Nasional

Challenge Hafalan Al-Qur’an Berhadiah Miras Dinilai Tak Etis

Bagikan:
Ilustrasi kontroversi challenge hafalan Al-Qur'an dengan hadiah minuman keras

Jakarta — Challenge hafalan Al-Qur’an yang menawarkan hadiah minuman keras mendapat kecaman karena dinilai melampaui batas etika komunikasi di Indonesia. Dekan Fakultas Komunikasi dan Desain Kreatif Universitas Budi Luhur, Rocky Prasetyo Jati, menyatakan kampanye itu tidak lagi sekadar kreativitas, melainkan pelanggaran terhadap nilai keagamaan dan sosial.

Dekan: simbol keagamaan tidak pantas dijadikan bahan kampanye

Rocky menegaskan, penggunaan simbol dan aktivitas keagamaan dalam promosi produk seharusnya dihindari. Menurutnya, hal ini menyangkut penghormatan terhadap nilai yang hidup di masyarakat.

"Ini menyangkut kepatutan dan penghormatan terhadap nilai yang hidup di masyarakat. Dalam konteks di negara kita ini melampaui batas etika, karena ada simbol dan aktivitas keagamaan,"

Ia menilai kampanye semacam itu bukan hanya masalah kreativitas. Lebih jauh, ada konsekuensi sosial yang harus dipertimbangkan oleh pembuat konten.

Viralitas bukan tolok ukur keberhasilan kampanye

Rocky mengingatkan bahwa viralitas tidak otomatis menunjukkan keberhasilan strategi komunikasi. Viral yang muncul dari kontroversi tetap tidak dapat dianggap tepat.

"Kalau kaitannya dengan engagement itu viral, mungkin di benak kreator ini berhasil. Tapi ini campaign yang tidak tepat karena tidak ada sensitivitas,"

Ia menambahkan, penyebaran dari orang ke orang memang penting dalam membangun perhatian publik. Namun tanpa sensitivitas, dampaknya bisa merugikan reputasi merek dan memicu reaksi sosial negatif.

Perlu riset, pemahaman nilai, dan tenaga profesional

Rocky menekankan perlunya riset dan pengembangan sebelum kampanye dipublikasikan. Riset tidak hanya soal tren, tetapi juga memahami nilai-nilai fundamental yang menjadi pijakan kehidupan berbangsa.

"Di balik sebuah kreativitas promosi terdapat tenaga profesional. Tenaga ini seharusnya memahami konsekuensi dari ide maupun konsep kampanye yang dibuat,"

Ia menambahkan bahwa Pancasila dan nilai budaya lokal harus menjadi pertimbangan utama saat merancang komunikasi publik. Hal ini penting agar kampanye sejalan dengan norma sosial dan tidak menimbulkan kontroversi yang merugikan.

Implikasi dan langkah ke depan

Kejadian ini membuka kembali perdebatan mengenai batas kreativitas dalam pemasaran digital. Ke depan, praktisi komunikasi diharapkan lebih peka terhadap konteks budaya dan agama.

Penyesuaian strategi, riset mendalam, dan keterlibatan tenaga profesional menjadi langkah penting untuk mencegah potensi pelanggaran etika serupa.

Andika Nugraha
Penulis
Andika Nugraha

Redaktur Nasional yang fokus meliput isu pemerintahan, hukum, dan perkembangan sosial di Indonesia.

Berita Terkait