Cut Meutia, Pahlawan Perempuan Aceh yang Pantang Menyerah
Cut Meutia adalah pejuang perempuan Aceh yang melanjutkan perlawanan melawan Belanda setelah suaminya gugur, dan akhirnya tewas dalam pertempuran di Alue Kurieng pada 1910. Ia memimpin pasukan rakyat, bertempur hingga akhir, serta dikenang sebagai simbol keteguhan kaum perempuan Aceh.
Latar belakang dan kehidupan awal
Lahir pada 1870, Cut Meutia atau juga dikenal sebagai Cut Nyak Meutia adalah putri Teuku Ben Wawud, ulebalang Perak, Aceh. Sejak muda ia dikenal berparas cantik, berkulit putih, dan bertubuh tinggi.
Saat dewasa, orang tua menjodohkannya dengan Teuku Syam Sareh tanpa persetujuannya. Pernikahan itu berakhir dengan perceraian. Kemudian ia menikah dengan Teuku Cut Muhammad, yang populer dengan gelar Cik Tunong.
Masuk ke medan perjuangan
Bersama Cik Tunong, Cut Meutia bergabung dalam perjuangan rakyat Muslimin Aceh melawan penjajahan Belanda. Cik Tunong memilih berjuang karena tidak terikat perjanjian pendek yang ditandatangani kakaknya.
Pada 1901–1903, Cik Tunong memimpin pertempuran melawan Belanda di Aceh Utara bagian timur. Mereka membentuk barisan bersama tokoh lain seperti Pang Nanggroe, Teungku di Barat, Pang Amin, dan Muda Kari.
Kehidupan keluarga dan penderitaan
Dalam masa perjuangan, Cut Meutia mengalami penderitaan berat. Saat hamil tua ia jatuh sakit, kekurangan makanan, dan sempat lumpuh. Ia melahirkan anak kembar yang meninggal setelah kelahiran.
Setelah Cik Tunong ditangkap dan ditembak mati Belanda, Cut Meutia meneruskan perlawanan sendirian. Keputusan itu membawa dirinya ke fase perjuangan yang lebih keras dan penuh pengorbanan.
Pertempuran terakhir di Alue Kurieng
Bersama kelompok lain, Cut Meutia bergerak menuju Gayo untuk bergabung dengan pejuang di sana. Di persimpangan Krueng Peutoe, pasukan mereka disergap oleh pasukan yang dipimpin Christoffel saat sedang berhenti memasak.
Dalam pertempuran itu, Cut Meutia tertembak di kaki namun tetap berdiri melawan dengan pedang terhunus. Ia akhirnya gugur setelah ditembak oleh musuh.
Warisan dan pengakuan negara
Sebelum wafat, Cut Meutia menitipkan putranya, Teuku Raja Sabi, kepada Teuku Syekh Buwah agar diselamatkan. Amanat itu terlaksana, sehingga putranya sempat hidup hingga masa kemerdekaan, meski kemudian meninggal pada 1946 dalam peristiwa Revolusi Sosial di Sumatera Utara.
Pemerintah Republik Indonesia mengakui jasa Cut Meutia dengan menganugerahkan gelar Pahlawan Kemerdekaan Nasional berdasarkan SK Presiden Nomor 107 Tahun 1964 tertanggal 2 Mei 1964. Penghargaan ini menegaskan peran pentingnya dalam perlawanan Aceh terhadap penjajahan Belanda.
Perjalanan hidup Cut Meutia menggambarkan keteguhan dan peran perempuan dalam sejarah perjuangan Indonesia. Namanya terus dikenang sebagai simbol keberanian dan pengorbanan bagi kemerdekaan.
Redaktur Nasional yang fokus meliput isu pemerintahan, hukum, dan perkembangan sosial di Indonesia.
Berita Terkait
APDI: Industri Kreator Buka Peluang Ekonomi saat Lapangan Kerja Terbatas
APDI menilai industri kreator bisa membuka peluang ekonomi dan menyerap tenaga kerja saat lapangan kerja ter...
Prabowo: Negara Harus Hadir di Daerah Terpencil
Presiden Prabowo menegaskan negara harus hadir di daerah terpencil saat meresmikan ribuan jembatan dan sumbe...
Perempuan di Balik Dapur Umum Masa Revolusi 1945-1949
Perempuan mengelola dapur umum pada 1945-1949, menyediakan makanan dan logistik bagi pejuang di berbagai wil...
Prabowo Resmikan Ekosistem Motor Listrik Nasional (MOLINAS)
Presiden Prabowo meresmikan MOLINAS di Cikarang, 13 Agustus 2026, untuk memperkuat ekosistem motor listrik n...
Sidang Tahunan MPR dan Rapat Paripurna DPR 14 Agustus 2026
Sidang Tahunan MPR, Sidang Bersama DPR-DPD, dan Rapat Paripurna DPR RI digelar Jumat, 14 Agustus 2026 di Ged...
Pameran 124 Tahun Bung Hatta Dibuka di TPU Tanah Kusir
Yayasan Hatta membuka Pameran 124 Tahun Bung Hatta di TPU Tanah Kusir, menampilkan arsip, kutipan, dan kalen...