Nasional

Bappenas Tekankan Penguatan Ekosistem Hilirisasi Sawit

Bagikan:
Menteri PPN Rachmat Pambudy berbicara soal penguatan ekosistem hilirisasi sawit

Menteri PPN/Kepala Bappenas Rachmat Pambudy menegaskan pentingnya penguatan ekosistem dari hulu hingga hilir untuk mendukung hilirisasi industri kelapa sawit. Pernyataan disampaikan pada Senin, 10 Agustus 2026, dengan penekanan bahwa pengelolaan perkebunan, peningkatan produktivitas, dan pengembangan produk turunan harus berjalan sebagai satu ekosistem yang saling mendukung. Menurut Rachmat, tanpa penguatan hulu, upaya hilirisasi tidak akan berjalan optimal.

Menguatkan ekosistem dari hulu ke hilir

Rachmat menyoroti bahwa program hilirisasi saja tidak cukup. Perencanaan harus diikuti tindakan yang memberikan manfaat langsung kepada masyarakat dan pelaku usaha perkebunan. Ia menegaskan pentingnya peningkatan produktivitas lahan, perbaikan tata kelola, dan pengembangan rantai nilai untuk menghasilkan produk bernilai tambah.

Hilirisasi tidak bisa jalan jika ekosistem tidak berkembang. Hilirisasi tidak jalan jika hulu tidak diurus dengan baik.

SIEXPO sebagai ruang koordinasi

Rachmat menilai SIEXPO dapat menjadi ruang pertemuan bagi pemerintah, pelaku industri, dan pemangku kepentingan lain. Forum ini diharapkan memperkuat arah pengembangan sehingga sawit tidak sekadar meningkatkan volume produksi, tetapi juga menciptakan nilai tambah dan manfaat ekonomi yang lebih luas. Ia meminta agar kebijakan dan program diarahkan untuk memastikan hasil produksi dinikmati oleh seluruh lapisan masyarakat.

Pastikan produksi kelapa sawit bisa dinikmati semua rakyat Indonesia. Dan yang menghasilkan ikut makmur.

Peran Riau dan dukungan BPDP

Sekretaris Daerah Provinsi Riau, Syahrial Abdi, menyatakan Pemprov Riau terus mendorong peningkatan kualitas sumber daya manusia dan sarana prasarana. Pemerintah provinsi juga fokus pada pembenahan tata kelola industri sawit, termasuk pengaturan harga bagi pekebun mitra dan peningkatan sertifikasi. Langkah ini ditujukan untuk memperluas manfaat ekonomi bagi petani dan masyarakat setempat.

Menurut Syahrial, sekitar 20 persen total perkebunan sawit nasional berada di Riau. Dengan proporsi tersebut, Riau menerima sekitar 20 persen alokasi dana dari Badan Pengelola Dana Perkebunan (BPDP), termasuk dukungan untuk program beasiswa terkait sawit.

Implikasi kebijakan dan langkah ke depan

Penguatan ekosistem hilirisasi memerlukan sinergi kebijakan lintas sektor, dukungan investasi, dan kapasitas sumber daya manusia. Jika dilaksanakan secara terpadu, strategi ini berpotensi meningkatkan nilai tambah nasional dari industri sawit dan memperluas manfaat ekonomi ke petani serta daerah penghasil. Pemantauan dan evaluasi program tetap dibutuhkan agar manfaat kebijakan dapat dirasakan secara nyata.

Andika Nugraha
Penulis
Andika Nugraha

Redaktur Nasional yang fokus meliput isu pemerintahan, hukum, dan perkembangan sosial di Indonesia.

Berita Terkait