Nasional

Gempa NTT: BMKG Catat 7.492 Gempa Susulan hingga 26 Agustus

Bagikan:
Evakuasi dan pengungsian warga pasca gempa di Nusa Tenggara Timur

BMKG mencatat 7.492 gempa susulan di wilayah Nusa Tenggara Timur (NTT) hingga Rabu, 26 Agustus 2026 pukul 05.00 WIB, menyusul gempa utama magnitudo 7,7 yang mengguncang Flores pada 15 Agustus 2026. Aktivitas seismik ini berkisar magnitudo 1,0 hingga 6,2 dan mendorong banyak warga bertahan di pengungsian.

Jumlah gempa susulan dan karakteristik magnitudo

Data BMKG memperlihatkan rentang magnitudo gempa susulan yang beragam. Dari 7.492 kejadian, sebanyak 33 tercatat berkekuatan di atas magnitudo 5, dan 143 gempa dilaporkan dirasakan oleh masyarakat setempat.

'Dari ribuan aktivitas gempa tersebut, sebanyak 33 kejadian tercatat memiliki magnitudo di atas 5. Sementara, 143 gempa bumi susulan dilaporkan dirasakan oleh masyarakat NTT,' kata BMKG.

Jumlah gempa susulan terus bertambah dalam beberapa hari terakhir; sebelumnya BMKG melaporkan 6.397 kejadian sampai 24 Agustus 2026. Lonjakan aktivitas ini menjadi alasan warga waspada untuk kembali ke rumah, khususnya bangunan yang sudah mengalami kerusakan.

'Getaran yang masih terjadi menimbulkan kekhawatiran warga untuk kembali ke rumah. Terutama pada bangunan yang sebelumnya telah mengalami kerusakan,' ujar BMKG.

Dampak korban jiwa dan luka

Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) melaporkan dampak korban jiwa yang terus bertambah akibat rangkaian gempa ini. Hingga 25 Agustus 2026 tercatat 103 orang meninggal dunia.

'Tambahan tiga jiwa, total 103 jiwa meninggal,' ujar Plt Kepala Pusat Data, Informasi, dan Komunikasi Kebencanaan BNPB, Berton SP Panjaitan.

Distribusi korban meninggal menurut kabupaten tercatat sebagai berikut:

Kabupaten Korban Meninggal (Orang)
Manggarai 41
Manggarai Timur 34
Nagekeo 13
Sikka 6
Ngada 5
Ende 3
Manggarai Barat 1

BNPB juga mencatat sekitar 1.666 orang luka-luka hingga 25 Agustus 2026, meningkat 63 orang dari data sebelumnya. Sekitar 45 persen korban meninggal berasal dari kelompok lanjut usia, sementara 37 persen adalah kelompok dewasa.

'Tidak hanya korban meninggal, jumlah warga yang mengalami luka-luka juga mengalami peningkatan. Hingga 25 Agustus 2026, BNPB mencatat 1.666 orang mengalami luka, bertambah 63 orang dibandingkan data sebelumnya,' ujar BNPB.

Pengungsian dan bantuan logistik

Situasi pengungsian masih menjadi perhatian. BNPB melaporkan 185.131 warga mengungsi, bertambah 4.804 orang dari pendataan sebelumnya. Pertambahan terjadi di tengah aktivitas gempa susulan yang belum berhenti.

Untuk memenuhi kebutuhan terdampak, BNPB menerima 2.032 ton bantuan logistik. Sekitar 75,77 persen dari pasokan tersebut telah disalurkan melalui jalur darat, laut, dan udara. Distribusi dipusatkan di dua jalur utama: Labuan Bajo dan Maumere.

  • Labuan Bajo: sekitar 1.035 ton logistik
  • Maumere: sekitar 505 ton logistik

Kondisi di lapangan dan langkah ke depan

Getaran susulan yang masih terjadi menimbulkan kecemasan bagi warga untuk kembali menempati rumah, terutama bangunan yang rusak. Pemantauan seismik dan pendataan kerusakan terus dilakukan oleh otoritas terkait.

Dengan tingginya jumlah pengungsi dan kebutuhan logistik, upaya distribusi bantuan dan perbaikan infrastruktur mendesak. Pemerintah daerah dan pusat perlu melanjutkan koordinasi agar bantuan cepat sampai ke wilayah terdampak dan risiko bagi warga dapat diminimalkan.

Andika Nugraha
Penulis
Andika Nugraha

Redaktur Nasional yang fokus meliput isu pemerintahan, hukum, dan perkembangan sosial di Indonesia.

Berita Terkait