BRIN Perkuat Teknologi Ketahanan Air Hadapi El Nino
BRIN memperkuat pengembangan teknologi ketahanan air untuk mengantisipasi dampak El Nino setelah mendapat arahan Presiden Prabowo Subianto. Paparan mengenai inovasi ini disampaikan Kepala BRIN, Arif Satria, dalam rapat terbatas cuaca ekstrem di Istana Kepresidenan, Jakarta, Selasa, 28 Juli 2026. Tujuannya untuk mengurangi risiko kekeringan di berbagai wilayah.
Empat kategori teknologi yang dipaparkan
Arif menyebut BRIN memaparkan 13 teknologi yang dikelompokkan dalam empat kategori utama. Rangkaian teknologi tersebut dirancang untuk memperkuat ketahanan air nasional menghadapi perubahan iklim dan kekeringan.
- Kategori 1: Modifikasi cuaca, termasuk penggunaan drone untuk menyebarkan material Dumikron berbahan natrium klorida (NaCl) berukuran 2–5 mikron.
- Kategori 2: Teknologi air marjinal, seperti biofiltrasi untuk air payau, air gambut, air limbah, dan desalinasi air laut.
- Kategori 3: Eksplorasi sungai bawah tanah menggunakan isotop, ground penetrating radar (GPR), dan metode geofisika lain.
- Kategori 4: Pemanfaatan air tanah tawar yang mengalir ke laut melalui fresh submarine groundwater discharge.
"Kedua, teknologi air marjinal, antara lain melalui teknologi biofiltrasi untuk air payau, air gambut. Ada air limbah dan air laut, termasuk teknologi desalinasi air laut,"
Fokus pada desalinasi dan sungai bawah tanah
Arif mengatakan Presiden memberi perhatian khusus pada pengembangan teknologi desalinasi dan eksplorasi sungai bawah tanah, termasuk di wilayah pesisir. Menurutnya, kedua bidang ini dinilai strategis untuk menambah suplai air saat musim kemarau panjang.
"Bapak Presiden meminta BRIN untuk memperkuat teknologi desalinasi air laut. Serta teknologi tipe 3 dan 4, yakni eksplorasi sungai bawah tanah baik di darat maupun di wilayah pesisir,"
Koordinasi implementasi di lapangan
BRIN sudah berkoordinasi dengan Kementerian Pekerjaan Umum untuk mempercepat implementasi teknologi di sejumlah lokasi prioritas. Langkah koordinasi dimaksudkan untuk mempercepat aksi dan menguji teknologi pada titik-titik yang rawan kekeringan.
Langkah BMKG untuk mengurangi dampak kemarau
Sebelumnya, Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) menyiapkan langkah mitigasi kemarau panjang, termasuk pelaksanaan operasi modifikasi cuaca (OMC) atau hujan buatan di Jabodetabek jika kondisi lapangan mendesak.
"Kalau di Jakarta situasional ya, jadi BMKG bekerja sama dengan BPBD DKI Jakarta secara situasional melihat kondisi yang ada di Jakarta. Ketika hari tanpa hujan sudah cukup panjang, maka dilakukan operasi modifikasi cuaca,"
Rangkaian tindakan ini menandai peningkatan fokus pemerintah pada solusi teknologi untuk ketahanan air. Ke depan, percepatan implementasi dan uji lapangan akan menjadi kunci untuk mengurangi risiko kekeringan akibat El Nino.
Redaktur Nasional yang fokus meliput isu pemerintahan, hukum, dan perkembangan sosial di Indonesia.
Berita Terkait
Pamong Praja Muda Angkatan XXXIII Ditempatkan di Wilayah 3T
Mendagri Tito menyatakan 1.204 Pamong Praja Muda IPDN angkatan XXXIII akan ditempatkan di wilayah 3T untuk m...
Komisi I DPR Minta Pemberantasan Judi Online Sasar Ekosistem Digital
Komisi I DPR mendorong pemberantasan judi online yang menyasar seluruh ekosistem digital seiring data PPATK...
Kemenhub Perkuat Budaya Keselamatan Pengemudi Transportasi Digital
Kemenhub gelar pelatihan keselamatan bagi 1.052 mitra pengemudi digital di lima kota, sekaligus terapkan set...
PPI Dunia Serahkan Al-Qur'an Braille untuk Tunanetra Lombok Barat
PPI Dunia menyalurkan Al-Qur'an Braille ke Forum Disabilitas Desa Taman Ayu, Lombok Barat pada 27 Juli 2026...
KPAI Kecewa, Vonis Perdagangan Bayi ke Singapura Dinilai Terlalu Ringan
KPAI kecewa atas vonis Pengadilan Negeri Bandung terhadap 19 pelaku perdagangan bayi ke Singapura; hukuman d...
Pemulihan Psikologis Anak Korban Kekerasan di Bali Mendesak
Politisi dan KPAI mendesak pendampingan psikologis segera untuk anak korban kekerasan di Bali agar trauma ti...