Diabetes Tak Terdeteksi, Ancaman Diam bagi Masyarakat
Sekitar 73 persen penderita diabetes di Indonesia tidak menyadari kondisinya, sehingga banyak kasus baru terdeteksi pada fase lanjut. Data menunjukkan ada sekitar 20 juta orang dengan diabetes saat ini, dan angka ini diproyeksikan melebihi 30 juta pada 2045. Kondisi ini mendorong kekhawatiran terhadap kemampuan deteksi dini dan penanganan penyakit tidak menular di tanah air.
Sebaran dan proyeksi kasus
Survei Kesehatan Indonesia memperkirakan satu dari sepuluh warga kini hidup dengan diabetes. Angka tidak terdiagnosis yang tinggi memperburuk beban layanan kesehatan. Para ahli menilai tren ini berpotensi meningkatkan angka komplikasi dan kematian jika tidak ada intervensi cepat.
Penyebab utama ketidaksadaran
Guru Besar Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia, Em Yunir, menegaskan tingginya kasus yang tidak terdiagnosis merupakan tantangan besar bagi sistem kesehatan. Menurutnya, banyak pasien baru mengetahui saat berobat untuk penyakit lain atau ketika masuk kondisi gawat darurat.
Yang bersangkutan tidak sadar dia diabetes, hingga akhirnya terdeteksi saat berobat penyakit lain atau masuk kondisi gawat darurat,
Humas Ikatan Dokter Indonesia, Makky Zamzami, menambahkan bahwa proses penyakit yang kronis dan tidak menimbulkan keluhan berat sejak awal membuat penderita sering terlambat menyadari gejala.
Penyakit ini tidak terasa, prosesnya kronis, sehingga sering terlambat diketahui,
Gejala yang sering diabaikan
Meski terasa ringan, gejala diabetes sebenarnya ada dan kerap diabaikan. Rendahnya kesadaran publik terhadap tanda-tanda awal menjadi faktor utama tingginya angka tidak terdiagnosis.
- Sering merasakan haus berlebihan
- Rasa lapar yang tidak biasa
- Frekuensi buang air kecil meningkat
Makky menyebutkan bahwa sebagian orang juga tidak menyadari konsumsi gula berlebih tersembunyi dalam makanan sehari-hari, seperti sambal dan sayur yang sering ditambahkan gula.
Masak sambal dan sayur saja juga ditambah gula, dan itu sering tidak disadari meningkatkan konsumsi gula,
Faktor risiko dan pencegahan
Faktor keturunan berperan signifikan. Jika kedua orang tua menderita diabetes, risiko anak dapat mencapai 70–80 persen. Selain genetika, pola hidup tidak sehat memperbesar kemungkinan seseorang terkena penyakit ini.
Langkah pencegahan yang direkomendasikan meliputi pengaturan pola makan, aktivitas fisik teratur, serta pemeriksaan kesehatan berkala untuk deteksi dini. Upaya edukasi publik dinilai penting untuk meningkatkan kesadaran dan mengurangi angka kasus tidak terdiagnosis.
Dengan meningkatnya prevalensi, penguatan skrining dan kampanye perilaku sehat menjadi kunci agar penyakit ini tidak lagi menjadi ancaman yang terlambat terungkap.
Editor gaya hidup yang menulis tentang tren, kesehatan, perjalanan, dan inspirasi kehidupan modern.
Berita Terkait
Mengenal Ikan Sidat: Omega-3 Tinggi, Potensi Pangan dan Ekonomi
Ikan sidat kaya Omega-3 (DHA & EPA) dan nutrisi lain, berpotensi jadi sumber pangan bergizi sekaligus komodi...
Paparan Panas Ancaman Kulit: Wardah Perkenalkan Sunscreen dengan Heat Defense
Wardah perkenalkan sunscreen dengan teknologi Heat Defense pada acara di Jakarta, 3 Oktober 2026, untuk lind...
Hari Hewan Sedunia: 5 Penyakit Zoonosis yang Perlu Diwaspadai
Pada Hari Hewan Sedunia (4 Okt), kenali 5 penyakit zoonosis utama, cara penularan, dan langkah pencegahannya...
Dinkes Jabar: Influenza Tipe A Mudah Menular dalam Keluarga
Dinkes Jawa Barat ingatkan influenza tipe A mudah menular di keluarga; isolasi mandiri dan pakai masker pent...
Nakes Tangerang Inspeksi Jajanan Sekolah untuk Cegah Pangan Tak Aman
Nakes Tangerang inspeksi jajanan sekolah untuk memastikan kebersihan, keamanan pangan, dan mendukung tumbuh...
Tangerang Waspadai Influenza Tipe A: Dinkes Imbau Orang Tua Waspada
Dinkes Kota Tangerang imbau orang tua waspada terhadap influenza tipe A; Kabupaten Tangerang melaporkan stat...