Budi Kanang Minta Evaluasi Prioritas Belanja APBN untuk Lindungi UMKM
JAKARTA — Anggota Fraksi PDI Perjuangan DPR RI Budi Sulistyono Kanang meminta pemerintah mengevaluasi kembali prioritas belanja APBN pada Minggu (14/6/2026). Permintaan itu muncul seiring tekanan ekonomi akibat pelemahan rupiah dan kenaikan harga BBM non-subsidi. Budi menilai ruang fiskal yang terbatas harus difokuskan untuk menjaga daya beli masyarakat dan menopang UMKM terdampak kenaikan biaya produksi.
Alasan evaluasi dan fokus anggaran
Budi mengatakan pemerintah perlu menajamkan skala prioritas anggaran agar kebijakan fiskal menjawab kebutuhan paling mendesak. Ia menyoroti program-program prioritas yang berjalan sekaligus menuntut respons cepat terhadap penurunan daya beli. Menurutnya, peninjauan memungkinkan alokasi anggaran digeser ke program yang mendukung konsumsi dan usaha kecil.
Prioritas terhadap belanja APBN ini mesti direview kembali. Apakah MBG, Koperasi Merah Putih, atau Sekolah Rakyat, mari kita evaluasi
Tekanan pada UMKM berbahan baku impor
Budi mencontohkan industri tempe sebagai sektor yang sangat bergantung pada kedelai impor. Pelemahan kurs dan kenaikan biaya distribusi, kata dia, memberi tekanan ganda pada produsen kecil. Kondisi ini meningkatkan biaya produksi dan bisa mendorong harga di tingkat konsumen.
Harga bahan baku tempe yang murni impor akan makin berat akibat dolar dan kenaikan BBM non-subsidi
Ia juga menyebut proporsi impor untuk bahan baku industri masih tinggi. Dampaknya bukan hanya pada barang konsumsi impor, tetapi juga pada biaya produksi domestik yang berpotensi menaikkan inflasi.
Sekarang sekitar 70 persen impor itu untuk bahan baku. Kalau kurs melemah terus, biaya produksi ikut naik dan akhirnya harga di tingkat konsumen juga terdorong naik
Permintaan dukungan terarah bagi UMKM
Anggota Komisi VI ini mendorong pemerintah menyiapkan dukungan yang lebih spesifik bagi UMKM yang bahan bakunya murni impor. Ia menegaskan karakter tekanan yang dihadapi pelaku usaha berbahan impor berbeda dengan yang memakai bahan domestik. Oleh karena itu, kebijakan bantuan dan mitigasi perlu diarahkan secara tepat sasaran.
Saya bersama Menteri Perdagangan pernah menyampaikan perlunya dukungan bagi UMKM yang bahan bakunya murni impor. Tekanan mereka berbeda dengan usaha yang menggunakan bahan baku domestik
Perspektif kebijakan ke depan
Budi berharap pemerintah segera melakukan penajaman prioritas anggaran dan menyiapkan langkah mitigasi yang terarah bagi kelompok paling rentan. Ia menekankan kebijakan fiskal harus melindungi ketahanan konsumsi domestik dan keberlangsungan usaha rakyat. Menurutnya, menjaga daya beli dan kelangsungan UMKM adalah fondasi pemulihan ekonomi nasional.
Yang paling penting sekarang adalah memastikan masyarakat tetap punya daya beli dan UMKM tetap bisa bertahan. Itu fondasi ekonomi kita
Berita Terkait
Soekarno Fun Run Jember: Kardus Dikumpulkan untuk Pemulung
Soekarno Fun Run 2026 di Jember berakhir dengan aksi pembersihan dan pengumpulan kardus bekas untuk pemulung...
Megawati Ziarah di Blitar, Kader PDI Perjuangan Tunjukkan Soliditas
Megawati ziarah ke Makam Bung Karno di Blitar (14/6/2026); kader PDI Perjuangan setempat menunjukkan solidit...
Istana Gebang Direvitalisasi jadi Ruang Edukasi untuk Gen Z
PDI Perjuangan Jatim merombak Istana Gebang dan menambah fitur digital interaktif untuk menjadikannya ruang...
DPRD Malang Desak Pengusutan Transparan 32 Dapur MBG
DPRD Kabupaten Malang mendesak pengusutan transparan terhadap 32 dapur MBG yang disuspend BGN dan akan mengg...
Megawati Ziarah ke Makam Bung Karno di Blitar: Tradisi Bulan Bung Karno
Megawati Soekarnoputri ziarah ke Makam Bung Karno di Blitar pada 14 Juni 2026, disambut kader dan berinterak...
Megawati Disambut Ribuan Warga di Blitar, Warga Sampaikan Aspirasi Ekonomi
Megawati ziarah ke Makam Bung Karno di Blitar disambut sekitar 350 warga; banyak yang membawa spanduk berisi...