Dubes RI Serahkan Kredensial ke Presiden Guinea Ekuatorial
Duta Besar RI untuk Kamerun yang merangkap Guinea Ekuatorial, Agung Cahaya Sumirat, resmi memulai tugas di Guinea Ekuatorial setelah menyerahkan surat kepercayaan kepada Presiden Teodoro Obiang Nguema Mbasogo pada 18 Juni 2026 di Istana Kepresidenan Malabo.
Penyerahan kredensial dan prosesi kenegaraan
Upacara penyerahan surat kepercayaan berlangsung sebagai rangkaian kenegaraan pada 18 Juni 2026. Presiden Nguema Mbasogo didampingi Menteri Luar Negeri Simeón Oyono Esono Angüe dan sejumlah pejabat tinggi lain. Dubes Agung datang didampingi Sekretaris Pertama KBRI Yaoundé, Anindita Aji Pratama.
Pesan kedua pemimpin dan arah hubungan
Dalam pertemuan resmi, Presiden Nguema Mbasogo menyatakan bahwa Guinea Ekuatorial memandang Indonesia sebagai contoh keberhasilan pembangunan negara berkembang dan berharap hubungan bilateral dapat terus diperkuat di berbagai bidang.
Dubes Agung menyampaikan salam hormat dari Presiden Prabowo Subianto dan menegaskan komitmen Indonesia untuk memperkuat hubungan kedua negara, terutama pada kerja sama ekonomi, ketahanan energi, dan pengembangan usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM).
Fokus kerja sama ekonomi dan energi
Dalam pertemuan itu, Dubes Agung menyampaikan bahwa saat ini Indonesia merupakan pengimpor minyak mentah terbesar keempat dari Guinea Ekuatorial. Posisi ini diharapkan meningkat seiring langkah-langkah untuk memperdalam kerja sama ekonomi kedua negara.
Selain itu, pembicaraan juga menyoroti peluang untuk mengembangkan UMKM dan memperkuat ketahanan energi melalui skema investasi dan pertukaran teknologi.
Agenda diplomatik tambahan
Selain penyerahan kredensial, Dubes Agung mengadakan serangkaian pertemuan bilateral dengan pejabat pemerintahan Guinea Ekuatorial, termasuk Menteri Luar Negeri, Menteri Ketenagakerjaan, dan Menteri Keuangan. Diskusi difokuskan pada peluang peningkatan kerja sama di sektor-sektor strategis.
Saat kunjungan, Dubes Agung juga bertemu dengan komunitas ASEAN di Malabo yang diwakili warga negara Indonesia dan Filipina, sebagai upaya memperkuat jejaring diaspora dan kerja sama regional.
KBRI Yaoundé dan perluasan kehadiran diplomatik
Hubungan diplomatik Indonesia dengan Guinea Ekuatorial telah terjalin sejak 2016 dan 2026 menandai satu dekade kerja sama. Sejumlah perjanjian telah dicapai, termasuk pembebasan visa bagi pemegang paspor diplomatik dan dinas serta mekanisme konsultasi bilateral.
Guinea Ekuatorial menjadi salah satu negara akreditasi KBRI Yaoundé, yang sejak beroperasi pada 2023 membawahi beberapa negara di Afrika Tengah, yaitu:
- Kamerun
- Guinea Ekuatorial
- Chad
- Gabon
- Republik Kongo
- Republik Afrika Tengah
Kementerian Luar Negeri menyatakan pembukaan KBRI Yaoundé merupakan bagian dari strategi memperkuat kehadiran diplomatik Indonesia di Afrika Tengah dan memperluas kerja sama ekonomi-politik di kawasan.
Dengan penyerahan kredensial ini, Indonesia menegaskan niatnya meningkatkan hubungan bilateral dengan Guinea Ekuatorial, baik di tingkat politik maupun ekonomi, menjadikan 2026 momentum untuk memperdalam kemitraan di sektor energi, perdagangan, dan pembangunan.
Redaktur Nasional yang fokus meliput isu pemerintahan, hukum, dan perkembangan sosial di Indonesia.
Berita Terkait
Ekspor Nikel dan Sawit Dorong Surplus Perdagangan Nonmigas
BPS: surplus perdagangan nonmigas Jan–Mei 2026 mencapai USD 16,31 miliar, ditopang ekspor nikel dan minyak k...
BMKG Peringatkan Cuaca Ekstrem: Hujan Lebat Ancama Sejumlah Kota
BMKG keluarkan peringatan cuaca ekstrem 2 Juli 2026; sejumlah kota diperkirakan hujan lebat akibat jalur kon...
BMKG: Risiko Gelombang Panas Ekstrem seperti Eropa Sangat Kecil
BMKG memastikan potensi gelombang panas ekstrem seperti Eropa sangat kecil di Indonesia karena iklim tropis...
Komisi VII Dorong Evaluasi KEK Super Prioritas agar Manfaat Merata
Komisi VII minta evaluasi KEK Super Prioritas agar manfaat investasi dan penyerapan tenaga kerja dirasakan m...
Prabowo Terima Lukashenko di Istana, Menandai 30 Tahun Hubungan RI-Belarus
Presiden Prabowo menerima kunjungan kenegaraan Presiden Lukashenko di Istana Merdeka, 2 Juli 2026, menandai...
Muhaimin: Pemerataan Ekonomi Kreatif Prioritas Pemerintah
Muhaimin minta ekonomi kreatif tak hanya di Jawa-Bali dan dorong pemanfaatan Sensus Ekonomi 2026 untuk pemet...