Gaya Hidup

Grebeg Besar Surakarta 2026: Dua Gunungan Perkuat Syukur dan Persatuan

Bagikan:
Dua gunungan Grebeg Besar Keraton Surakarta diarak menuju Masjid Agung Solo

Keraton Kasunanan Surakarta menggelar Grebeg Besar pada 28-29 Mei 2026 dengan arak-arakan dua gunungan yang menjadi simbol syukur, persatuan, dan pelestarian budaya di Solo. Prosesi dipimpin Pakubuwono XIV Hangabehi dan menarik ribuan warga untuk menyaksikan serta berebut berkah usai doa di Masjid Agung Solo.

Makna dan isi gunungan

Dalam tradisi ini, dua gunungan yang diarak memiliki makna berbeda namun saling melengkapi. Gunungan Jaler berisi hasil bumi mentah sebagai lambang kesuburan dan karunia alam. Gunungan Estri diisi makanan matang sebagai simbol rezeki siap santap yang patut disyukuri bersama.

“Gunungan Jaler ke masjid, Gunungan Estri kembali ke keraton,”

Pernyataan itu disampaikan oleh Kanjeng Raden Mas Riya Arya Panji L. Nuky M Adiningrat pada Jumat, 29 Mei 2026, ketika memaparkan tata pelaksanaan tradisi tersebut.

Rangkaian prosesi dan rute tradisional

Prosesi dimulai dari halaman Keraton dan berlanjut ke Masjid Agung Solo, lalu kembali ke lingkungan keraton untuk bagian tertentu. Rute tradisional sengaja dipertahankan agar gunungan dapat didoakan terlebih dahulu sebelum masyarakat melakukan ngalap berkah.

Kirab budaya yang berlangsung khidmat itu dipimpin langsung oleh para abdi dalem. Suasana meriah terlihat saat dua gunungan diarak, didoakan, lalu menjadi rebutan warga usai upacara agama.

Persiapan dan logistik

Kanjeng Nuky menjelaskan persiapan pembuatan gunungan membutuhkan waktu kurang dari satu pekan. Hal itu disebabkan kebutuhan bahan yang harus segar pada saat diarak sehingga proses pemilihan dan penataan dipercepat namun teliti.

  • Gunungan Jaler: hasil bumi mentah (sayur, buah, dan hasil pertanian).
  • Gunungan Estri: makanan matang khas Jawa sebagai simbol rezeki.

Dampak sosial dan harapan keraton

Penyelenggaraan selama dua hari tahun ini juga dimaknai sebagai penghormatan kepada sentono, abdi dalem, dan warga keraton. Keraton berharap tradisi ini memperkuat rasa syukur sekaligus kebersamaan di antara warga Surakarta.

Selain aspek ritual, acara tahunan ini berperan menjaga warisan budaya daerah. Dengan melibatkan masyarakat luas, Grebeg Besar berpotensi meningkatkan perhatian publik terhadap pelestarian tradisi lokal.

Kesimpulan: Grebeg Besar Keraton Surakarta 2026 menegaskan peran budaya sebagai perekat sosial. Melalui dua gunungan—Jaler dan Estri—keraton menyalurkan pesan syukur dan solidaritas di tengah masyarakat Solo.

J
Penulis
John Doe

No bio yet 😊

Berita Terkait