Nasional

KLH Kerahkan Drone Thermal Pantau Kebakaran TPA Jatiwaringin

Bagikan:
Drone thermal memantau kebakaran di TPA Jatiwaringin dari udara

Kementerian Lingkungan Hidup (KLH) menerjunkan drone thermal pada Sabtu, 4 Juli 2026, untuk memantau kebakaran yang berlangsung di Tempat Pembuangan Akhir (TPA) Jatiwaringin. Langkah ini diambil untuk mempercepat pengendalian dan membantu petugas menemukan titik api tersembunyi di bawah timbunan sampah.

Drone thermal dan koordinasi penerbangan

Wakil Menteri Lingkungan Hidup, Diaz Faisal Malik Hendropriyono, mengatakan pemantauan udara penting untuk mendeteksi kebakaran yang tidak tampak dari permukaan. Koordinasi dilakukan dengan tim penegakan hukum, pihak bandara, dan TNI AU agar izin penerbangan drone diperoleh secara berkala.

"Kami meminta koordinasi dengan bandara dan TNI AU untuk pemantauan drone thermal. Langkah ini membantu analisis titik api secara berkala,"

Kondisi kebakaran dan tantangan pemadaman

Kebakaran di TPA Jatiwaringin telah berlangsung selama lima hari. Penanganan melibatkan BNPB, KLH, Kementerian Kehutanan, dan pemerintah daerah.

Diaz menjelaskan sebagian api berada di bawah timbunan sampah yang cukup dalam, sehingga sulit dideteksi dan dipadamkan dari permukaan. Selain itu, keberadaan gas metana memperbesar risiko.

"Api terlihat padam di permukaan, tetapi masih menyala di bawah timbunan sampah. Gas metana juga meningkatkan potensi ledakan,"

Kawasan itu juga berada dekat bandara dan jalur helikopter water bombing, sehingga pemantauan udara hanya bisa dilakukan pada waktu tertentu untuk menjaga keselamatan penerbangan.

Progres penanganan dan kondisi lokasi

Berdasarkan laporan BNPB, sekitar 40 persen area terdampak berhasil dikendalikan. Meski demikian, asap pekat masih terlihat menyelimuti lokasi dan menurunkan kualitas udara di sekitar TPA.

Karakteristik kebakaran disebut mirip kebakaran lahan gambut, di mana api bisa kembali menyala meski permukaan tampak padam. Hal ini membuat proses pemadaman memerlukan pengawasan berkelanjutan.

Dampak pada warga dan respons masyarakat

Asap kebakaran memengaruhi kesehatan warga sekitar. Sejumlah warga melaporkan gejala ISPA, batuk, dan muntah akibat paparan asap.

"Batuk ringan, muntah. Baunya sudah mendampaki hingga kepemukiman warga,"

— Mimi Kettri, warga perumahan Griya Artha, Kecamatan Rajeg.

Mimi menyebut rumahnya berjarak sekitar 2,5 kilometer dari TPA. Anak balitanya sempat dirawat di rumah sakit dan kini keluarga memilih mengungsi ke hotel agar proses pemulihan berjalan lebih aman.

Penanganan kebakaran TPA Jatiwaringin masih berlanjut dengan pemantauan intensif. Upaya gabungan petugas darat dan pengawasan udara diharapkan menekan risiko kebakaran berulang dan melindungi kesehatan masyarakat sekitar.

Andika Nugraha
Penulis
Andika Nugraha

Redaktur Nasional yang fokus meliput isu pemerintahan, hukum, dan perkembangan sosial di Indonesia.

Berita Terkait