BMKG: Suhu Bali Turun saat Awal Musim Kemarau
Denpasar — Warga Bali melaporkan suhu yang lebih dingin, terutama pada malam dan dini hari, seiring masuknya massa udara dingin dari Australia pada awal musim kemarau, kata BMKG Wilayah III Denpasar. Fenomena ini terjadi karena puncak musim kering di Bali yang biasanya berlangsung Juni—Agustus.
Penyebab penurunan suhu
Prakirawan BMKG Wilayah III Denpasar, Wayan Gita Giriharta, menjelaskan bahwa penurunan suhu berkaitan dengan musim dingin di Australia. Tekanan udara yang relatif tinggi di Australia mendorong massa udara dingin bergerak ke utara dan melintasi wilayah Bali.
"Australia saat ini memasuki periode musim dingin dengan tekanan udara relatif tinggi. Ini menyebabkan massa udara dingin dari Australia bergerak menuju Indonesia, lewat Bali dan sekitarnya," kata Gita.
Selain pengaruh massa udara, kondisi langit yang umumnya cerah dan sedikit awan mempercepat pelepasan panas yang tersimpan di permukaan setelah matahari terbenam. Akibatnya, suhu permukaan terasa lebih sejuk menjelang malam hingga subuh.
Perkiraan suhu
BMKG memprakirakan rentang suhu di Bali pada 30-31 Mei berkisar antara 20°C hingga 32°C. Prediksi ini sedikit lebih rendah dibandingkan prakiraan seminggu sebelumnya yang memperkirakan 21°C sampai 34°C.
Daerah tujuan wisata pegunungan diperkirakan mengalami suhu terendah. Contohnya:
- Bedugul (Tabanan): suhu diperkirakan turun sampai sekitar 19°C
- Kintamani (Bangli): suhu diperkirakan berkisar 19°C hingga 30°C pada 31 Mei
Dampak dan imbauan BMKG
BMKG mengimbau warga dan wisatawan, khususnya yang melakukan perjalanan ke dataran tinggi, untuk mempersiapkan pakaian hangat pada malam dan dini hari. Perubahan suhu ini bersifat umum selama puncak musim kemarau saat radiasi matahari yang diterima wilayah selatan Indonesia berkurang.
Dengan berjalannya musim kemarau, kondisi serupa diperkirakan akan tetap terjadi sehingga kewaspadaan terhadap perubahan suhu mendadak perlu terus diperhatikan.
Secara ringkas, penurunan suhu di Bali saat ini merupakan kombinasi pengaruh massa udara dingin dari Australia, langit yang cerah, dan pergeseran posisi matahari yang mengurangi radiasi di belahan selatan.
Berita Terkait
Blok M Ramai saat Libur: Antrean di Spot Kuliner Viral
Blok M kembali ramai saat libur Idul Adha, dengan antrean panjang di spot kuliner viral seperti Little Salt...
Pengereman Cepat Motor: Teknik Reaction Braking dan Tips Latihan
Reaction braking wajib dikuasai pengendara motor untuk hentikan kendaraan aman saat bahaya mendadak; berikut...
Grebeg Besar Keraton Surakarta: Antusiasme Lintas Generasi
Grebeg Besar Keraton Surakarta berlangsung dua hari, menarik peserta lintas generasi yang datang untuk "meng...
Makna Tradisi Grebeg Besar di Keraton Surakarta saat Iduladha
Grebeg Besar di Keraton Surakarta sambut Iduladha dengan dua gunungan, simbol syukur dan persatuan; tahun in...
Tradisi Meugang Aceh: Menyambut Iduladha dengan Makan Besar
Meugang adalah tradisi Aceh menyembelih dan memasak daging sebelum Iduladha untuk berkumpul, bersyukur, dan...
WNI di Tokyo Promosikan Budaya Minangkabau lewat Festival
IKM Jepang gelar festival "Rang Minang Baralek Gadang" di Tokyo untuk memperkenalkan budaya Minangkabau kepa...