Rupiah Menguat 0,42% ke Rp17.822, Didukung NFP dan Arus Modal
Nilai tukar rupiah menguat pada pembukaan perdagangan Senin, 10 Agustus 2026, didorong oleh data tenaga kerja AS yang melemah dan aliran modal asing ke pasar saham domestik. Berdasarkan data Bloomberg, rupiah dibuka naik 0,42% (75 poin) ke posisi Rp17.822 per dolar AS, setelah pada penutupan akhir pekan lalu menguat 0,15% ke Rp17.897.
Nilai tukar rupiah diharapkan terapresiasi hari ini ke level Rp17.880 per dolar AS
— Analis Pasar Uang Valbury Sekuritas, Fikri C.
Data tenaga kerja AS menurunkan ekspektasi kenaikan suku bunga
Salah satu pendorong penguatan rupiah adalah melemahnya data tenaga kerja Amerika Serikat. Data Non-Farm Payrolls (NFP) untuk Juli 2026 menunjukkan penurunan sebanyak 23.000 lapangan kerja.
Penurunan ini memperkuat ekspektasi pasar bahwa The Fed tidak perlu mempercepat langkah kenaikan suku bunga. Kondisi tersebut umumnya menekan dolar AS dan membuka ruang bagi penguatan mata uang negara berkembang, termasuk rupiah.
Meredanya ketegangan geopolitik
Tensi konflik di Timur Tengah turut membantu sentimen pasar. Laporan menyebut Iran dan Oman telah mencapai tahap akhir kesepakatan mengenai pengelolaan bersama Selat Hormuz. Meredanya ketegangan menurunkan premi risiko global sehingga membantu mata uang negara-negara ekspor komoditas.
Faktor domestik: calon Gubernur BI dan arus modal asing
Di dalam negeri, pelaku pasar masih menunggu pengumuman resmi calon Gubernur Bank Indonesia. Ketidakpastian terkait figur baru BI menciptakan perhatian, namun belum mengubah tren penguatan rupiah signifikan hari ini.
Selain itu, aliran modal asing ke pasar ekuitas juga mendukung rupiah. Pada penutupan perdagangan akhir pekan lalu, investor asing membukukan net buy sebesar Rp917,23 miliar, yang menambah permintaan terhadap rupiah.
Data singkat pasar
| Indikator | Angka |
|---|---|
| Harga pembukaan | Rp17.822 per USD (+0,42%) |
| Penutupan sebelumnya | Rp17.897 per USD (+0,15%) |
| Perubahan NFP (Juli 2026) | -23.000 pekerjaan |
| Net buy asing (saham) | Rp917,23 miliar |
Dengan kombinasi faktor global dan domestik tersebut, rupiah berpeluang melanjutkan penguatan jangka pendek. Pasar masih akan memantau data ekonomi AS berikutnya dan langkah kebijakan dari otoritas domestik untuk arah kurs selanjutnya.
Koresponden internasional yang mengikuti perkembangan geopolitik dan isu global terkini.
Berita Terkait
Grab Luncurkan Group Ride: Berbagi Ongkos hingga 50%
Grab meluncurkan fitur Group Ride sejak April 2026 untuk atur perjalanan bersama lewat satu pemesanan, denga...
Mobilitas Kereta Api Sumatra Capai 11,34 Juta Penumpang
KAI mencatat 11.342.350 pergerakan penumpang di Sumatra (Jan–Sep 2026), naik 12,02% dibandingkan 2025.
Kemenko Hilirisasi dan Energi Diharap Percepat Transisi Energi
Imaduddin Abdullah menilai pembentukan Kemenko Hilirisasi dan Energi percepat transisi energi, hilirisasi, d...
Hilirisasi Nikel Dorong PNBP Capai Rp21 Triliun
Hilirisasi nikel mendorong ekspor USD6,54 miliar dan PNBP mencapai Rp21 triliun hingga 31 Agustus 2026, namu...
Harga Emas Pekan Depan Diprediksi Fluktuatif, Waspada Saat Beli
Harga emas dunia diperkirakan berfluktuasi tajam pekan depan karena pengaruh indeks dolar AS dan harga minya...
Indonesia Kuasai 0,9% Pasar Ekspor Bambu, Kemenperin Dorong Penguatan Hulu
Kemenperin sebut Indonesia kuasai 0,9% pasar ekspor bambu global; AKB 2026 digelar untuk perkuat pasokan dan...