Dari Tikus ke Manusia: Cara Leptospirosis Menyebar
Leptospirosis adalah infeksi bakteri yang bisa menular dari hewan ke manusia, terutama lewat air banjir atau genangan yang terkontaminasi urine hewan pembawa. Penyakit ini sering muncul di daerah tropis dengan curah hujan tinggi dan perlu diwaspadai karena gejalanya mirip flu namun bisa berkembang menjadi kondisi serius.
Apa itu leptospirosis?
Leptospirosis disebabkan oleh bakteri Leptospira yang mampu menginfeksi manusia dan berbagai hewan. Menurut World Health Organization, bakteri ini masuk melalui mata, hidung, mulut, atau luka pada kulit setelah kontak dengan air atau tanah tercemar.
Bagaimana cara penularan terjadi?
Penularan umumnya terjadi saat seseorang bersentuhan langsung dengan air, tanah, atau lumpur yang mengandung urine hewan terinfeksi. Tikus menjadi salah satu sumber utama karena sering hadir di lingkungan banjir dan dapat mencemari permukaan dengan urinenya.
Gejala dan perkembangan penyakit
Gejala biasanya muncul 1–2 minggu setelah terpapar dan sering menyerupai flu. Keluhan awal meliputi demam tinggi, menggigil, sakit kepala, dan nyeri otot.
- Gejala awal: demam, menggigil, sakit kepala, diare, mata merah, nyeri otot.
- Nyeri otot umumnya terasa pada betis dan punggung bawah.
- Bentuk berat (penyakit Weil): penyakit kuning, gangguan buang air kecil, pembengkakan, sesak napas, perdarahan.
Karena gejala mirip flu atau demam berdarah, pemeriksaan medis diperlukan untuk memastikan diagnosis dan memulai pengobatan yang tepat.
Penanganan dan komplikasi
Pada kasus berat, infeksi dapat menyerang organ sehingga pasien memerlukan perawatan rumah sakit. Penanganan meliputi pemberian antibiotik, cairan, dan pemantauan fungsi organ. Pada kondisi kritis, dukungan seperti bantuan pernapasan, transfusi darah, atau cuci darah mungkin diperlukan.
Komplikasi yang mungkin terjadi antara lain gagal ginjal akut, gagal hati, perdarahan, kegagalan napas, sepsis, dan gangguan jantung.
Pencegahan yang bisa dilakukan
Pencegahan fokus pada mengurangi kontak dengan sumber terkontaminasi dan menekan keberadaan hewan pembawa bakteri. Langkah praktis meliputi:
- Menghindari genangan atau air banjir yang berpotensi tercemar.
- Menggunakan perlindungan seperti sepatu bot dan sarung tangan saat bekerja di area berisiko.
- Menjaga kebersihan lingkungan dan mengendalikan populasi tikus.
- Memakai air bersih, mencuci tangan, serta menutup luka terbuka dengan baik.
Waspadai gejala setelah terpapar lingkungan banjir atau terpajan urine hewan. Segera cari pemeriksaan medis bila muncul demam tinggi atau nyeri otot yang tidak biasa, agar pengobatan dapat dimulai lebih cepat dan komplikasi dapat dihindari.
Editor gaya hidup yang menulis tentang tren, kesehatan, perjalanan, dan inspirasi kehidupan modern.
Berita Terkait
Wamenkes: Indonesia Perlu Perkuat Pemberantasan TB
Wamenkes Benjamin Paulus mendorong penguatan pemberantasan TB lewat koordinasi lintas sektor setelah Indones...
Wamenkes Minta Lapas Gelar Cek Kesehatan Gratis Rutin
Wamenkes Benjamin Paulus minta seluruh lapas gelar Cek Kesehatan Gratis rutin setiap bulan untuk deteksi dar...
Wamenkes Benjamin: CKG Kunci Deteksi Dini Hipertensi dan Diabetes
Wamenkes Benjamin Paulus mengajak masyarakat memanfaatkan Cek Kesehatan Gratis (CKG) untuk deteksi dini hipe...
IDAI Tekankan Peran Ayah dalam Keberhasilan Pemberian ASI
IDAI menekankan ayah harus hadir sejak awal untuk mendukung keberhasilan pemberian ASI karena pengaruh oksit...
Kemenimipas Gelar Skrining Katarak dan CKG untuk Warga Binaan
Kemenimipas menggelar skrining katarak dan CKG bagi warga binaan, petugas, dan masyarakat sekitar pada 10 Ag...
Menimipas Agus Andrianto Dorong Sinergi Perluas Layanan CKG
Menimipas Agus Andrianto mendorong sinergi lintas sektor untuk memperluas layanan Cek Kesehatan Gratis dan o...