BPOM Upayakan Harga Obat Stabil Meski Biaya Produksi Naik
BPOM menyatakan upaya menjaga stabilitas harga obat di tengah kenaikan biaya produksi yang disebabkan tekanan pada bahan baku petrokimia. Pernyataan itu disampaikan Kepala BPOM, Taruna Ikrar, usai Kick Off 'Pekan Jamu 2026' di Kantor BPOM, Jakarta, Selasa, 2 Juni 2026. Pemerintah menawarkan kemudahan agar kenaikan harga tidak terlalu membebani masyarakat.
Tekanan pada bahan baku dan mata uang
Taruna menjelaskan sebagian besar bahan baku obat kimia masih bergantung pada industri petrokimia global. Ia menyebut lebih dari 30 persen komponen bahan baku obat terkait produk petrokimia di pasar internasional.
Komoditas petrokimia dan bahan baku lain umumnya diperdagangkan menggunakan mata uang dolar AS. Kondisi ini menambah beban biaya bagi produsen farmasi ketika nilai tukar dan harga internasional bergejolak.
Dampak terhadap harga obat
Menurut Taruna, kecenderungan kenaikan harga bahan baku berpotensi mendorong penyesuaian harga obat oleh industri farmasi. Namun pemerintah berharap penyesuaian harga itu bersifat terbatas agar tidak membebani konsumen.
Kita melihat ada kecenderungan mengalami peningkatan harga. Karena kita tahu bahan baku obat, khususnya obat-obat kimia itu di atas 30 persen bahan bakunya dari petrokimia,
Taruna menambahkan industri farmasi perlu bertahan agar pasokan obat tetap tersedia. Hal ini membuat beberapa produsen kemungkinan melakukan kenaikan harga terbatas.
Langkah pemerintah meredam kenaikan
Pemerintah memberi sejumlah kemudahan untuk meredam tekanan biaya bagi produsen. Langkah yang disebutkan termasuk perubahan kemasan produk dan penggantian sumber pasokan dari negara lain yang lebih terjangkau.
- Memfasilitasi perubahan kemasan untuk efisiensi produksi.
- Mendorong diversifikasi sumber bahan baku dari negara lain.
- Memberikan kemudahan administratif agar proses adaptasi terlaksana cepat.
Tentu industri farmasi kita supaya bisa survive tentu akan menaikkan, tapi kita dari pemerintah kita berharap kenaikannya jangan terlalu tinggi. Nah, oleh karena itu dari pemerintah memberikan berupa kemudahan-kemudahan,
Implikasi dan prospek
Langkah pemerintah diharap menahan kenaikan harga obat agar tidak ekstrem. Namun kemampuan menstabilkan harga juga bergantung pada dinamika pasar global dan fluktuasi mata uang.
Ke depan, pemerintah dan pelaku industri farmasi perlu terus memantau rantai pasok bahan baku. Upaya diversifikasi dan efisiensi produksi menjadi kunci agar ketersediaan obat terjaga tanpa membebani masyarakat.
Berita Terkait
BPOM Dorong Ketahanan Obat dan Ekonomi lewat Pekan Jamu 2026
BPOM lewat Pekan Jamu 2026 dorong ketahanan obat dan ekonomi dengan sosialisasi, riset, dan kolaborasi ABG u...
Work-Life Balance: Cara Menjaga Keseimbangan Sehari-hari
Pahami konsep work-life balance dan praktik mudah untuk membagi waktu antara pekerjaan dan kehidupan pribadi...
Kemenkes Waspadai WNI Pulang dari Kongo dan Uganda terkait Ebola
Kemenkes minta WNI yang baru kembali dari Kongo dan Uganda segera periksa diri jika demam atau perdarahan da...
Kemenkes Perketat Pengawasan Ebola di Bandara Soetta
Kemenkes perketat pengawasan di Bandara Soetta sejak 31 Mei 2026 usai WHO tetapkan darurat Ebola di Kongo; s...
Sejarah dan Makna Hari Tanpa Tembakau Sedunia 31 Mei
Hari Tanpa Tembakau Sedunia tiap 31 Mei mendorong perokok berpuasa 24 jam; inisiatif WHO ini bertujuan menek...
WHO Puji PP 28/2024, Indonesia Tingkatkan Proteksi dari Rokok
WHO memuji pengesahan PP 28/2024 yang menaikkan usia beli jadi 21 tahun dan melarang penjualan per batang un...