.
Dengan kombinasi kenaikan harga di pasar dan ketersediaan pasokan yang masih surplus, tantangan utama ke depan adalah menjaga stabilitas harga melalui distribusi yang cepat serta mitigasi risiko produksi di sentra-sentra kritis.
Berita Terkait
Wamen Mugiyanto: Revisi UU HAM Fokus Tata Kelola
Wamen HAM Mugiyanto mengumumkan revisi UU HAM pada uji publik di Jayapura untuk memperkuat tata kelola, tang...
Wamen HAM: Aspirasi Publik Jadi Dasar Penyusunan RUU HAM
Wamen HAM Mugiyanto pastikan masukan publik jadi dasar penyusunan RUU HAM yang masuk Prolegnas 2026, dengan...
Pahami Perbedaan Hari Lahir Pancasila dan Hari Kesaktian
Perbedaan Hari Lahir Pancasila (1 Juni) dan Hari Kesaktian Pancasila (1 Oktober) terletak pada tanggal, lata...
Sejarah Hari Lahir Pancasila: Dari BPUPKI hingga Pengesahan 1 Juni
Ringkasan sejarah Pancasila: gagasan diperkenalkan pada 1 Juni 1945 di sidang BPUPKI, disempurnakan lewat Pi...
Download Logo & Twibbon Hari Lahir Pancasila 2026 dari BPIP
BPIP merilis tema, logo resmi, dan twibbon Hari Lahir Pancasila 2026 yang bisa diunduh gratis untuk digunaka...
Hari Lahir Pancasila: Kata-kata Semangat Kebangsaan untuk 1 Juni
Peringatan Hari Lahir Pancasila 1 Juni 2026: bagikan ucapan bernuansa kebangsaan dan persatuan sebagai bentu...