Nasional

Gemala Hatta Ajak Generasi Muda Aktualkan Pancasila di Kampus

Bagikan:
Gemala Hatta berbicara pada talkshow Gema Pancasila di Fakultas Teknik UI Depok

Putri Proklamator Mohammad Hatta, Gemala Hatta, mengajak generasi muda mengaktualkan nilai Pancasila dalam kehidupan sehari-hari pada talkshow "Gema Pancasila Goes to Campus: Dari Nilai ke Aksi Nyata" di Fakultas Teknik Universitas Indonesia (UI), Depok, Rabu 20 Mei 2026. Acara dihadiri ratusan mahasiswa dan akademisi.

Nilai Pancasila sebagai pedoman sehari-hari

Gemala menegaskan Pancasila bukan sekadar hafalan. Ia menyebut Pancasila lahir dari proses panjang menjaga persatuan bangsa. Para pendiri bangsa, menurutnya, merangkul beragam golongan agar Indonesia tetap utuh.

"Pancasila itu mengikat dari Sabang sampai Merauke untuk kita betul-betul saling menghargai. Para pendiri bangsa ingin Indonesia tetap bersatu di tengah keberagaman,"

Ia menekankan nilai ketuhanan harus tercermin dalam perilaku. Mengaku beragama tidak cukup jika sikap jujur dan adil tidak terlihat.

"Kalau Anda mengatakan saya bertuhan, tunjukkanlah bahwa dirimu bertuhan, bukan pada KTP. Jangan sampai mengaku bertuhan tetapi masih korupsi dan mengambil hak orang lain,"

Keteladanan pemimpin dan peran pendiri bangsa

Gemala menyoroti keteladanan pemimpin sebagai kunci. Menurutnya, para pendiri lebih mengutamakan rendah hati daripada pamer kekuasaan atau kekayaan.

"Bukan pamer kekayaan, tapi pamer pribadi yang baik. Pemimpin harus menjadi contoh baik bagi masyarakat dan lingkungan sekitarnya,"

Ia juga menyebut ayahnya, Bung Hatta, kerap menjadi penengah saat perumusan dasar negara, dengan kemampuan merangkul perbedaan sebagai kekuatan menjaga keutuhan bangsa.

Peran kampus dalam pembentukan karakter

Ketua Umum Pusaka Indonesia, Setio Hajar Dewantoro, meminta kampus menjadi ruang pembentukan karakter dan agen perubahan. Ia mengingatkan mahasiswa tidak hanya mengejar sukses pribadi.

"Kampus juga sebagai tempat mencetak agent of change dan agent of transformation. Mahasiswa harus tumbuh menjadi manusia yang solutif dan bermanfaat bagi bangsa,"

Setio menegaskan pendidikan harus menumbuhkan kepedulian sosial dan nilai kemanusiaan, bukan sikap egois yang memicu perpecahan.

"Yang penting itu buah perbuatannya apa. Religiusitas bukan sekadar ritual, tetapi sikap jujur dan tanggung jawab,"

Tantangan era digital dan bonus demografi

Mahasiswa berprestasi utama UI 2026, Fahyana Daviani, mengingatkan pengaruh media sosial pada pembentukan karakter anak muda. Ia mendorong sikap kritis terhadap arus opini digital.

"Kalau teman-teman ingin membangun karakter yang baik, mulainya dari isi pikiran teman-teman sendiri. Apa yang dipikirkan akan membentuk kebiasaan dan karakter seseorang,"

Fahyana juga menyoroti peluang bonus demografi 2030 sebagai momentum perubahan, dan mengajak generasi muda memulai perubahan dari diri sendiri.

"Kalau ingin mengubah Indonesia, mulainya dari diri sendiri. Generasi muda punya peran besar menentukan masa depan bangsa,"

Dorongan untuk aksi nyata di kampus

Koordinator MPKT UI, Zhilal El Furqaan, menyatakan penguatan nilai Pancasila harus disertai aksi nyata, bukan sekadar teori di kelas.

"Fokus utamanya bukan di materi, tetapi penguatan karakter dan soft skill. Mahasiswa harus belajar menerapkan nilai Pancasila dalam kehidupan sehari-hari,"

Acara yang merupakan kolaborasi Pusaka Indonesia dan Fakultas Teknik UI itu juga menampilkan penyerahan pusaka simbolik kepada Wakil Dekan FT UI, Akhmad Herman Yuwono, sebagai simbol penguatan nilai kebangsaan di lingkungan kampus.

Diskusi ini menegaskan bahwa menjaga Pancasila memerlukan keteladanan, pendidikan karakter, dan aksi nyata dari kampus dan generasi muda, terutama menjelang era bonus demografi pada 2030.

J
Penulis
John Doe

No bio yet 😊

Berita Terkait

Komentar (0)

Komentar akan ditinjau sebelum ditampilkan.

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama!