Gaya Hidup

Grebeg Besar Keraton Yogyakarta: Makna dan Penyederhanaan 2026

Bagikan:
Persiapan gunungan Grebeg Besar Keraton Yogyakarta oleh abdi dalem

Grebeg Besar Keraton Yogyakarta digelar lebih sederhana pada 27 Mei 2026 bertepatan Hari Raya Iduladha 1447H/Dal 1959. Upacara dipangkas atas titah Sri Sultan Hamengku Buwono X sehingga arak-arakan prajurit dan rayahan gunungan untuk publik ditiadakan. Penyelenggaraan tetap menegaskan makna tradisi sebagai bentuk sedekah raja kepada rakyat dan perawatan memori budaya keraton.

Makna Garebeg Besar

Pemerhati budaya dan abdi dalem Keraton Ngayogyakarta Hadiningrat, Widya Chandra Ismaya Ningrat, menjelaskan tradisi ini berakar sebagai wujud syukur dan sedekah raja. Tradisi itu merepresentasikan hubungan timbal balik antara raja dan kawula secara simbolis melalui gunungan hasil bumi.

Tradisi ini menjadi sedekah raja kepada kawula melalui gunungan hasil bumi secara simbolis

Chandra menegaskan setiap unsur gunungan menyimpan pesan leluhur. Elemen seperti bantengan dan kasang panjang mengandung makna kesempurnaan dan umur panjang, serta simbol peran bersama antara istana dan masyarakat.

Persiapan dan Teknis Gunungan

Persiapan gunungan dilakukan sekitar satu bulan, karena beberapa bahan harus dikeringkan di bawah matahari secara alami. Menurut Chandra, penggunaan oven tidak menghasilkan kualitas yang diinginkan, sehingga proses tradisional lebih diutamakan.

Kalau memakai oven, hasilnya buruk

Ukuran gunungan biasanya berkisar antara dua setengah hingga tiga meter. Penyusunan melibatkan abdi dalem dan putri keraton, yang bersama-sama merangkai unsur buah, sayur, dan hiasan simbolik.

Penyederhanaan Prosesi 2026

Pihak keraton melalui penanggung jawab prosesi, Kanjeng Raden Tumenggung Kusumanegara, menyatakan penyederhanaan dilakukan untuk mematuhi dhawuh atau titah raja. Akibatnya, arak-arakan prajurit dan tradisi rayahan gunungan oleh masyarakat ditiadakan pada perhelatan kali ini.

Selengkapnya, isi gunungan dibagikan kepada abdi dalem dan sentana dalem di lingkungan keraton, bukan kepada kerumunan publik seperti tahun-tahun sebelumnya. Langkah ini sekaligus menunjukkan fleksibilitas tradisi Jawa yang bisa disesuaikan dengan kondisi sosial dan ekonomi.

Antusiasme Publik dan Pesan Budaya

Meski prosesi dipangkas, antusiasme warga tetap tinggi karena Grebeg Besar menjadi momen langka untuk merawat ingatan budaya bersama keraton. Chandra berpesan agar masyarakat memaknai tradisi tanpa mencampuradukkan agama dan memperkuat edukasi budaya, khususnya melalui media sosial untuk menjangkau generasi muda.

Grebeg Besar tahun ini menegaskan dua hal: tradisi tetap dilestarikan dan dapat disesuaikan demi kepentingan tata kelola keraton serta keselamatan publik. Ke depan, penyederhanaan semacam ini bisa menjadi model adaptasi upacara adat di tengah dinamika sosial dan ekonomi.

J
Penulis
John Doe

No bio yet 😊

Berita Terkait