Ekonomi Hijau Diproyeksikan Ciptakan Jutaan Lapangan Kerja
Menteri Lingkungan Hidup Jumhur Hidayat mengatakan transisi ke ekonomi hijau berpotensi membuka jutaan lapangan kerja baru di Indonesia. Pernyataan itu disampaikan di Universitas Nasional, Jakarta, Minggu, 31 Mei 2026. Menurut Jumhur, momentum ini harus dimanfaatkan generasi muda sebagai solusi tantangan lingkungan sekaligus penggerak ekonomi.
Potensi besar untuk penciptaan pekerjaan
Jumhur menilai pergeseran ke ekonomi rendah karbon akan menciptakan kebutuhan luas akan tenaga kerja bersertifikat hijau atau green talent. Permintaan itu muncul dari perubahan industri dan investasi di sektor berkelanjutan.
"Transisi menuju ekonomi hijau diperkirakan akan melahirkan jutaan lapangan pekerjaan baru. Masa depan ekonomi dunia tidak hanya digital, tetapi juga hijau,"
— Jumhur Hidayat
Dia menekankan bahwa peluang ini tidak hanya bersifat kuantitatif, tetapi juga menyangkut kualitas pekerjaan. Pekerjaan baru diharapkan memberi keterampilan teknis dan nilai tambah ekonomi.
Peran generasi muda dalam transformasi
Jumhur menyebut generasi muda, terutama Gen Z, sebagai aktor utama dalam perubahan. Survei Sukarelawan Indonesia Pembela Alam (RIMBA) menunjukkan lebih dari 80% Gen Z di Indonesia peduli terhadap isu lingkungan.
Namun, menurut Jumhur, kepedulian ini perlu diterjemahkan menjadi inovasi, kewirausahaan, dan aksi yang memberi dampak ekonomi dan ekologis.
"Generasi muda diharapkan tidak hanya menjadi pencari kerja, tetapi juga mampu menciptakan inovasi dan usaha baru. Jika Indonesia mampu menjaga lingkungan serta membangun ekonomi sirkular yang kuat, maka bisa memberikan kontribusi bagi dunia,"
— Jumhur Hidayat
Profesi dan teknologi yang dibutuhkan
Seiring berkembangnya ekonomi hijau, sejumlah profesi diperkirakan meningkat permintaannya. Pemerintah menyoroti kebutuhan tenaga di berbagai bidang keberlanjutan.
- Ahli energi terbarukan
- Insinyur lingkungan
- Pengelola sampah modern
- Analis karbon
- Spesialis ekonomi sirkular
- Wirausaha hijau
Berbagai teknologi juga didorong untuk menciptakan nilai ekonomi dari limbah. Contoh yang disebut antara lain Refuse Derived Fuel (RDF) dan Pengolah Sampah menjadi Energi Listrik (PSEL).
Target pengelolaan sampah dan implikasi ekonomi
Pemerintah menargetkan seluruh sampah nasional dapat terkelola pada 2029 melalui penguatan ekonomi sirkular dan modernisasi pengelolaan sampah. Implementasi target ini dipandang krusial untuk membuka lapangan kerja baru dan mengurangi dampak lingkungan.
Jika berhasil, kebijakan tersebut tidak hanya menyelesaikan masalah sampah. Langkah itu juga akan memperkuat rantai nilai ekonomi hijau dan memperbesar peluang ekspor produk berkelanjutan.
Transformasi ke ekonomi hijau menuntut sinergi kebijakan, investasi, dan pendidikan keterampilan. Untuk memanen potensi jutaan pekerjaan, Indonesia perlu mempercepat pelatihan green talent dan mendukung inovasi wirausaha hijau.
Redaktur Nasional yang fokus meliput isu pemerintahan, hukum, dan perkembangan sosial di Indonesia.
Berita Terkait
MUI Perkuat Persahabatan RI-Palestina Lewat Program Beasiswa
MUI memperkuat persahabatan Indonesia-Palestina lewat program beasiswa bagi pelajar Palestina yang dibiayai...
Operasi SAR KM Nurul Salsa Ditutup, 14 Penumpang Masih Hilang
Operasi SAR KM Nurul Salsa di perairan Selayar ditutup setelah 10 hari; 58 selamat, 4 meninggal, dan 14 masi...
MK Wajibkan Operator Sediakan Pilihan agar Sisa Kuota Tak Hangus
MK memerintahkan operator menyediakan pilihan agar sisa kuota internet tetap aktif dan bisa digunakan hingga...
Menteri PU: Berita ASN Meninggal karena Cuti Ditolak Adalah Hoaks
Menteri PU Dody Hanggodo menyatakan kabar ASN meninggal akibat cuti sakit ditolak adalah hoaks; pemeriksaan...
KSP: Babinsa dan Bhabinkamtibmas Hanya Dampingi Petugas Pajak
KSP menegaskan Babinsa dan Bhabinkamtibmas hanya mendampingi petugas DJP, tanpa kewenangan penagihan atau pe...
Kepala BGN Ajak Masyarakat dan Media Awasi Program MBG
Kepala BGN Sudaryono mengajak masyarakat dan media mengawal Program Makan Bergizi Gratis demi layanan sesuai...