El Nino Menguat, BMKG Wanti-Wanti Gagal Panen hingga Krisis Air Jateng
BMKG memperingatkan masyarakat Jawa Tengah agar waspada terhadap potensi gagal panen dan krisis air bersih pada 2026. Fenomena El Nino kini memasuki kategori kuat, yang memperpanjang musim kemarau dan menurunkan curah hujan di wilayah tersebut. Pernyataan ini disampaikan Sekretaris Utama BMKG, Guswanto, saat membuka Sekolah Lapang Cuaca Nelayan (SLCN) 2026 di Cilacap pada 30 Juli 2026.
Ancaman bagi pertanian dan ketersediaan air
BMKG menilai kekeringan akan berdampak langsung pada sektor pertanian karena kelembapan tanah menurun drastis. Kondisi ini memicu kekeringan pertanian yang berpotensi menurunkan hasil panen hingga terjadi kegagalan panen pada beberapa komoditas. Selain itu, pasokan air untuk irigasi dan kebutuhan rumah tangga juga berisiko menyusut.
Tanda-tanda kekeringan dan penyebab
Menurut BMKG, kekeringan berkembang bertahap dimulai dari menurunnya kandungan uap air di atmosfer sehingga terjadi kekeringan meteorologis. Dominasi angin musim timur dari Australia membawa massa udara kering yang mengurangi peluang pembentukan hujan. Akibatnya, sejumlah wilayah di Pulau Jawa sudah mengalami hari tanpa hujan selama puluhan hari.
"Pada awalnya kami memprediksi El Nino berada pada kategori moderat, tetapi sekarang indeksnya sudah sekitar dua sehingga masuk kategori kuat. Dampaknya adalah meningkatnya potensi kekeringan,"
Risiko kekeringan hidrologis
BMKG mengingatkan bahwa tahap lanjutan adalah kekeringan hidrologis, ketika pasokan air di sungai, waduk, embung, dan jaringan irigasi menyusut. Guswanto menyatakan beberapa wilayah mulai menunjukkan tanda-tanda menuju fase ini, yang mengancam ketersediaan air bersih dan kapasitas irigasi.
"Kalau pasokan air di embung, danau, dan irigasi sudah tidak ada lagi, itu sudah masuk kekeringan hidrologis. Saat ini arahnya mulai menuju ke sana,"
Mitigasi dan opsi teknis
BMKG mendorong pemerintahan daerah, petani, nelayan, dan masyarakat untuk memperkuat langkah mitigasi sejak dini. Kegiatan edukasi seperti Sekolah Lapang Cuaca Nelayan dan Sekolah Lapang Iklim diperluas untuk meningkatkan kesiapsiagaan dan tindakan adaptasi di lapangan.
"Kalau awan hujannya tidak ada, modifikasi cuaca juga sulit dilakukan. Karena prinsipnya hanya mempercepat proses kondensasi pada awan yang memang berpotensi menghasilkan hujan,"
BMKG menyebut operasi modifikasi cuaca sebagai salah satu opsi mengurangi dampak kekeringan, namun teknik ini hanya efektif jika masih ada awan berpotensi hujan. Dengan kata lain, solusi teknis memiliki keterbatasan bila kondisi atmosfer sangat kering.
Dampak sosial ekonomi dan langkah ke depan
Dampak paling serius diperkirakan menyasar aspek sosial dan ekonomi masyarakat Jawa Tengah. Berkurangnya ketersediaan air bersih dan terganggunya aktivitas pertanian dapat menurunkan pendapatan rumah tangga dan memperluas kerentanan. Untuk itu, kolaborasi antarlembaga dan kesiapsiagaan komunitas menjadi kunci mengurangi risiko jangka pendek dan jangka panjang.
Redaktur Nasional yang fokus meliput isu pemerintahan, hukum, dan perkembangan sosial di Indonesia.
Berita Terkait
BPBD: Semua Titik Api Karhutla di Jatim Sudah Padam
BPBD Jawa Timur memastikan semua titik api karhutla telah padam, namun pemantauan titik panas melalui SiPong...
Pelestarian Batik: Wamenperin Dorong Perajin Ikuti Pasar
Wamenperin Faisol Riza mendorong pelestarian batik seiring penguatan perajin agar mampu mengikuti pasar, did...
Kemenkum Fasilitasi Mediasi Sengketa Merek ASICS
Kemenkum memfasilitasi mediasi ASICS vs Toko Istana Sepatu pada 3 Okt 2026 di Jakarta untuk menyelesaikan du...
Komdigi: Perlindungan Sisa Kuota Tak Boleh Dikenai Biaya
Kemkomdigi menegaskan sisa kuota pelanggan tidak boleh dikenai biaya, merujuk putusan MK; pemerintah akan ev...
PBNU Terbitkan Pedoman Hari Santri 2026, Solidaritas untuk Palestina
PBNU keluarkan pedoman Hari Santri 2026 berfokus pada tradisi, layanan masyarakat, dan solidaritas kemanusia...
Terapi Seni Bantu Pulihkan Trauma Anak, Ini Cara dan Perannya
Seni atau art terapi dinilai efektif bantu pulihkan trauma anak melalui ekspresi kreatif, lingkungan aman, d...