Wamenkes: Hantavirus di Indonesia Beda dengan Kasus Kapal Pesiar
Wakil Menteri Kesehatan (Wamenkes) Dante Saksono memastikan hantavirus yang pernah ditemukan di Indonesia berbeda dengan kasus hantavirus pada kapal pesiar. Pernyataan itu disampaikan usai kegiatan di Banda Aceh pada Jumat, 22 Mei 2026, terkait upaya imunisasi anak.
Jenis hantavirus yang ditemukan di Indonesia
Dante menjelaskan ada dua jenis hantavirus: renal disease dan pulmonary disease. Menurutnya, yang tercatat di sistem kesehatan Indonesia adalah hantavirus renal disease, bukan tipe pulmonal yang dilaporkan pada kapal pesiar.
"Yang ada di Indonesia adalah hantavirus renal disease. Kalau itu biasanya gejalanya seperti leptospirosis, pasiennya panas, kemudian kuning. Biasanya mengalami gangguan ginjal, dan kita bisa obati itu dengan mudah,"
Ia menambahkan pasien dengan hantavirus renal biasanya menunjukkan demam, kulit menguning, dan gangguan fungsi ginjal. Penanganan dilakukan sesuai gejala dan dinilai dapat ditangani secara medis.
Kasus kapal pesiar dan penelusuran WNA
Sebelumnya, Menteri Kesehatan menyampaikan Indonesia menerima informasi dari pemerintah Inggris tentang seorang WNA yang menjadi kontak erat pasien positif hantavirus di kapal pesiar. Orang tersebut diketahui bekerja di Indonesia dan langsung dilacak oleh otoritas.
"Tanggal 8 kita identifikasi. Kemudian kita periksa dan kondisinya sekarang baik-baik saja,"
WNA tersebut kemudian diperiksa di RSPI Sulianti Saroso. Hasil pemeriksaan sementara menunjukkan negatif hantavirus, namun yang bersangkutan diminta menjalani isolasi sementara untuk memantau masa inkubasi.
"WNA itu sudah diperiksa menyeluruh di RSPI Sulianti Saroso dan hasil sementara menunjukkan negatif hantavirus. Namun, pemerintah tetap meminta yang bersangkutan menjalani isolasi sementara guna memantau masa inkubasi penyakit tersebut,"
Mitigasi dan kesiapsiagaan nasional
Menurut Dante, pemerintah terus melakukan mitigasi melalui edukasi dan penyebaran informasi tentang gejala hantavirus renal. Ia menegaskan hingga kini belum ada bukti penularan antar manusia pada jenis hantavirus yang tercatat di Indonesia.
Menteri Kesehatan juga menilai pengalaman pandemi Covid-19 meningkatkan kemampuan surveilans dan kerja sama internasional. Hal ini membuat deteksi ancaman penyakit menular dari luar negeri menjadi lebih cepat.
"Pengalaman pandemi Covid-19 membuat kemampuan surveilans dan kerja sama internasional Indonesia kini jauh lebih siap. Pemerintah kini lebih cepat mendeteksi potensi ancaman penyakit menular dari luar negeri sebelum meluas,"
Implikasi ke depan
Pemerintah akan melanjutkan pemantauan, edukasi publik, dan pemeriksaan kasus suspek sesuai protokol. Informasi publik tentang gejala dan langkah pencegahan tetap menjadi fokus agar potensi kebingungan dengan penyakit lain, seperti leptospirosis, dapat diminimalkan.
Berita Terkait
BPOM Temukan 22 Obat Herbal Mengandung Bahan Kimia Berbahaya
BPOM menemukan 22 merek obat bahan alam mengandung bahan kimia obat berbahaya pada pengawasan Maret 2026; 12...
Kemenkes: Imunisasi Lengkap Kunci Lindungi Anak
Kemenkes menegaskan imunisasi lengkap kunci melindungi anak dan membentuk kekebalan kelompok; imbauan disamp...
Klinik FBC Hadirkan XERF: Pengencangan Kulit Tanpa Operasi
FBC Clinic luncurkan XERF dari Korea pada 21 Mei 2026, menawarkan pengencangan kulit tanpa operasi dengan bi...
Dokter Ajak Tenaga Kesehatan Pakai Medsos untuk Lawan Hoaks Imunisasi
Dokter anak Aslinar mengajak tenaga kesehatan menggunakan media sosial untuk meluruskan hoaks imunisasi dan...
BKKBN: Perang Melawan Stunting demi Jendela Emas Indonesia
BKKBN menegaskan perang melawan stunting sebagai kunci memanfaatkan Jendela Emas; program GENTING dan kolabo...
Penanganan Cepat Kunci Keselamatan Pasien Aorta di Indonesia
Penanganan cepat vital untuk menyelamatkan pasien penyakit aorta; teknik FET dan EVAR didukung layanan 24 ja...