Nasional

Daftar Gempa Besar NTT dan Respons Pemerintah 2026

Bagikan:
Evakuasi dan penanganan darurat setelah gempa di Nusa Tenggara Timur

BNPB mencatat ratusan gempa susulan signifikan setelah gempa utama Magnitudo 7,7 yang mengguncang Nusa Tenggara Timur (NTT) pada Sabtu, 15 Agustus 2026. Susulan tercatat berkekuatan antara 5,5 hingga 6,2. Pemerintah segera mengaktifkan posko penanggulangan bencana untuk mempercepat evakuasi dan penanganan darurat.

Daftar kejadian gempa besar di NTT

BMKG memasukkan riwayat gempa merusak di NTT ke dalam katalog 1821–2025. Catatan itu menunjukkan berbagai kejadian, dari tanpa korban hingga bencana yang menewaskan ribuan orang dan memicu tsunami. Berikut daftar gempa dengan magnitudo antara 5 hingga 7 yang terdaftar:

  • 30 Juli — Kupang: Magnitudo 6,1, kedalaman 30 km. Tidak ada korban jiwa.
  • 15 Juli — Alor Timur: Magnitudo 6,4, kedalaman 10 km. Sejumlah fasilitas umum dan rumah rusak.
  • 4 Juli — Kalabahi, Alor: Magnitudo 6,2, kedalaman 29 km. 23 meninggal, 181 luka-luka, 5.400 kehilangan tempat tinggal, 1.150 bangunan hancur.
  • 12 Desember — Flores: Magnitudo 7,9, kedalaman 35 km disertai tsunami. Sekitar 2.500 orang meninggal atau hilang dan sekitar 90 persen bangunan di Maumere hancur.
  • 12 November — Kalabahi, Alor: Magnitudo 6,5, kedalaman 10 km. 31 meninggal, 400 luka-luka, sekitar 500 rumah dan sejumlah bangunan rusak.
  • 4 November — Alor: Magnitudo 6,2, kedalaman 89 km. Fasilitas mengalami kerusakan berat.
  • 12 Februari — Sumba Barat: Magnitudo 6,6, kedalaman 10 km. Beberapa bangunan rusak.
  • 14 Desember — Flores: Magnitudo 7,5, kedalaman 12 km. Terdata potensi tsunami 0,07 m; 5.064 warga mengungsi dan 736 rumah rusak.
  • 25 Januari 2024 — Kabupaten Nagekeo: Magnitudo 5,6, kedalaman 11 km. Tidak ada korban jiwa, tetapi rumah dan fasilitas umum rusak.
  • 15 Agustus 2026 — NTT: tercatat gempa yang memicu tsunami dengan catatan magnitudo 7,0 yang dilaporkan menewaskan 47 orang dan merusak ratusan rumah. (BNPB juga mencatat gempa utama Magnitudo 7,7 pada 15 Agustus 2026 dengan ratusan susulan.)

Respons pemerintah dan operasi penanggulangan

Pemerintah menyatakan bergerak cepat dan mengaktifkan posko penanggulangan bencana untuk memperkuat penanganan darurat di wilayah terdampak. Aktivasi posko dimaksudkan agar mekanisme penanggulangan dapat dijalankan secara terkoordinasi.

"Pemerintah fokus pada keselamatan warga yang masih membutuhkan pertolongan setelah sejumlah bangunan dilaporkan mengalami kerusakan akibat guncangan gempa. Dalam rapat koordinasi, kami sepakat untuk segera mengaktifkan posko penanggulangan bencana,"

Kepala BNPB menegaskan tahap pertama prioritas adalah mencari dan mengevakuasi warga yang diduga masih terjebak di bangunan runtuh. Operasi pencarian dan pertolongan akan melibatkan tim gabungan seperti Basarnas, TNI, dan Polri.

Implikasi dan langkah selanjutnya

Catatan BMKG menunjukkan NTT berulang kali dilanda gempa dan tsunami sepanjang sejarah, dengan dampak yang sangat bervariasi. Aktivasi posko dan operasi gabungan menjadi langkah awal yang krusial untuk mengurangi korban dan mempercepat pemulihan. Pemerintah dan lembaga terkait akan melanjutkan pendataan kerusakan, evakuasi, dan bantuan darurat di daerah terdampak.

Andika Nugraha
Penulis
Andika Nugraha

Redaktur Nasional yang fokus meliput isu pemerintahan, hukum, dan perkembangan sosial di Indonesia.

Berita Terkait