Curah Hujan Minim Hambat Pemadaman Karhutla di Jambi dan Sintang
Kebakaran hutan dan lahan (Karhutla) masih berlangsung di Jambi dan Kalimantan Barat. Minimnya curah hujan membuat lahan mengering sehingga proses pemadaman menjadi lebih sulit, terutama di area gambut. Peristiwa ini tercatat pada awal Agustus 2026 dan memengaruhi beberapa kecamatan di kedua provinsi.
Situasi di Jambi
Kepala Bidang Kedaruratan dan Logistik BPBD Provinsi Jambi, Andre Eko Rinjani, menyatakan luas lahan terbakar mencapai 300,12 hektare. Titik kebakaran tersebar di Tanjung Jabung Barat, Sarolangun, dan Muaro Jambi.
Andre menjelaskan kondisi menjadi lebih sulit karena sebagian lahan bermaterial gambut. Menurutnya, sekat-sekat di wilayah gambut mulai kering setelah lebih dari 10 hari tanpa hujan.
Yang paling kita kesulitan adalah di beberapa wilayah ada yang bermaterial gambut dan sulit dipadamkan. Sekarang juga karena kondisi sudah lebih dari 10 hari tidak ada hujan, sekat-sekat di wilayah gambut ini debit airnya sudah mulai kering
Walau belum ada laporan kekeringan yang signifikan, BPBD Jambi telah melakukan koordinasi antisipasi bersama kementerian dan BNPB. Pemerintah provinsi juga menyiapkan 81 posko terpadu di wilayah rawan untuk sosialisasi, edukasi, dan patroli pencegahan.
Situasi di Sintang, Kalimantan Barat
Di Kalimantan Barat, BPBD Kabupaten Sintang melaporkan lahan terbakar seluas 123,5 hektare. Kebakaran terjadi di beberapa kecamatan di sekitar ibu kota kabupaten, termasuk Sintang, Sepauk, Dedai, dan Kelam.
Kepala BPBD Sintang, Kusnidar, mengatakan debit air sungai menurun sehingga jalur sungai menyempit dan banyak dasar sungai muncul. Kondisi ini menyulitkan sumber air bagi tim pemadam karena dalam satu minggu terakhir tidak ada hujan.
Kekeringannya ini khusus untuk jalur sungai memang menyempit karena debit airnya semakin berkurang, jadi banyak timbul dasarannya. Sementara sumber air juga agak sulit karena curah hujan tidak ada di tempat kita untuk satu minggu ini
BPBD Sintang berkolaborasi dengan Masyarakat Peduli Api (MPA) untuk mempermudah penanganan. Selain itu, pemerintah daerah akan menggelar apel siaga dan menyiapkan posko untuk memperkuat pencegahan.
Upaya pencegahan dan prospek ke depan
Di kedua wilayah, pemda menekankan langkah pencegahan melalui patroli intensif, posko terpadu, sosialisasi, dan kerja sama dengan masyarakat. Fokus utama adalah menahan perluasan api di lahan gambut yang mudah menyala dan sulit dipadamkan.
Dengan musim kering yang berlanjut, kesiagaan dan dukungan logistik dari pusat serta partisipasi komunitas lokal dinilai krusial untuk menekan potensi kebakaran lebih luas.
Redaktur Nasional yang fokus meliput isu pemerintahan, hukum, dan perkembangan sosial di Indonesia.
Berita Terkait
Eric: Penilaian Positif Bahlil 32% Tunjukkan Resiliensi Politik
Eric Hermawan menilai penilaian positif 32,0% terhadap Bahlil menunjukkan resiliensi politik dan hubungan er...
Bappenas Tekankan Penguatan Ekosistem Hilirisasi Sawit
Bappenas minta penguatan ekosistem hulu-hilir untuk sukseskan hilirisasi sawit, sambil dorong nilai tambah d...
Pemerintah Perketat Penanganan Karhutla untuk Cegah Asap Lintas Negara
Pemerintah memperketat penanganan karhutla sejak 10 Agustus 2026 untuk mencegah asap menyebar ke negara teta...
Kapolri Tutup E-Sports Kapolri Cup 2026, Ajak Generasi Jaga Keamanan Digital
Kapolri Listyo tutup E-Sports Kapolri Cup 2026 di Jakarta; acara catat tiga rekor MURI dan seruan agar gener...
Marthen Indey: Putra Papua yang Berjuang untuk Indonesia
Marthen Indey, lahir 16 Maret 1912 di Doromena, beralih dari aparat kolonial Belanda menjadi tokoh yang memp...
Pemerintah Ajak Tenang Terima Informasi di Medsos Jelang HUT
Pemerintah mengimbau masyarakat tenang dan bijak menerima informasi di media sosial menjelang HUT ke-81, sam...